Back to top

Campione v6 4-2

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
Bagian 2

Dalam persiapan untuk pertemuan dengan raja dewata, Hikari mengganti pakaian menjadi pakaian miko.

Dipimpin oleh Kuhoudzuka ke bangunan Shamusho, kakaknya, Yuri juga mengikuti di sisinya.

Meskipun Godou ditawari ruang tunggu, dia menolak karena dia tidak ingin membuat masalah untuk orang lain, dan menunggu dengan Amakasu di sekitar Shamusho.

"...Keluarga Kuhoudzuka ini hanya ada sedikit orang."

Godou menunjukkan apa yang dia perhatikan. Selain Kuhoudzuka, tidak ada orang lain.

Saat ini, Godou dan Amakasu adalah satu-satunya yang hadir.

"Karena itu adalah hari ketika kudus dari raja dewata kera akan dibuka, kemungkinan besar semua orang diberhentikan selain tuan muda yang bertanggung jawab. Cara dia menangani hal-hal yang tepat untuk membuka segel suci yang belum disentuh selama satu abad."

"Lagipula selain itu, mengapa mereka menyembah dewa kera di sini?"

Bukankah seharusnya mereka menyembah dewa yang lebih menguntungkan?

Seakan mendengar benak Godou, Amakasu tersenyum sedikit kecut dan menggaruk kepalanya.

"Kamu bilang dia hanya seekor kera, tapi dia sebenarnya adalah makhluk dewata yang sangat berguna. Tidak terduga, bukan?"

"Menyembuhkan penyakit kuda dan melindungi naga... Itulah yang kudengar barusan."

"Oh, jadi kamu sudah tahu. Selain itu, ia memiliki atribut penting lainnya, seperti menaklukkan kejahatan. Kyoto adalah tempat yang dihuni oleh kera. Tempat ini terletak di posisi Gen terhubung terhadap Kyoto – dengan kata lain, timur laut. Di onmyoudou, timur laut dianggap sebagai gerbang setan, yaitu arah dari mana setan dan roh jahat menyerbu."

Nah kan, timur laut – lawan Gen adalah posisi Shen di barat daya, itulah sebabnya mengapa kera digunakan untuk menaklukkan kejahatan, begitulah cara Amakasu menjelaskan, entah kenapa dengan senang hati.

"Menggunakan kera untuk membentuk formasi sebagai penjaga gerbang setan, adalah salah satu teknik sihir yang paling membanggakan dari para biksu Tendai."

"Tendai...? Tendai dari Gunung Hiei Enryaku-ji?"

"Ya, omong-omong, Biksu Agung Tenkai yang merancang Nikkou Toushouguu, awalnya magang di Tendai."

Gunung Hiei terletak di timur laut Kyoto – posisi gerbang setan. Amakasu menambahkan.

Biksu Agung Tenkai. Godou telah mendengar nama ini sebelumnya, yang dikenal sebagai Tokugawa Ieyasu, pemberi saran dan gagasan, dia adalah seorang bhikkhu dengan kebijaksanaan agung. Dia melayani sampai Shogun ketiga, Iemitsu.

"Perangkat keagamaan yang dikenal sebagai Nikkou Toushouguu dibangun untuk memuliakan Lord Tokugawa Ieyasu sebagai dewa pelindung negara. Adapun Saitenguu yang dibangun secara rahasia di sini, itu adalah tempat suci untuk menyembah pembunuh naga dari kejahatan, rada dewata kera."

"Kenapa mereka memilih tempat ini dengan sengaja...?"

"Karena terhubung terhadap pusat supranatural Jepang, ini adalah posisi dari gerbang setan, jadi pemujaan dewa pelindung negara Lord Ieyasu, serta dewa kera penakluk kejahatan, keduanya didirikan di sini."

Godou tertarik. Apa pusat supranatural itu?

"Kamu akan mengerti kalau kamu melihat peta. Simbol Jepang, tanah suci dengan energi tertinggi – adalah puncak suci Gunung Fuji. Nikkou di timur laut terhubung dengan itu. Ya, menurut catatan, raja dewata kera telah keluar dari Saitenguu beberapa kali."

