End of Project Work

21 Februari, 2019

World Reformation 96

on  
In  

hanya di setiablog
Setelah itu, malam datang.

Aku, yang diberikan penginapan di Gereja Bumi selama satu malam, sedang tidur di kamar tamu Grand Crimson Palace.

Dulu, aku telah tinggal di ruang tamu kota perdagangan dan tamasya Hydra Ville, dan yang ini lebih sederhana dari yang itu, tapi itu membuatnya lebih mudah untuk bersantai dan tidur.

Tapi aku belum bisa tidur.

Aku masih memiliki sesuatu yang harus kulakukan.

Aku pertama-tama menunggu waktu berpura-pura seolah-olah aku sudah tidur dan menunggu sekitarnya menjadi tenang.

“...Kurasa ini sudah cukup.”

Kehadiran yang mengintip dari kamar tetangga hilang.

Mungkin ini adalah pengintai gereja. Mungkin itu ada hubungannya dengan sang Pendiri yang jelas-jelas memiliki sikap ketika kami berada di tengah-tengah percakapan kami?

Tapi karena mereka segera menghentikan pengawasan mereka begitu mereka mengira aku tertidur mungkin berarti mereka tidak berpikir aku makhluk yang berbahaya.

Apakah aku memegang semacam kepentingan penting bagi mereka?

Aku merasa terganggu olehnya, tapi saat ini aku memiliki sesuatu yang ingin kuselesaikan terlebih dahulu.

Aku melompat keluar dari jendela ruang tamu dan...

“[Dark Matter, Set]”

Aku menggunakan gaya tolak materi gelap dan terbang.

Mengulangi ini lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi.

Tempat yang kutuju adalah...pohon besar yang mewakili Ishtar Blaze, juga disebut ‘Great Pillar-sama’, dan aku naik, sampai aku mencapai puncaknya.

Naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik...

“………….”

Apa aku masih belum sampai?

Aku meremehkan ‘Great Pillar-sama’ ...

Aku mengerti bahwa itu adalah pohon yang amat sangat tinggi bahkan ketika melihat dari jauh, tapi aku tidak memahaminya sama sekali dalam hal perasaan.

Setelah waktu yang cukup banyak untuk menghitung hingga 1.000 dengan waktu luang, aku akhirnya mencapai daun yang bisa dianggap puncak.

Tapi yah, ini adalah pohon bukan gunung, jadi meskipun aku mengatakan puncak, hanya ada daun di mana-mana aku melihat sekalipun.

Itu tidak bisa diandalkan sebagai pijakan, jadi aku menggunakan materi gelap untuk melayang di tempat, dan, aku mencari di sekitar dengan hati-hati.

Apa yang kucari?

Aku sudah merasakannya sejak lama. Tatapan yang telah mengintip ke arahku tanpa istirahat. Bahkan pada saat aku sedang bercakap-cakap dengan Pendiri di kantor pusat Gereja Bumi, pada saat aku memasuki Ishtar Blaze, pada saat aku menyebabkan keributan dengan Obaa-san dan Golem di pertanian; di saat-saat itu, aku merasakan tatapan.

Dan ketika aku memastikan sosok pohon besar ini di pegunungan yang jauh, aku merasakan tatapan ini seolah-olah sedang memeriksaku dari jauh.

Pohon besar ini disebut ‘Great Pillar-sama’ oleh orang-orang. Kenyataannya yaitu ini adalah Monster Ibu Bumi, Grandma Wood.

Tentu saja, akarnya mesti berbeda dengan pohon lain.

Ukuran yang luar biasa tak perlu dikatakan lagi. Ada juga poin yang bisa membuat batu bata bernama Life Block ini memiliki kehidupan, tapi...

Seharusnya ada hal lain juga.

“Kau bisa mendengarku, kan?! Keluar!!”

Aku berteriak di puncak pohon besar.

Aku mengambil banyak waktu untuk mencapai sini dari tanah, jadi meskipun aku berteriak sangat keras, orang-orang di bawah tidak akan dapat mendengarku, itu sebabnya, tidak perlu menahan diri.

