Strike the Blood v7 2-11

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

CHAPTER 2: BAYANGAN DARI KALEID BLOOD LAIN

11

Kojou bisa mendengar sirene dari suatu tempat, tidak diragukan lagi unit perintah umum Island Guard. Biarpun MAR tidak mengirim kabar, dua Beast Vassal kelas leluhur berselisih di daerah perkotaan pastinya mengakibatkan Island Guard kemari.

Area MAR telah direduksi menjadi pemandangan yang menyedihkan. Halaman yang dulunya indah itu ibakar hingga garing, dirobohkan ke bagian dalam pulau buatan. Barisan kaca struktural telah hancur berkeping-keping, terutama di sayap medis di ambang kehancuran di pusat kehancuran.

Meskipun, jika seseorang hanya melihat hasilnya, kerusakannya bisa dianggap nominal. Lagipula, dua leluhur vampir telah bertarung secara langsung, tapi sejauh itulah kerusakannya—

Saat Kojou dan gadis berambut pelangi berdiri di tengah-tengah sisa energi iblis yang masih menyala-nyala, dia mendengar suara pria jenaka dan halus.

“Dahsyat sekali pertarungan antara leluhur kita yang terhormat — harus kubilang bahwa aku paling puas.”

Akhirnya, dengan suara yang menusuk telinga bagai kaca yang menggores kaca, keretakan terbuka dari udara tipis.

Lalu kabut emas muncul. Kabut cerah dan berubah menjadi pria tampan: seorang aristokrat vampir berambut pirang, bermata biru.

Gadis itu mendecakkan lidahnya dengan kesal.

“Tak kusangka kau mencari jalan keluar sendiri sementara Beast Vassal-ku menahanmu... Pertama, kurasa aku harus menyebutnya hebat. Aku membayangkan kau bisa melarikan diri lebih cepat. Apakah fakta bahwa kau tidak melarikan diri berarti kau bertujuan untuk mengambil kepalaku saat aku tidur, Vattler?”

Vattler, sekarang benar-benar terwujud, menundukkan kepalanya dengan sikap hormat.

“Tentunya kau bercanda, Yang Mulia.”

Ucapannya tampak sopan, tapi tidak membawa satu pun penyerahan. Itu adalah gerakan yang sesuai dengan vampir sombong dan mengganggu.

Gadis itu menghela napas dengan putus asa.

“Pria yang tidak menyenangkan. Tidak heran kau adalah orang kepercayaan Warlord yang terkutuk itu. Aku berharap aku dapat membuat putri-putriku sendiri belajar satu atau dua hal darimu.”

Kojou menyatakan keraguan ketika dia bertanya pada Vattler, “Yang Mulia?”

Berdasarkan percakapan mereka, tampaknya Vattler telah bertarung dengan gadis itu, yang kemudian menahannya di suatu tempat. Tetapi bagi Vattler, gadis berambut pelangi itu rupanya seseorang yang sangat dihormati.

Ya, dia pasti mengatakan bahwa Kojou dan gadis itu adalah leluhur-leluhur, jamak—

“Ini kau, bukan?” Vattler bertanya. “Dia adalah penguasa Chaos Zone di Amerika Tengah, dilayani oleh duapuluh tujuh Beast Vassal, Leluhur Ketiga tanpa bentuk dari seribu samaran... Chaos Bride.”

Alih-alih menyangkal deduksi Vattler, gadis itu tertawa menggoda.

“Aku tidak suka dipanggil dengan nama bombastis seperti itu. Kau bisa memanggilku Giada.”

Pada titik tertentu, warna rambut gadis itu telah berubah, dari pirang yang memantulkan warna pelangi menjadi hijau zamrud yang berkilau. Cahaya dari matanya yang biru pucat layaknya api berubah menjadi giok danau yang dalam.

Penampilan luarnya masih muda, tetapi kecantikan peri itu menghilang. Apa yang muncul di tempatnya adalah kecantikan yang kuat tetapi indah mengingatkan pada macan tutul liar. Dia tampak seperti orang yang sama sekali berbeda dari beberapa saat sebelumnya. Ini tidak diragukan lagi penampilan aslinya — bentuk asli dari Chaos Bride, Leluhur Ketiga.