"Membiarkan [Dewa Sesat] berlari di luar? Bukankah itu sangat berbahaya!"

"Kamu benar. Seratus tahun yang lalu, ketika raja dewata terakhir dibebaskan, seluruh Saitenguu dan personel terkait lenyap, dan kuil saat ini dibangun kembali setelah insiden itu."

Siapa yang tahu ada kisah belakang semacam ini.

Godou merasa semakin khawatir. Apakah ini benar-benar baik untuk Hikari?

"Bagaimana [Dewa Sesat] itu pergi jika disegel dengan begitu banyak usaha? Juga, mengapa dewa yang melarikan diri kembali dengan sendirinya?"

"Jika kamu ingin penjelasannya, maka aku harus mulai menceritakan kisah tentang dewa, hal yang paling dibenci Kusanagi."

Kalau dipikir-pikir, meskipun Amakasu menjelaskan tentang agama dan sihir, dia tidak menjelaskan secara detail tentang dewa. Apa dia memperhatikan reaksiku? Itulah mengapa dia lalu melanjutkan dan memberikan penjelasan berikut:

"Alasan mengapa dia kembali, adalah karena mantra sihir yang disebutkan sebelumnya yang membutuhkan pekerjaan seumur hidup. Kekuatan sihir yang dikumpulkan dari situs-situs suci di seluruh Jepang diubah menjadi kekuatan suci Toushou Daigongen, dan kemudian digunakan untuk menahan raja dewata kera. Bahkan ketika dia keluar untuk menyebabkan kekacauan, dia harus kembali dan menerima disegel."

"...Bisa melakukan hal begini!?"

Godou merasa terkejut. Tidak peduli berapa banyak penyihir manusia yang berkumpul, [Dewa Sesat] yang sangat kuat tidak akan pernah bisa dikalahkan. Ini seharusnya menjadi kebenaran yang tidak dapat diubah.

"Hal semacam ini mustahil, jadi bagaimana sebenarnya itu dilakukan? Kaoru-san dan aku sangat percaya, bahwa persiapan ini pasti merupakan puncak dari kebijaksanaan bijak kuno."

Orang bijak kuno – dengan kata lain, penerus saat ini dari penduduk di Alam Baka.

Saat mereka mengobrol, Yuri kembali tapi Hikari dan Kuhoudzuka tidak terlihat di mana pun. Dia juga telah berganti ke pakaian miko.

"Mariya, kenapa kamu memakai baju miko? Dan dimana adikmu?"

"Hikari sedang berbicara dengan Mikihiko-san sekarang. Godou-san, bisakah kamu mengajakku untuk melihat Raja Dewata Kera-sama?"

Yuri memohon dengan ekspresi yang tegas.

"Kamu mau ikut juga? Tidak mungkin, bertemu dewa itu terlalu berbahaya."

"Justru karena itu berbahaya, jika terjadi sesuatu, Godou-san pasti akan melindungi Hikari, kan? Dalam hal ini, aku harus ada di sana juga."

Menyadari niat Godou untuk menjadi sukarelawan untuk pergi, dan karena kemampuannya untuk mendapatkan pengetahuan tentang dewa melalui penerawangan roh, Yuri menyimpulkan bahwa kehadirannya akan menjadi faktor penentu penting jika pertempuran melawan dewa ini pecah.

"Aku tidak bisa membiarkan diriku bersembunyi di tempat yang aman mengetahui bahwa Godou-san mengambil risiko demi adik perempuanku. Aku mohon dengan sangat."

Yuri memohon dengan tulus. Sejujurnya, Godou sangat berterima kasih atas perhatiannya untuknya, tapi jika dia harus menerima pengetahuan dari Hime-Miko yang cantik, maka itu harus melalui tingkah laku semacam itu–

Melihat bibir ceri manis Yuri, Godou mengingat kejadian itu.

