Tolong Klik Iklnya, URGENT!

End of Project Work

07 April, 2019

My Wife is Beautiful CEO 2

on  
In  

hanya di setiablog

Chapter 2: Uang Dibutuhkan Untuk Mencari Seorang Pelacur

Mendengar pujian itu, Rose sedikit merona, menggigit bibirnya yang halus, dan dengan nada penuh penyesalan dia berkata, “Apa gunanya menjadi cantik? Seseorang yang jarang datang, dan bahkan ketika ini hari ulang tahunku, orang itu masih datang selarut ini.”

Menghadapi wanita manis dan menawan ini, semburat nafsu meluap pada Yang Chen, meningkat secara eksponensial karena matanya yang memesona menatapnya, tanpa ada rasa benci. Tapi, dengan hati ksatria Yang Chen berhasil menekan hasratnya yang liar. Mengembalikan ketenangannya, dia berkata, “Aku tidak minum, dan aku juga tidak pandai mengucapkan kata-kata yang membuat wanita bahagia. Selain itu, aku mendirikan warung setiap hari, dan benar-benar tidak punya banyak waktu luang.”

Rose dengan enggan memelototi Yang Chen, “Jangan mengucapkan kata-kata yang tidak berguna seperti itu padaku. Menyiapkan warung? Apa bagusnya mendirikan warung sate domba jelek? Meskipun kau bekerja sampai mati, kau tidak akan menghasilkan banyak uang, kalau kau benar-benar ingin menghasilkan uang, datang dan jadilah pengurus rumah tanggaku. Gaji yang akan kubayarkan setiap bulan akan menjadi 100 kali lipat dari yang kau hasilkan dengan menjual sate domba!”

Yang Chen tertawa pahit dan berkata, “Kakak Rose, pria biasanya tidak menjadi pembantu rumah tangga.”

“Aku sudah berkali-kali memberitahumu, panggil aku Rose, kenapa kau selalu memanggil kakak, kakak, kakak, apa aku setua itu?”

Yang Chen hanya bisa berkompromi, “Baiklah, Rose, aku salah. Hanya saja, aku agak menikmati gaya hidupku saat ini, untuk saat ini aku tidak bermaksud berganti pekerjaan.”

Tak mau menyerah, Rose berkata, “Kau tidak harus menjadi pembantu rumah tanggaku, menjadi pengawalku akan mau, kan? Atau, aku bisa membiarkan kau menjadi manajer bar, aku jarang mengawasi tempat ini, aku biasanya membiarkannya begitu.”

Mendengar ini, Yang Chen merasa sedikit tersentuh, tentu saja dia tahu wanita ini benar-benar peduli padanya, tapi dia memiliki pendirian sendiri. Sejak saat dia bertemu Rose, dia memutuskan untuk tidak terlalu akrab dengan wanita ini.

“Lupakan saja Rose, aku merasa bahwa menjual sate domba cukup bagus, pasar para penyewa juga memiliki cukup banyak orang baik.” Yang Chen menundukkan kepalanya untuk minum airnya, tak mau melanjutkan masalah ini.

Usai melihat Yang Chen keras kepala, Rose mengerutkan kening, lantas berbisik dengan marah pada dirinya sendiri, “Bagusnya kalau kau jadi cowokku......”

Apa yang tidak disadarinya adalah, kata-kata yang dia katakan, yang dia sendiri hampir tidak bisa mendengar, adalah kata-kata yang jelas-jelas didengar Yang Chen, tetapi Yang Chen tahu bahwa dia harus berpura-pura tidak mendengar apa-apa.

Tidak peduli seberapa redupnya lampu di bar, wajah dan fisik Rose masih memancarkan pesona yang tak tertahankan. Namun, sejak Rose muncul, bahkan ketika beberapa orang memperhatikannya, mereka hanya akan berani untuk melirik sebelum memalingkan muka. Beberapa pelanggan baru yang penasaran bertanya kepada pelanggan sekitarnya siapa Rose, dan pada dasarnya hanya ada satu jawaban—— “Minumlah minumanmu, jangan cari mati.”