“Peniruan…?” Kojou bertanya. “Kemampuan transformasi? Kau menggunakan kekuatan itu untuk berubah menjadi Avrora?”

“Aku minta maaf atas ketidaksopanku, Kojou Akatsuki. Bukan niatku untuk mengejekmu,” jawab Giada pelan. Mata batu giok gadis itu menatap lurus ke arah Kojou, seolah menyelidikinya lebih dalam. Dia melanjutkan. “Tapi menurutku ini akan menjadi cara termudah untuk membuatmu serius.”

Suara Kojou bergetar karena marah.

“...Ya, kurasa begitu... Berkat itu, aku ingat. Semuanya — semuanya.”

Dia tidak mengarahkan kemarahannya pada Giada; dia marah pada diri masa lalunya dan marah pada dirinya sendiri karena lupa semua tentang insiden itu — Nagisa dan gadis itu tidur di balok es. Pertempurannya dengan gadis yang mengambil bentuk Avrora telah mengeruk ingatannya dari tempat mereka tenggelam ke lautan terlupakan, bersama dengan kemarahan dan keputusasaan yang membeku bersama mereka.

“Benarkah begitu? Kalau begitu peranku berakhir di sini.”

Lalu kilatan kejam muncul di matanya ketika dia menatap bangunan sayap medis yang setengah hancur.

“Tapi, aku percaya manusia dari MAR harus membayar harga yang pantas untuk mempermainkan sisa-sisa Avrora kecil yang malang—”

Mata Kojou dipenuhi dengan amarah yang diam saat mereka bergerak ke arah Giada. “Berhenti.”

Pandangan mereka melintas seperti pedang yang saling beradu.

“Kau tidak terlibat, jadi lepaskan. Ini pertarunganku,” katanya.

Giada mengangguk puas.

“...Semangat yang kuat. Jadi inilah mengapa Vattler menyukaimu. Lucu sekali. Lalu aku akan meninggalkan ini di tanganmu, Kojou Akatsuki. Cepat atau lambat, Chaos Zone-ku akan mengecatnya dengan darah. Kau harus mengklaim kembali apa yang telah hilang sebelum ini terjadi.”

Gadis itu menjadi ilusi, sepertinya larut ke udara tipis dan menghilang. Dia pasti menggunakan kekuatan Beast Vassal yang sama yang telah menutup Vattler di ruang di dimensi lain.

Kehilangan kehadirannya membuat udara di sekitar mereka terasa lebih ringan. Chaos Bride memiliki perasaan luar biasa mungkin jauh melampaui harapan Kojou.

Vattler menatap Kojou dengan pandangan simpatik.

“Nenek tua yang menakutkan seperti biasa, ya? Kau telah melalui cobaan yang cukup, Kojou.”

Perkataannya tampak seperti lelucon, tetapi Kojou merasa itu bercampur dengan gema seperti nyala api yang membara. Vattler, seorang maniak tempur kanibal, tidak diragukan lagi melihat Giada sebagai salah satu musuh yang akhirnya akan dia konsumsi. Dan Giada, yang sepenuhnya sadar akan skema Vattler, telah melepaskannya. Mungkin kedua naluri iblis mereka yang keji mendambakan musuh yang lebih kuat.

Wajah Kojou merengut kesal.

“Kau bukan orang yang bisa bicara di sini, ya ampun.” Lalu dia menambahkan dengan nada yang sangat enggan, “...Tapi kau menyelamatkan diriku tadi, jadi terima kasih.”

Mendengar ucapan kekaguman Kojou, Vattler bergumam, “Hmm?” dengan senyum kecil. Itu masam yang sepertinya mengatakan, Ah, kau perhatikan?