Mungkin memikirkan hal yang sama, Yuri juga mulai bertindak canggung, tampak sangat malu.

"...J-Jika sesuatu...seperti itu terjadi, aku benar-benar tidak keberatan..."

Dikombinasikan dengan gumamannya yang sangat pelan, Godou merasakan kejutan besar yang mematikan otaknya dan menjadi terbisu. Dia tidak bisa menahannya, berpikir dia akan mengatakan sesuatu seperti itu.

"–Memang benar ada resiko, tapi membawa Yuri-san akan memberi banyak kemudahan. Dengan mempertimbangkan tujuan dari usaha ini, kamu tidak perlu bertindak secara terpisah."

Terjebak di dunianya sendiri, mereka berdua tiba-tiba dibawa kembali oleh suara yang tenang. Godou cukup terkejut, dan Yuri kemungkinan besar juga sama. Benar, pria itu masih di sini!

Ketika mereka berdua berpaling untuk melihat, pemuda sederhana itu menyeringai.

"Meskipun sedikit menyedihkan bahwa keberadaanku terlupakan, senang melihat sejauh mana perasaan kalian telah berkembang. Kembali ke pokok pembicaraan, Godou-san bagaimana menurutmu? Maukah kamu menerima saranku?"

"K-Kalau begitu ayo lakukan! T-Tolong, aku dalam perhatianmu, Mariya!"

"Ya benar. Kalau begitu aku akan bergantung padamu, aku tidak layak, mohon jagalah aku dengan baik."

Karena terlalu gelisah, mereka berdua mulai berbicara dengan tidak jelas.

"Maaf sudah membuat semuanya menunggu! ...Eh? Apa terjadi sesuatu?"

Kembalinya Hikari dan Kuhoudzuka Mikihiko yang sudah lama ditunggu-tunggu menghilangkan suasana canggung.

Pada saat ini, Amakasu memberi hormat dengan matanya dan pergi. Meskipun dia adalah anggota Komite Kompilasi Sejarah, bagi Saitenguu, dia hanyalah orang luar, maka dengan sangat bijaksana dia pergi.

Tanpa diduga, Kuhoudzuka dengan senang hati menyetujui penambahan peserta lain.

Dengan demikian Godou dan Hikari, serta Yuri, dibawa ke kedalaman Saitenguu.

"–Aneh? Ada apa dengan pedang ini?"

Hikari membawa sebilah kodachi dalam pelukannya. Sarung dan gagangnya terbuat dari kayu putih, dan tampak bagai pedang berharga dengan sejarah yang cukup besar.

"Ah, namanya adalah Zanryuutou. Untuk bertemu Raja Dewata-sama, perlu untuk membawanya."

"Seperti raja dewata, pedang ini adalah pedang berharga yang melindungi Saitenguu."

Kuhoudzuka menambahkan.

"Kalau dipikir-pikir, ada juga kuil yang memuliakan pedang sebagai benda yang dirasuki ilahi."

Maka tidak ada yang aneh. Merasa bahwa itu adalah sesuatu yang dia pahami, Godou terus berjalan. Mereka dibawa ke kuil kuno yang tidak terlalu besar atau glamor.

Seperti kuil leluhur yang sangat sederhana dan biasa yang sering terlihat di sisi jalan desa.

Pepohonan pendek tumbuh di daerah itu, mungkin pohon persik.

Kuil dan pohon-pohon persik sekitarnya tertutup oleh shimenawa, memberikan prana yang luar biasa. Tali itu sendiri mungkin adalah penghalang.

"Ini adalah kuil raja dewata kera. Jadi, Hikari-san, tolong lakukan seperti yang kujelaskan tadi."

Kuhoudzuka melangkah mundur, meninggalkan shimenawa di depan mereka.

Godou mencuri pandang ke bagian dalam kuil. Tidak ada yang bisa dilihat. Meskipun jendela-jendela yang dilapisi dalam kondisi buruk, interiornya benar-benar gelap gulita.