“Aku menyadarinya, tahu kan! Kau mengawasiku, kan?! Aku merasakan tatapan saat pohon ini masuk ke pandanganku!!”

Benar, benda yang tidak ada bedanya selain ukurannya yang besar ini, sebenarnya bukan pohon.

Itu adalah monster dalam bentuk pohon.

Sama seperti pohon yang tumbuh di dunia ini, tidak dapat berbicara.

Yang paling bisa dilakukan adalah mengamati orang yang telah datang ke wilayahnya sendiri dengan tujuan untuk menghancurkannya.

“Benar kan?! Apa aku salah?!”

Dan kemudian, terjadi perubahan.

Dalam pijakan ini yang telah menjadi satu selimut hijau...warna yang berbeda muncul.

Itu seperti warna wisteria, warna merah muda terang. Bagaimanapun juga, itu adalah warna yang jelas, namun, juga warna yang samar dan cepat berlalu.

Itu warna yang dimilikinya...kuncup bunga itu.

“Kuncup bunga?!”

Meskipun aku mengatakan bunga, itu berasal dari pohon raksasa. Bunga yang tumbuh darinya juga besar, dan kuncupnya sudah melebihi tinggiku.

“Atau lebih tepatnya, pohon ini dapat menumbuhkan bunga?!”

Lalu, ujung tunas perlahan membuka dan menyebar ke beberapa kelopak yang terpisah. Dan dari dalamnya, yang keluar bukanlah benang sari atau putik, itu adalah wanita.

Dia bukan manusia; Aku bisa melihatnya dengan lirikan.

Dia memiliki sosok yang sangat mirip dengan seorang wanita manusia, tetapi sejak awal, manusia normal tidak keluar dari bunga. Juga, di permukaan tubuhnya, ada hal-hal seperti wisteria dan buah persik yang berwarna cerah namun sepintas.

Dan, aku sendiri mengerti sesuatu saat aku melihatnya.

“...Kau...Mantle?”

Ibu Bumi Mantle.

Satu dari lima Dewa Pencipta, dan Dewi yang memerintah atas bumi.

Sebagai penjelmaan Entropy sang Dewa Kegelapan, aku tahu.

Aku tidak tahu untuk alasan apa dia muncul di dunia permukaan dengan tubuh, aku sangat terkejut aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Dan kemudian, setelah beberapa saat hening...

“………..Maaf.”

“Eh?”

Tiba-tiba dia meminta maaf.

“Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf , maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf , Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf , Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf , Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, tolong maafkan aku!!!”

Wanita besar itu berteriak minta maaf sambil menangis?!

“Uhah! Ada apa dengan ini?!”

“Tolong maafkan akuuuuu!! Aku akan lakukan apapun!”

Adalah apa yang dia katakan saat dia menempel padaku.

Selain itu, Mantle ini...meskipun dia dalam bentuk manusia, dia sangat besar sehingga aku tidak bisa menganggapnya sebagai manusia.

Dia keluar dari bunga besar banget yang keluar dari pohon besar banget, jadi wanita yang keluar darinya juga besar banget.

Dia dengan mudah melampaui tinggiku.

Cobalah untuk meminta seseorang seperti itu melekat padamu. Ini seperti memiliki seekor anjing besar yang mendesakmu...tapi itu tidak cukup untuk menggambarkan hal ini. Itu seperti makhluk raksasa, seperti singa atau harimau yang melompat ke arahmu.

Melawan makhluk yang memiliki kekuatan tertentu, mengancam jiwa untuk mencoba bermain-main dengannya.

“Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf , maaaaaaaaaaafffff!!!”

“Sudah kubilang, tenang dulu!!!”

Dengan semua kebingungan, pelepasan materi gelap terputus. Dan karena itu, gaya tolak yang diciptakannya juga hilang dan...

“Gyaaa!!”

“Hyaaa!”

Mantle dan aku sama-sama jatuh dan memasuki daun pohon besar yang tumbuh terlalu besar.

FP: setia's blog

Share: