Back to top

Strike the Blood v7 1-8

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

CHAPTER 1: FAIRY’S COFFIN

8

Bagian dalam reruntuhan yang remang-remang terkubur dalam kabut tebal, asap senapan, dan pecahan es—sisa-sisa rentetan tembakan para zombie. Tentunya, tubuh tak bernyawa dari gadis yang terperangkap dalam es, dihujani dengan peluru yang tak terhitung banyaknya, telah terkoyak-koyak. Walau gadis itu benar-benar Leluhur Keempat, dia tidak bisa bangkit lagi.

Tentu saja, sang Pangeran Maut, Golan Hazaroff, tidak percaya Leluhur Keempat bisa benar-benar ada, tapi dia tidak peduli apakah itu palsu. Satu-satunya hal yang penting adalah cerita bahwa Pangeran Maut telah menghancurkan Leluhur Keempat, Vampir Perkasa di Dunia. Kenyataan bahwa Liana Caruana telah melindunginya hanya akan menambah kredibilitas rumor itu. Sebagai akibatnya, nama kelompok teroris Black Death Emperor Front akan mendapatkan prestise yang lebih besar.

Padahal, harga yang dibayarkan untuk itu sama sekali tidak kecil—

Menyeka darah dari sudut mulutnya, Hazaroff bergumam, “Sudah selesai...”

Dia telah membakar bekas luka dari sisinya ke punggungnya berkat luka yang masih baru dari pertarungannya dengan Gajou Akatsuki. Meskipun hanya manusia biasa, dia telah menyebabkan Hazaroff gangguan besar dan bahkan mendaratkan peluru mantra padanya.

Menjalani bestialisasi suci selagi terluka parah telah mencukur cukup banyak dari rentang hidup Hazaroff. Pertarungan dengan Liana Caruana jauh dari kemenangan luar biasa di pihaknya. Memang, jika dia tidak menggunakan zombie, dia akan menjadi orang yang terpojok. Tapi tak ada yang mengubah fakta bahwa Hazaroff menang. Dia merasakan kegembiraan yang belum pernah terjadi sebelumnya, bersenang-senang karena telah mengalahkan musuh yang kuat terlepas dari kesulitannya.

Tetapi seolah-olah menuangkan air dingin pada kepuasan Hazaroff, suara samar bergema dari dalam kabut, suara seorang gadis Timur mengenakan pakaian miko.

“Kojou! Kojou...Buka matamu, Kojou! Tolong, aku mohon...!”

Dia menempel pada tubuh bocah lelaki itu, tampaknya kakak laki-lakinya, mati-matian berusaha menyelamatkannya.

Tidak peduli bagaimana dia mencoba, hasilnya akan jelas bagi siapapun. Tubuh remaja itu telah terkena rentetan peluru dan benar-benar basah oleh darah. Tembakan yang tak terhitung jumlahnya telah merobek dadanya. Bahkan vampir dengan kemampuan regeneratif tinggi kemungkinan tidak bisa diselamatkan dengan luka seperti itu, apalagi manusia biasa.

Namun, kelangsungan hidup adiknya itu mengejutkannya. Dia yakin rentetan tembakan telah menghabisi keduanya—

Hazaroff memandangi bocah Timur yang sudah berakhir, menghembuskan napas penuh kekaguman.

“Begitu...Kau melindungi adikmu. Aku memuji semangatmu yang kuat, bocah.”

Sepersekian detik sebelum dia terkena tembakan serentak, dia kemungkinan akan mendorong adiknya dengan sekuat tenaga ke sudut ruang batu jauh dari area target. Lalu dia bertindak sebagai umpan, menarik tembakan mayat hidup.

“Rencana yang gegabah, tapi aku menerima bahwa kelakuanmu berani. Tapi, tubuhmu hanyalah manusia rapuh. Sangat disayangkan...,” katanya dengan nada kasihan.

Lalu dia berubah menjadi makhluk suci raksasa sekali lagi.

Itu mengganggunya bahwa tubuh remaja itu kurang lebih utuh terlepas dari hujan peluru yang banyak tersebut. Jika demikian, mungkin saja tubuh Leluhur Keempat sama-sama utuh. Walau kesempatan itu kecil, kehati-hatian menuntut dia membakar segalanya, untuk berjaga-jaga.

Hazaroff tertawa kejam dan mengumumkan kepada gadis miko itu, “—Tak usah takut. Kali ini aku akan mengeluarkanmu dari kesengsaraanmu!”

Energi iblis yang luas di dalam beast-man hitam legam terkondensasi menjadi semburan api makhluk yang kuat dan suci yang dengannya ia bermaksud untuk memusnahkan segala yang ada di reruntuhan. Tapi tepat sebelum dia melepaskan serangannya, rasa was-was samar muncul di benaknya.

Kenapa bocah remaja itu berdiri tepat di depan peti mati?

Dia yakin bocah itu tahu mayat hidup itu membidik peti mati. Tak perlu mengekspos dirinya ke tembakan seperti itu, bahkan untuk melindungi adiknya.

Mungkinkah dia mencoba menyelamatkan Leluhur Keempat—? Tidak, itu tidak mungkin. Melindungi adiknya mengambil semua yang dimilikinya. Tak ada tempat untuk hal lain. Tidak, dia telah mencoba menyelamatkan adiknya, sampai mengorbankan dirinya sendiri.

Lalu, mengapa dia rela memilih kematian?

Walau adik perempuannya selamat dari tembakan awal, tak ada jaminan bahwa dia akan melepaskannya. Wajar baginya untuk berharap bahwa seseorang akan menghabisinya, seperti yang dilakukan Hazaroff saat itu juga.

Jika dia benar-benar ingin menyelamatkan adik perempuannya, dia sendiri harus selamat. Liana Caruana tak ada lagi. Tak ada orang yang melindunginya kecuali bocah lelaki itu.

Tapi bagaimana jika dia tahu bahwa ada makhluk yang bisa menyelamatkan adik perempuannya?

Hazaroff terus mengisi energi iblisnya ketika dia tanpa sadar berkata, “Leluhur Keempat...! Di mana sisa-sisa Leluhur Keempat...?!”
setiakun
Hazaroff memerintahkan bawahannya yang masih hidup untuk mencari. Tubuh Leluhur Keempat, gadis yang seharusnya terperangkap dalam peti mati, tidak terlihat.

Suara Pangeran Maut bergetar. “Bocah...kau tidak mungkin memiliki...?!”

Kembali ketika Beast Vassals milik Liana telah mengamuk, peti es telah pecah, dan sisa-sisa gadis itu telah terlihat. Jika dia adalah Leluhur Keempat yang asli, dagingnya tidak berubah, dikatakan sebagai kutukan dari para dewa sendiri. Tidak heran jika satu dorongan kecil sudah cukup untuk menghidupkannya kembali. Satu dorongan kecil—

Misalnya, pengorbanan manusia menawarkan darahnya sendiri?

“Kau merencanakan ini?! Untuk memiliki tembakan yang menumpahkan darah dan dagingmu pada Leluhur Keempat?!”

Lantas Hazaroff pun menyadari bahwa gadis yang terperangkap di dalam balok es itu tidak pergi. Dia hanya tenggelam — dalam genangan darah di bawah tubuh bocah yang hancur!

Dia pikir dia mendengar bocah yang seharusnya mati itu memanggil nama seseorang.

“Av...ro...ra......”

Saat berikutnya, dinginnya es tiba-tiba bertiup, mengisi setiap sudut interior reruntuhan.

Wajah Hazaroff berkerut kaget.

“Apa...iniiii...?!”

Gadis berlumuran darah bangkit, tampak menyokong tubuh bocah yang terluka itu. Dia adalah gadis seperti peri yang hanya mengenakan kain tipis dan polos.

Rambutnya berkilau bak pelangi dan mengepul bak api, dan ketika dia membuka matanya, mereka melepaskan cahaya pucat dan menyala-nyala.

Bermandikan hawa dingin yang berasal dari gadis itu, mayat hidup membeku, hancur satu demi satu. Bahkan Hazaroff yang telah berubah pun takut atas energi iblis besar ini.

“Tak ada gunanya. Walau kau adalah Leluhur Keempat yang asli, kau baru saja terbangun. Kau bukan lawanku!” Hazaroff meraung.

Dia melepaskan semua energi iblis yang dia miliki dalam napas berapi-api dari kaliber tertinggi — api iblis yang sangat kental yang bahkan mampu memusnahkan Beast Vassals maupun vampir dalam satu serangan.

Namun, gadis bermata berapi itu dengan mudah menangkis inferno hitam mematikan itu.

Di belakangnya, bayangan raksasa bangkit, tembus seperti gletser. Setengah bagian atas menyerupai wanita manusia, sedangkan bagian bawah menyerupai ikan. Sayap tumbuh dari punggungnya, dengan ujungnya berakhir dengan cakar tajam, seperti cakar. Dia tampak seperti putri duyung es, atau mungkin siren—

Itu adalah makhluk yang dipanggil dari dunia yang berbeda, goyah seperti fatamorgana...

“B...Beast Vassal...?!” Hazaroff berseru.

Budak yang dipanggil gadis itu benar-benar memusnahkan semburan api hitamnya. Energi iblis yang tersisa lantas menjadi semburan es yang liar, langsung membekukan Hazaroff yang berubah secara suci. Itu membekukannya di bawah nol mutlak, negatif pada skala Kelvin, di mana materi tidak dapat mempertahankan dirinya sebagai materi—

Dia mengerang, “Mus...tahil... kekuatan luar biasa seperti itu...tak mungkin...”

Dia tak bisa mempertahankan kesadarannya lagi.

Daging dan darahnya benar-benar memudar tanpa jejak. Serta tanda apapun yang pernah ada.

Di dalam ruang batu yang runtuh, Nagisa Akatsuki mendesis dengan lemah, “Kojou...”

Lalu semuanya menjadi putih—