"K-Kuil itu membutuhkan Hime-Miko untuk melemahkan segel [Penjaga Kuda], lalu itu bisa dibuka."

Suara Hikari gemetar.

Hime-Miko magang yang tanpa malu-malu mulai gugup. Karena mereka akan bertemu [Dewa Sesat], kegugupan itu wajar saja. Kalau dipikir-pikir, apa arti [Penjaga Kuda]?

Di bawah tatapan Godou dan kakak perempuannya, Hikari meletakkan tangannya di atas shimenawa.

Tali jalinan jerami yang kasar jatuh ke tanah, dan prana sekitarnya menghilang.

"Luar biasa, jadi tempat suci buka mulai sekarang?"

"Tidaklah, ini adalah penghalang yang menyegel dewa. Itu tidak bisa dihilangkan sama sekali, dan begitu efeknya habis, itu akan secara otomatis memulihkan dirinya sendiri."

Yuri menjelaskan dari sampingnya. Hanya sementara prana yang kuat, di sepanjang prinsip yang sama, ada sedikit efek abadi pada Campione atau otoritas dewa.

"L-Lalu aku membukanya...!"

Hikari menyatakan dengan suara gemetar saat dia membuka pintu berlapis ke kuil.

Bagian dalamnya masih sangat gelap. Karena mereka sudah sampai sejauh ini, jadi tidak ada pilihan selain terus berjalan.

"Aku akan masuk lebih dulu. Mariya dan Hikari mengikutiku – Kuhoudzuka-san, permintaan maafku untuk membuat semua permintaan yang disengaja ini."

"Jangan sebutkan itu. Ini adalah kehormatanku untuk bisa membantu. Tolong awasi langkah Anda."

Kuhoudzuka menjawab dengan suara yang hampir monoton.

Dan kemudian terdiam. Tubuhnya juga tidak bergerak? Entah bagaimana dia merasa seperti jam yang sudah kehabisan baterai. Meskipun Godou merasa sosok pemuda itu cukup aneh, dia masih melangkah ke kuil dan membiarkan Mariya bersaudari mengikutinya.

Setelah berjalan dalam kegelapan, rasanya tanah telah menjadi keras dan padat bagai beton, dan secara tak terduga mudah untuk berjalan. Tapi jarak pandangnya tetap buruk, dan mereka tidak bisa melihat apapun di sekitar mereka. Itu sangat gelap.

Satu-satunya hal yang pasti, adalah kehadiran dua kakak-beradik yang mengikuti di belakangnya.

"Semuanya, tolong jangan berpisah, mari kita berpegangan tangan, sini, pegang aku."

"Y-Ya. Aku tahu!"

Yuri membalas seruan Godou.

Mengulurkan tangannya ke belakang, Godou mendapati dirinya memegang tangan yang lembut.

"Hikari, pegang tanganku. Benar, tidak masalah, tidak masalah."

Suara lembut kakak perempuan itu mengarahkan adik perempuannya.

Dengan kata lain, tangan yang Godou pegang adalah milik Yuri. Entah kenapa, Godou mendadak menyadari wajahnya menjadi panas, dan ada perasaan jantung berdetak kencang yang tak dapat dijelaskan. Mungkin Yuri juga merasakan hal yang sama.

Setiap kali dia menyadari sentuhan tangannya yang kecil dan lemah, Godou tidak bisa menghentikan pikirannya dari mengembara ke pikiran yang tidak perlu.

Setelah berjalan selama beberapa menit, atau mungkin sepuluh menit, rasa waktu ini benar-benar hilang.

"Godou-san... Sudahkah kamu menyadarinya?"

Yuri tiba-tiba bertanya serius.

Godou menegakkan punggungnya dan tersadar. Sepertinya dia memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan.

"Kita telah tiba di Alam Baka, wilayah yang kita masuki terakhir kali... Jalan di kuil Saitenguu, kemungkinan besar adalah koridor antara dunia nyata dan Alam Baka!"

"Onee-chan. Dengan Alam Baka maksudmu Alam Baka itu?"