Di akhir pertarungannya dengan Kojou, Giada mengatakan dia kehabisan waktu. Dengan itu, mungkin maksudnya kembalinya Vattler dari ruang dimensi lain. Jika Vattler dan Kojou bertarung melawannya pada saat yang sama, bahkan Leluhur Ketiga mungkin akan kesusahan. Itulah sebabnya dia terpaksa menyerah bertarung dengan Kojou pada saat itu.

Jika pertempuran berlanjut pada tingkat itu, walaupun Kojou berhasil bertahan, kerusakannya akan jauh lebih luas. Akibatnya, Vattler menyelamatkan baik Kojou dan Pulau Itogami.

Duke Ardeal membuka kedua tangannya lebar-lebar sebagai undangan dan berkata secara dramatis, “Ha-ha, betapa tertutupnya dirimu, Kojou, Leluhur Keempat tercintaku!”

Secara naluriah merasakan bahaya, tanpa disadari Kojou mundur selangkah.

“Kojou!”

Pihak ketiga menyela pertarungan Kojou dan Vattler, mengubah raut wajah mereka. Gadis itu memiliki rambut mewah, mengenakan seragam sekolah Akademi Saikai, dan menggunakan notebook favoritnya sebagai perisai untuk memeriksa kemajuan Vattler.

“A-Asagi...?”

“Aku tahu itu! Kalian berdua benar-benar...!”

“Eh?!” Tatapan yang diarahkan Asagi pada Kojou, seolah-olah dia telah menyaksikan sesuatu yang sangat tidak murni, mendorong sebuah jawaban yang keras dan melengking. “K-kau salah. Orang ini mengatakan hal itu sesukanya—”

“Benarkah?!”

Asagi memelototinya, jelas dengan penjagaannya. Berkat menyembunyikan banyak hal darinya, Kojou benar-benar kehilangan kepercayaannya. Membersihkan kesalahpahaman ini bukanlah tugas yang mudah.

Vattler tampak cukup bingung ketika dia melihat interaksi antara Kojou dan Asagi.

“Aku sungguh menyesal, Kojou. Aku ingin mengucapkan kata-kata cinta di waktu luang, tapi aku prihatin dengan bawahanku. Aku akan meninggalkan pembersihan di tanganmu.”

“Eh?!”

Kata-kata Vattler yang tanpa ragu membuat Kojou semakin gugup.

Pasukan besar Island Guard akan segera berdatangan. Fasilitas MAR berada di reruntuhan. Ada banyak yang terluka. Kerusakan fasilitas itu tidak akan menjadi hanya satu atau dua ratus juta yen. Dan Giada, pelakunya, telah lama melarikan diri. Apakah dia menyuruh Kojou untuk bertanggung jawab menggantikannya...?

“Pendeta Cain… Cantik. Ini pasti menyenangkan. Sudah saatnya kau mempersiapkan diri untuk hal yang tak terhindarkan.”

Dengan itu, ia berubah menjadi kabut dan menghilang.

Kojou, yang tertinggal dan basah kuyup, menatap langit biru yang jernih dengan tidak perlu. Di sebelahnya, Yukina mendapat perhatiannya.

“Senpai, gadis itu...?”

Yukina menatap gadis yang terbaring di balok es raksasa di fasilitas bawah tanah sayap medis.

Dengan suara pecah, Kojou mengucapkan nama yang pernah dia lupakan.

“...Itu adalah Avrora yang asli, Kaleid Blood ke-12.”

Asagi mendekati Kojou dan dengan lembut menarik lengan bajunya.

“Apa dia tidur?”

“Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya.

Di dalam balok es yang membeku selamanya, mata gadis itu tertutup.

Rambutnya berwarna pelangi, mengepul seperti api. Dia memiliki kecantikan yang sekilas seperti peri. Suatu ketika, bibir itu tersenyum ketika mereka mengucapkan nama Kojou.

Tapi dia tidak akan pernah membuka matanya lagi.

“Dia sudah mati.”

Cahaya perak menyala di dada gadis di es. Itu berasal dari tiang logam kecil, yang tampaknya menusuk hatinya.

Dengan sakit, Kojou menurunkan matanya dan bergumam...

 

“Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri—”
Load comments