Merasa sedikit dikalahkan, Rose berjalan ke sisi lain konter, duduk di sebelah Yang Chen, pertama menuangkan segelas wiski untuk dirinya sendiri, lalu menuangkan yang lain untuk Yang Chen, memutar matanya dan menegur, “Sapi tua, aku tahu kau tangguh. Boleh saja kau tidak mau tinggal di sisiku, tapi hari ini hari ulang tahunku, bisakah kau membuat pengecualian dan minum segelas minuman keras?”

Yang Chen ragu-ragu sejenak, kenyataannya adalah, bukan karena dia tidak bisa minum, hanya saja setiap kali dia minum, alkohol akan menyebabkan gangguan pada jiwanya. Ada terlalu banyak hal yang tidak ingin diingatnya, itulah sebabnya ia harus tenang. Karena itu, baginya, alkohol adalah racun…….

“Baiklah, tapi cuma satu gelas.” Merasa sedikit rasa bersalah, Yang Chen tak mau mengecewakan Rose, jadi dia memutuskan untuk menerimanya. Diam-diam berharap dalam hatinya bahwa tidak akan terjadi apa-apa, karena hanya segelas kecil.

Benar saja, Rose dengan gembira tersenyum, senyum itu menyerupai melihat salju untuk pertama kalinya. Di bawah cahaya redup, wajah wanita itu bersinar dengan kilau, memasuki mata Yang Chen, itu membuat jantungnya berdegup lagi.

“Bersulang.”

Setelah mendentingkan gelas, Yang Chen mengangkat kepalanya dan minum cairan sedingin es tanpa ragu-ragu.

Rose terkikik ‘gege’, mencondongkan tubuh ke depan, dan menempelkan tubuhnya ke dada Yang Chen dan dengan murung berkata, “Apa kau tahu, sudah 10 tahun sejak aku terakhir merayakan ulang tahunku. Meskipun tidak ada kue, tidak ada lilin, tidak ada hadiah, bahkan tidak ada pesta……ada pria tidak romantis sepertimu untuk menemaniku minum, aku merasa sangat puas……”

Fisik wanita ini terlihat berkembang dengan baik dari segala sudut dan menyebabkan pria mengiler. Pada saat ini, Yang Chen dengan jelas merasakan dua benjolan lembut yang dapat dibentuk menekan pahanya, dengan lembut membelainya, membawa sensasi yang merangsang.

Dengan sedikit menundukkan kepalanya, dia melihat celah qipao Rose, dan kulit bersalju yang lembut bak porselen. Di bawah pergelangan kakinya yang indah ada sepasang sepatu hak tinggi merah menyala,

Stimulasi visual yang intens bersama dengan rayuan sengit membangkitkan hormon laki-laki Yang Chen.

Ketika seorang pria bertemu dengan seorang wanita, di antara hormon-hormon, reaksi hormon kelenjar adrenal, adalah evaluasi yang paling mudah dari wanita. Terbukti, Rose mencetak gol bagus dalam hal ini.

Sambil Yang Chen melakukan yang terbaik untuk menekan reaksi tubuhnya, akhirnya Rose berdiri, memberinya senyum licik, seolah-olah dia adalah rubah yang berhasil dalam plotnya, “Ini bagus, temanku, sepertinya ‘modal’-mu luar biasa kuat ya……”

Yang Chen memaksakan senyum, tentu saja dia tahu apa yang dimaksud Rose. Wanita ini, dia benar-benar mengintipnya saat dia mendekat sebelumnya.

“Aku bisa melihat bahwa kau hampir tidak tahan duduk di sini, aku akan pergi menjamu pelangganku yang lain, kalau kau tak mau tinggal lebih lama, kau bisa pergi.” Rose meninggalkan kursi dengan cara alami dan tidak terkendali, dan berjalan menuju pelanggan lain.

Pelanggan bar sudah lama tahu bahwa bos wanita bar ini sangat menawan, tetapi mereka tidak berani melupakan sopan santun. Ini karena menerima informasi bahwa latar belakang wanita itu tidak sederhana sama sekali. Alhasil, tidak mudah bagi Rose menyapa pelanggannya.