"Ya, Batas antara Kefanaan dan Keabadian, kerajaan hampa antara dunia manusia dan alam suci. Dunia gap yang disebut Yomotsu Hirasaka."

Mendengarkan mereka, Godou ingin memegangi kepalanya dalam pelukannya dan berteriak.

"Penghalang menyegel dewa... Pada pemikiran lebih lanjut, ini mungkin terjadi. Tapi, Mariya kalian berdua tampak baik-baik saja. Apa tubuh kalian merasa tidak nyaman?"

Ingat pengalaman menyakitkan Erica, Godou menanyakannya.

Kesampingkan identitas Campione, manusia biasa tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan Alam Baka, kan?

"Berkat kekuatan yang diberikannya kepada kita, kurasa koridor ini memungkinkan kita manusia untuk terbiasa dengan Alam Baka. Itulah yang kurasakan."

Menggunakan penerawangan roh, Yuri menegaskannya.

Sepertinya ada maksud untuk berjalan lambat ini melalui kegelapan.

"...Tunggu sebentar, untuk kita berada di Alam Baka lagi, tidak bisakah kita menggunakan transfer seketika seperti terakhir kali?"

Dia ingat metode transfer yang dia lakukan saat upaya terakhir kali dan menderita banyak karena hal itu.

Kesampingkan Godou, Yuri dengan bakatnya dalam penerawangan roh mungkin bisa menyelesaikannya tanpa masalah.

Baik... Teleportasi mungkin tidak berarti ketika bertemu dengan raja dewata kera. Tapi jawaban Yuri negatif.

"Tidak, sepertinya tidak. Aku baru saja mencoba mengingat kembali pemandangan Alam Baka sebelumnya... Tapi tidak berhasil selama ini. Sepertinya tidak ada cara untuk berteleportasi di luar sini."

"Bagaimana situasinya?"

"Tempat ini terisolasi dari sisa Alam Baka, karena itu adalah kandang yang memenjarakan raja dewata."

Sekali lagi mendengar laporan Yuri yang penuh percaya diri, ini juga merupakan petunjuk yang diperoleh melalui penerawangan roh.

"Oke... Tapi aku benar-benar tidak ingin tinggal di tempat ini lama-lama."

Dalam sekejap dia menghela napas, pintu keluarnya muncul. Sekitar sepuluh meter jauhnya (jarak yang bisa dijangkau Godou), ada lubang persegi di mana cahaya masuk.

Mereka bertiga dengan cepat berjalan ke sana, bergandengan tangan.

Semua orang telah tiba dengan selamat, dan mereka meremas diri melalui lubang persegi panjang. Ada sebuah gubuk kecil yang tampak usang tanpa penduduk. Itu mungkin kandang, persis seperti yang mereka lihat barusan di Toushouguu.

Di luar ada matahari bersinar terang di bawah langit biru yang sangat menyegarkan.

Di kejauhan tampak struktur yang sangat megah. Sebuah bangunan besar... Tidak, harusnya disebut kota atau istana. Selain itu, itu bukan konstruksi gaya Jepang, tapi menyerupai istana Cina seperti Kota Terlarang. Ini adalah kandang di dalam wilayah istana.

Melihat pemandangan luar, Godou tiba-tiba menyadari perasaan halus di tangannya.

Dia masih memegang tangan sang Hime-Miko bahkan setelah Mariya bersaudari melepaskan diri. Membuat kontak mata dengan Yuri, mereka berdua tersipu dan dengan cepat memalingkan wajah mereka, segera melepaskan tangan mereka.

"...Ah, ada kera di sana. "

Tanpa memperhatikan tingkah laku kakak perempuannya dan Godou, Hikari menunjuk ke sudut kandang.

Di atas jerami ada monyet yang sedang bersantai.

Itu tidak terlihat seperti orang Jepang, karena wajahnya tidak merah dan bulunya sangat cerah. Tubuhnya, ditutupi dengan bulu emas yang mendekati warna oranye, panjangnya sekitar 80cm. Melihat rupa kera itu, Godou yakin.

Dia adalah [Dewa Sesat], karena tubuh dan hati Godou sudah memasuki keadaan siap tempur, itu adalah bukti terbaik.

"Selamat datang di istanaku, sudah lama sekali sejak ada tamu. Dan tak kusangka bahkan ada pembunuh dewa!"

Kera itu berbicara dengan suara yang jelas dan terang saat bangkit. Gerakannya sangat mirip manusia, seperti anak kecil gesit yang melompat dari tempat tidur.

Godou sudah berada di luar kenyataan bahwa monyet itu bisa berbicara, jadi dia dengan tenang bertanya.

"Jadi, kau adalah raja dewa monyet?"

"Itulah yang dilakukan orang-orang yang membungkamku di sini, memanggilku. Aku seharusnya memiliki julukan yang jauh lebih keren, tapi sekarang sedang disegel."

Di antara semua dewa yang pernah Godou temui, yang satu ini berkepribadian paling ramah. Tidak, itu tidak benar. Meskipun Godou tidak memiliki ingatan untuk bertemu dengan dewa yang sembrono seperti ini, dia masih merasa ada dewa yang mirip dengannya. Siapa itu? Saat kepalanya mulai sakit, Godou menyerah untuk saat ini.

"Sebenarnya, gadis yang lebih kecil di sini, telah menderita apakah akan menjadi miko-mu atau tidak, jadi hari ini aku membawanya ke sini hanya untuk melihat lingkungan."

"Oh benar juga. Setelah kau menyebutkannya, tidak ada miko yang datang untuk bermain belakangan ini."

"Bermain?"

"Ya. Berbagai miko yang datang untuk bermain denganku. Terkadang kita mengobrol atau bermain permainan seperti petak umpet atau Sugoroku. Aku suka hal-hal yang menyenangkan dan lincah oh, jadi jika mereka tahu bagaimana cara bernyanyi dan menari, aku memberi mereka peringkat yang lebih baik."

Tampaknya posisi yang kosong dari Saitenguu Hime-Miko, melibatkan menghabiskan waktu seperti seorang gembala. Tapi merawat kera bukannya domba.

Tidak, sebaliknya, itu harus digambarkan sebagai penangan kera.

"Maaf, bisakah itu cukup hanya bermain dengan Raja Dewata-sama? Kupikir itu adalah misi yang sangat penting yang hanya bisa kucapai, jadi aku merasa sangat pusing..."

Apa? Hikari benar-benar mengatakannya dengan keras.

Tidak ada satu pun tanda malu, lagipula, ini mungkin karena orang lain tidak menunjukkan keagungan dewa yang luar biasa.

"Ayolah, jangan katakan itu seperti hanya bermain-main denganku, itu sedikit kasar, kau juga perlu membantuku merapikan buluku oh... Itu saja yang kuminta. Di sisi lain, kalian adalah orang-orang yang terus membuat permintaan merepotkan padaku untuk dipenuhi."

"Kami... Maksudmu Hime-Miko?"

"Ya, seperti memintaku untuk mengejar ular itu, atau mengusir naga itu. Terkadang mereka datang meminta air mata? Jadi setiap kali aku harus meninggalkan sarang tua ini, dan pergi mengamuk di luar seperti sebelumnya."

"Mengusir naga? Bukankah kau seharusnya melindungi naga?"

Godou tiba-tiba terganggu dengan penjelasan yang dia dengar barusan di tempat dengan ketiga kera itu.

"Aku melindungi mereka juga, tapi itu setelah aku mengalahkan mereka dan membuat mereka menjadi penganutku. Jangan menilaiku dengan penampilan, aku juga anggota [Baja], jadi menangani naga dan ular hanya bisnis seperti biasa... Sampai saat ini telah ada satu, dua, tiga keributan. Yang terakhir mungkin saat aku bertarung denganmu?"

Setelah mendengar respon raja dewata kera atas pertanyaannya, Godou dibiarkan merenung dengan bingung.

Aku tidak pernah bertarung denganmu. Apa itu tadi?

"Aku memukuli beberapa naga bumi di kota tertentu, dan kemudian kau datang untuk berkelahi. Tetapi sebelum seorang pemenang diputuskan, batas waktuku untuk kembali ke sarang lama telah tiba. Bukankah kau berencana menendang ke bawah pintu kuil saat itu?"

"Ya, karena kupikir hal itu akan memungkinkanku untuk mencapai habitatmu."

Kali ini Godou benar-benar terkejut.

Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar, membawa anugerah melodi, itu adalah suara yang menyegarkan dan indah.

"Pada akhirnya, aku menghancurkan kuil dan sekitarnya, tapi tidak dapat memasuki koridor... Dihitung oleh kalender kami, itu seratus tahun yang lalu. Tapi, metode indahmu – keterampilan ilahi yang kau gunakan untuk menundukkan dewa naga yang merusak Tokyo, masih segar dalam ingatanku."

Godou mengikuti tatapan dewa kera itu.

Di kandang, seekor kadal entah bagaimana masuk tanpa dia sadari.

Jelas hanya kadal belaka, tapi posturnya yang anggun dan bermartabat memberi kesabaran yang luar biasa. Hanya melihat itu sudah cukup untuk membuat orang merasa seperti bersorak kagum. Apa-apaan reptil ini?

Yang berbicara dengan raja dewata kera, benar dia!

"Tidak mungkin, itu tidak mungkin kamu–!? Bagaimana! Kenapa kamu muncul di tempat seperti itu !?"

Yuri berteriak saat dia menutup mulutnya.

Yamato Nadeshiko dengan didikannya yang luar biasa dan tata krama kelas atasnya, kehilangan ketenangannya.

"Ada apa, Mariya!?"

Wajah Yuri memucat dan bibirnya bergetar saat dia terus menatap kadal itu.

Dia gemetar tak henti-hentinya karena ketakutan, dan Godou mendekati sang Hime-Miko berharap untuk menghiburnya.

"G-Godou-san. Yang di sana... Yang di sana–"

Dia melihat sesuatu dengan penerawangan roh? Gemetar dan terikat lidah, Yuri tampaknya terkena teror. Untuk menenangkannya, Godou meletakkan tangannya di pundaknya.

"Oh, sepertinya seorang Hime-Miko, begitu, seperti yang diharapkan dari kerabat jauh dari leluhur dewata. Sampai kau dapat membedakan sifat sejatiku, aku memuji penerawanganmu."

Asap putih berasal dari tubuh si kadal.

Detik berikutnya, reptil kecil berubah menjadi gadis cantik.

Orang yang layak dari deskripsi kecantikan transenden, seorang gadis dengan rambut hitam dan mengenakan pakaian Cina kuno – pakaian Han. Pakaian atasnya memiliki lengan yang sangat panjang dan ujung yang lebih rendah yang menggantung rendah. Pakaian yang lebih rendah bagai jubah panjang yang menyerupai kimono karena gaya tumpang tindihnya dengan bagian kiri di sebelah kanan.

"Siapa namamu? Harusnya baik-baik saja menanyakan namamu, benar, pembunuh dewa tanah airku?"

"Aku masih belum dewasa saat itu. Betapa menyesalnya bagiku untuk gagal dalam mencap namaku jauh ke dalam ingatanmu. Kalau begitu aku akan memberikan namaku sekali lagi, dan melanjutkan untuk menjatuhkan hukuman mati padamu atas kejahatan melupakannya."

Bibir indah menyatakan dingin ke raja dewata kera:

"Nama keluarga Luo, nama pribadi Cuilian, dan nama panggilan Hao. Pemimpin sekte suci, yang berdiri mengangkang puncak bela diri."

Pemimpin sekte sesat yang menakutkan, Luo Hao, yang juga disebut Luo Cuilian.

Yang ketiga muncul setelah Salvatore Doni dan Dejanstahl Voban. Campione terbaru untuk Godou temui, adalah gadis yang sekuat api menyala.