Kenyataannya, wajah Rose mengandung senyum penuh gairah. Temperamen yang luar biasa itu cukup untuk membuat sebagian besar pria merasa terintimidasi, sehingga mereka hanya bisa melihat dari kejauhan. Apalagi, mereka tak ingin mengungkapkan pemikiran kecabulan, karena tak ada yang menolak.

Ketika Rose pergi, Yang Chen menghela napas lega, dan pada saat yang sama dia diam-diam mengejek dirinya sendiri. Selama setengah tahun terakhir ia kembali ke negara ini, ia tampaknya telah sedikit berubah.

Jika itu Yang Chen di masa lalu, menghadapi seorang wanita yang memesona seperti Rose yang memiliki kasih sayang padanya, bahkan tak akan ada kebutuhan baginya untuk merayunya. Dia akan melemparkannya ke ranjang sejak lama tanpa peduli apapun konsekuensinya. Lagipula, setelah perbuatan itu selesai, dia bisa pergi begitu saja.

Namun, dia sudah tidak bisa melakukan itu, terutama pada Rose yang dapat dianggap sebagai salah satu teman pertamanya di Zhong Hai, dan baginya, dalam hatinya Rose sangat berarti.

Walaupun dia hanya minum sedikit, alkohol sudah mulai memengaruhi pikirannya. Yang Chen merasa bahwa hasratnya akan alkohol sudah terbangun, tetapi dia tidak berani minum berlebihan, nyeri mengingat hal-hal yang tidak diinginkan setelah minum adalah sesuatu yang hanya dia mengerti.

Namun, melihat bahwa tubuh bagian bawahnya masih tegak, Yang Chen merasa perlu untuk melampiaskan emosinya yang terpendam, jika tidak, ‘itu’ akan tertahan sampai mati. Tapi tentu saja, Rose takkan mau, begitu mereka memiliki hubungan itu, akan sulit baginya untuk pergi.

Setelah minum secangkir air, Yang Chen meninggalkan ROSE bar. Ketika dia pergi, di mata Rose yang diam-diam mengawasinya pergi, adalah perasaan kecewa.

Di luar bar, Yang Chen melihat sekeliling, sebelum akhirnya berjalan menuju bar kecil di dekatnya. Mungkin ada banyak mangsa di bar kelas atas, tetapi uang di dompet Yang Chen tidak cukup.
Menghadapi wanita manis dan menawan ini, semburat nafsu meluap pada Yang Chen, meningkat secara eksponensial karena matanya yang memesona menatapnya, tanpa ada rasa benci. Tapi, dengan hati ksatria Yang Chen berhasil menekan hasratnya yang liar. Mengembalikan ketenangannya, dia berkata, “Aku tidak minum, dan aku juga tidak pandai mengucapkan kata-kata yang membuat wanita bahagia. Selain itu, aku mendirikan warung setiap hari, dan benar-benar tidak punya banyak waktu luang.”

Rose dengan enggan memelototi Yang Chen, “Jangan mengucapkan kata-kata yang tidak berguna seperti itu padaku. Menyiapkan warung? Apa bagusnya mendirikan warung sate domba jelek? Meskipun kau bekerja sampai mati, kau tidak akan menghasilkan banyak uang, kalau kau benar-benar ingin menghasilkan uang, datang dan jadilah pengurus rumah tanggaku. Gaji yang akan kubayarkan setiap bulan akan menjadi 100 kali lipat dari yang kau hasilkan dengan menjual sate domba!”

Yang Chen tertawa pahit dan berkata, “Kakak Rose, pria biasanya tidak menjadi pembantu rumah tangga.”

“Aku sudah berkali-kali memberitahumu, panggil aku Rose, kenapa kau selalu memanggil kakak, kakak, kakak, apa aku setua itu?”

Yang Chen hanya bisa berkompromi, “Baiklah, Rose, aku salah. Hanya saja, aku agak menikmati gaya hidupku saat ini, untuk saat ini aku tidak bermaksud berganti pekerjaan.”

Tak mau menyerah, Rose berkata, “Kau tidak harus menjadi pembantu rumah tanggaku, menjadi pengawalku akan mau, kan? Atau, aku bisa membiarkan kau menjadi manajer bar, aku jarang mengawasi tempat ini, aku biasanya membiarkannya begitu.”

Mendengar ini, Yang Chen merasa sedikit tersentuh, tentu saja dia tahu wanita ini benar-benar peduli padanya, tapi dia memiliki pendirian sendiri. Sejak saat dia bertemu Rose, dia memutuskan untuk tidak terlalu akrab dengan wanita ini.

“Lupakan saja Rose, aku merasa bahwa menjual sate domba cukup bagus, pasar para penyewa juga memiliki cukup banyak orang baik.” Yang Chen menundukkan kepalanya untuk minum airnya, tak mau melanjutkan masalah ini.

Usai melihat Yang Chen keras kepala, Rose mengerutkan kening, lantas berbisik dengan marah pada dirinya sendiri, “Bagusnya kalau kau jadi cowokku......”

Apa yang tidak disadarinya adalah, kata-kata yang dia katakan, yang dia sendiri hampir tidak bisa mendengar, adalah kata-kata yang jelas-jelas didengar Yang Chen, tetapi Yang Chen tahu bahwa dia harus berpura-pura tidak mendengar apa-apa.

Tidak peduli seberapa redupnya lampu di bar, wajah dan fisik Rose masih memancarkan pesona yang tak tertahankan. Namun, sejak Rose muncul, bahkan ketika beberapa orang memperhatikannya, mereka hanya akan berani untuk melirik sebelum memalingkan muka. Beberapa pelanggan baru yang penasaran bertanya kepada pelanggan sekitarnya siapa Rose, dan pada dasarnya hanya ada satu jawaban—— “Minumlah minumanmu, jangan cari mati.”

Merasa sedikit dikalahkan, Rose berjalan ke sisi lain konter, duduk di sebelah Yang Chen, pertama menuangkan segelas wiski untuk dirinya sendiri, lalu menuangkan yang lain untuk Yang Chen, memutar matanya dan menegur, “Sapi tua, aku tahu kau tangguh. Boleh saja kau tidak mau tinggal di sisiku, tapi hari ini hari ulang tahunku, bisakah kau membuat pengecualian dan minum segelas minuman keras?”

Yang Chen ragu-ragu sejenak, kenyataannya adalah, bukan karena dia tidak bisa minum, hanya saja setiap kali dia minum, alkohol akan menyebabkan gangguan pada jiwanya. Ada terlalu banyak hal yang tidak ingin diingatnya, itulah sebabnya ia harus tenang. Karena itu, baginya, alkohol adalah racun…….

“Baiklah, tapi cuma satu gelas.” Merasa sedikit rasa bersalah, Yang Chen tak mau mengecewakan Rose, jadi dia memutuskan untuk menerimanya. Diam-diam berharap dalam hatinya bahwa tidak akan terjadi apa-apa, karena hanya segelas kecil.

Benar saja, Rose dengan gembira tersenyum, senyum itu menyerupai melihat salju untuk pertama kalinya. Di bawah cahaya redup, wajah wanita itu bersinar dengan kilau, memasuki mata Yang Chen, itu membuat jantungnya berdegup lagi.

“Bersulang.”

Setelah mendentingkan gelas, Yang Chen mengangkat kepalanya dan minum cairan sedingin es tanpa ragu-ragu.

Rose terkikik ‘gege’, mencondongkan tubuh ke depan, dan menempelkan tubuhnya ke dada Yang Chen dan dengan murung berkata, “Apa kau tahu, sudah 10 tahun sejak aku terakhir merayakan ulang tahunku. Meskipun tidak ada kue, tidak ada lilin, tidak ada hadiah, bahkan tidak ada pesta……ada pria tidak romantis sepertimu untuk menemaniku minum, aku merasa sangat puas……”

Fisik wanita ini terlihat berkembang dengan baik dari segala sudut dan menyebabkan pria mengiler. Pada saat ini, Yang Chen dengan jelas merasakan dua benjolan lembut yang dapat dibentuk menekan pahanya, dengan lembut membelainya, membawa sensasi yang merangsang.

Dengan sedikit menundukkan kepalanya, dia melihat celah qipao Rose, dan kulit bersalju yang lembut bak porselen. Di bawah pergelangan kakinya yang indah ada sepasang sepatu hak tinggi merah menyala,

Stimulasi visual yang intens bersama dengan rayuan sengit membangkitkan hormon laki-laki Yang Chen.

Ketika seorang pria bertemu dengan seorang wanita, di antara hormon-hormon, reaksi hormon kelenjar adrenal, adalah evaluasi yang paling mudah dari wanita. Terbukti, Rose mencetak gol bagus dalam hal ini.

Sambil Yang Chen melakukan yang terbaik untuk menekan reaksi tubuhnya, akhirnya Rose berdiri, memberinya senyum licik, seolah-olah dia adalah rubah yang berhasil dalam plotnya, “Ini bagus, temanku, sepertinya ‘modal’-mu luar biasa kuat ya……”

Yang Chen memaksakan senyum, tentu saja dia tahu apa yang dimaksud Rose. Wanita ini, dia benar-benar mengintipnya saat dia mendekat sebelumnya.

“Aku bisa melihat bahwa kau hampir tidak tahan duduk di sini, aku akan pergi menjamu pelangganku yang lain, kalau kau tak mau tinggal lebih lama, kau bisa pergi.” Rose meninggalkan kursi dengan cara alami dan tidak terkendali, dan berjalan menuju pelanggan lain.

Pelanggan bar sudah lama tahu bahwa bos wanita bar ini sangat menawan, tetapi mereka tidak berani melupakan sopan santun. Ini karena menerima informasi bahwa latar belakang wanita itu tidak sederhana sama sekali. Alhasil, tidak mudah bagi Rose menyapa pelanggannya.

Kenyataannya, wajah Rose mengandung senyum penuh gairah. Temperamen yang luar biasa itu cukup untuk membuat sebagian besar pria merasa terintimidasi, sehingga mereka hanya bisa melihat dari kejauhan. Apalagi, mereka tak ingin mengungkapkan pemikiran kecabulan, karena tak ada yang menolak.

Ketika Rose pergi, Yang Chen menghela napas lega, dan pada saat yang sama dia diam-diam mengejek dirinya sendiri. Selama setengah tahun terakhir ia kembali ke negara ini, ia tampaknya telah sedikit berubah.

Jika itu Yang Chen di masa lalu, menghadapi seorang wanita yang memesona seperti Rose yang memiliki kasih sayang padanya, bahkan tak akan ada kebutuhan baginya untuk merayunya. Dia akan melemparkannya ke ranjang sejak lama tanpa peduli apapun konsekuensinya. Lagipula, setelah perbuatan itu selesai, dia bisa pergi begitu saja.

Namun, dia sudah tidak bisa melakukan itu, terutama pada Rose yang dapat dianggap sebagai salah satu teman pertamanya di Zhong Hai, dan baginya, dalam hatinya Rose sangat berarti.

Walaupun dia hanya minum sedikit, alkohol sudah mulai memengaruhi pikirannya. Yang Chen merasa bahwa hasratnya akan alkohol sudah terbangun, tetapi dia tidak berani minum berlebihan, nyeri mengingat hal-hal yang tidak diinginkan setelah minum adalah sesuatu yang hanya dia mengerti.

Namun, melihat bahwa tubuh bagian bawahnya masih tegak, Yang Chen merasa perlu untuk melampiaskan emosinya yang terpendam, jika tidak, ‘itu’ akan tertahan sampai mati. Tapi tentu saja, Rose takkan mau, begitu mereka memiliki hubungan itu, akan sulit baginya untuk pergi.

Setelah minum secangkir air, Yang Chen meninggalkan ROSE bar. Ketika dia pergi, di mata Rose yang diam-diam mengawasinya pergi, adalah perasaan kecewa.

Di luar bar, Yang Chen melihat sekeliling, sebelum akhirnya berjalan menuju bar kecil di dekatnya. Mungkin ada banyak mangsa di bar kelas atas, tetapi uang di dompet Yang Chen tidak cukup.

FP: setia's blog

Share: