Strike the Blood v7 3-1

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

CHAPTER 3: KENANG-KENANGAN SI PELAWAK

1

Motoki Yaze berusia dua belas tahun saat pertama kali mengunjungi Keystone Gate. Itu adalah hari musim semi tepat sebelum dia mendaftar di SMP.

Demon Sanctuary di Itogami City secara resmi merupakan bagian dari Tokyo Metropolis, tapi Gigafloat Management Corporation mengelola distrik administrasi khusus. Keluarga Yaze saat ini mengepalainya, dan Akishige Yaze, yang kebetulan adalah ayahnya, adalah ketua perusahaan. Dia telah dipanggil secara pribadi atas nama ayahnya.

Dia melewati pemeriksaan keamanan berlapis-lapis sebelum tiba di kantor-kantor perusahaan, hanya untuk disambut oleh orang yang tak terduga — Kazuma Yaze, kakak tirinya yang lebih dari sepuluh tahun lebih tua darinya. Kazuma adalah seorang elite dengan gelar master dari universitas North American Union, dan saat ini dipekerjakan sebagai sesuatu yang menyerupai sekretaris pribadi Akishige, yang bekerja dalam penelitian yang dilakukan dengan kerahasiaan total di sebuah universitas di Itogami City. Kemampuan dan eksploitasinya menandai dirinya sebagai kemungkinan pengganti Akishige.

Duduk di tengah-tengah ruangan yang sangat besar, Yaze dengan ceroboh menatap Kazuma, “—Kojou Akatsuki? Siapa itu?”

Terus terang saja, Yaze jauh lebih senang berbicara dengan Kazuma daripada ayahnya sendiri. Tidak seperti anggota keluarganya yang lain, Yaze bergaul dengan kakak tirinya yang ambisius dan licik. Bahkan sampai saat itu, keluarga itu memiliki bias yang kuat terhadap Kazuma, seorang putra tidak sah, terlepas dari statusnya sebagai penerus yang lebih mampu dari nama keluarga. Mungkin Yaze, dicemooh sepanjang masa kecilnya sebagai Hyper Adapter yang loyo, terkait dengannya pada tingkat tertentu.

Kazuma bergerak ke gambar seorang anak lelaki yang tampak muda di layar saat dia berbicara.

“Anak lelaki seusia denganmu. Dia akan mendaftar di SMP Akademi Saikai.”

Dilihat dari latar belakang rumah sakit, gambar telah diambil saat dia dalam pemulihan. Kemampuan atletiknya tampak baik, tapi selain itu, tak ada yang penting tentang dirinya. Menatap wajahnya yang lembut, Yaze mengutuk pelan. Dia masih anak kecil.

“Motoki. Ini adalah perintah dari keluarga. Kau harus mengawasinya.”

Kata-kata Kazuma membawa pandangan yang sangat meragukan di wajah Yaze.

“Mengawasi?”

Bukan karena perintah kakaknya tidak terduga. Lagipula, sudah ditentukan sejak kelahiran Yaze bahwa kemampuan Hyper Adapter-nya bagus untuk observasi dan tidak ada yang lain. Keluarga Yaze, keturunan dari banyak generasi Hyper Adapter, cukup terbiasa berurusan dengan anak-anak seperti dia.

Namun, hingga saat ini, target pengawasan Yaze terbatas pada kriminal — politisi yang dicurigai melakukan transaksi kotor dan perusahaan yang terlibat dalam skema pasar gelap ilegal. Akibatnya, diperintahkan untuk melakukan pengawasan terhadap warga negara biasa yang taat hukum — dan seseorang yang sebaya dengannya — adalah yang pertama baginya.

Kazuma mengabaikan kebingungan Yaze dan melanjutkan penjelasannya dengan lugas.

“Aku tidak memintamu melakukan sesuatu yang spesifik. Cukup dekat dengannya dan buat laporan rutin tentang tindakannya. Kami membuat pengaturan di sisi sekolah. Kau akan berada di kelas yang sama.”

Yaze melihat-lihat file yang telah diserahkan kepadanya. Hah. Dia sedikit cemberut karena terkejut. Data fisik Kojou Akatsuki tampak...normal.

“Jadi dia sebenarnya bukan iblis, kan?” Yaze berkomentar.

Kazuma tampak agak jijik. “Yah, tidak, tidak juga... Kalau dia adalah iblis biasa, ini akan jauh lebih sederhana.”

Yaze menatap Kazuma dengan bingung. Itu selalu membuatnya kesal betapa sulitnya menyeret hal-hal penting dari saudaranya yang selalu logis.

“Bagaimana apanya?”

“Lihat ini.”

Kazuma mengeluarkan sebuah amplop dari mejanya dan meletakkannya di depan Yaze, yang mengerutkan alisnya saat dia mengambilnya. Amplop itu berisi apa yang tampaknya merupakan foto tulang rusuk anak itu.

“Ini adalah…?”

“Rontgen Kojou Akatsuki. Bisakah kau melihat bagaimana rusuk keempat dan kelima di sisi kanannya berwarna berbeda?”

“Yah begitulah…”

Yaze segera melihat perbedaan itu tanpa perlu mengangkatnya ke cahaya. Jelas sekali bahwa kedua tulang rusuk itu bukan tulang rusuk manusia normal. Bahkan dengan sinar x hitam-putih, tampak jelas bahwa itu bersinar layaknya kristal tembus cahaya.

Tanpa sadar Yaze menatap gambar itu. Tulang rusuk keempat dan kelima di sisi kanan — bukankah itu tempat yang disebut Anak Tuhan ditusuk dengan tombak?

“Itu bukan tulang rusuk aslinya. Itu ditransplantasikan — atau lebih tepatnya, ditukar,” kata Kazuma.

“Ditukar? Dari siapa?”

“Gadis yang kemungkinan Leluhur Keempat.”

“Hah…?” Yaze menjawab ucapan Kazuma yang blak-blakan dan tanpa emosi dengan Ayolah.

Namun, tidak ada indikasi Kazuma sedang bercanda. Dia melanjutkan, “kau terbiasa dengan Blood Vassal vampir, kan?”

“Yeah. Vampir semu yang diciptakan ketika vampir memberikan bagian tubuhnya, kan?”

Saat Yaze selesai menjelaskan apa yang merupakan pengetahuan umum untuk setiap penduduk Demon Sanctuary, dia dengan suara terengah-engah.

“Tunggu, maksudmu bukankah itu—”

“Vampir memiliki kemampuan regeneratif yang konyol, tapi bagian yang mereka berikan pada pengikut mereka tidak beregenerasi. Itu sebabnya mereka biasanya membuat pengikut mereka dengan darah, tapi mereka dapat menggunakan organ yang lebih penting untuk pengikut yang lebih kuat, atau begitulah katanya.”

Teror yang mengakar dalam di dalam Yaze, membuat bulu kuduk naik di sekujur tubuhnya.

“Jadi dia memiliki tulang rusuk Leluhur di dalam dirinya...!”

Blood Vassal milik seorang vampir memiliki kemampuan yang dipengaruhi oleh master vampir. Dikatakan bahwa bawahan dengan tubuh spek tinggi, dikombinasikan dengan kompatibilitas yang kuat dengan masternya, bisa membuatnya lebih gesit daripada vampir sungguhan. Jika Kojou Akatsuki ini benar-benar adalah Blood Vassal dari leluhur, bukankah itu berarti dia sama monsternya dengan sesosok leluhur...?

“Hmph.” Kazuma menggumamkan humor yang jarang terjadi. “Seorang anak lelaki dengan tulang rusuk yang diberikan oleh seorang wanita — seseorang mendapatkan mitologi mereka dari belakang.” Dia kemungkinan mengutip referensi Alkitab yang tidak jelas, tentang bagaimana Tuhan menciptakan Hawa(Eve) dari tulang rusuk Adam. Dia melanjutkan dengan suara dingin, “Lagipula, itu adalah bagian kelas atas untuk diberikan kepada pengikut. Toh, tulang rusuk manusia adalah bagian dari sistem produksi darah tubuh.”

Yaze memiliki sedikit pengetahuan medis sendiri, tapi hanya mendengarkan kakaknya membantunya memahami situasi aneh bagaimana Kojou Akatsuki ditempatkan. Darah vampir, identik dengan sumber kekuatan vampir, benar-benar mengalir melalui nadinya.

Menatap gambar Kojou Akatsuki sekali lagi, Yaze bergumam, “Maksudmu ini adalah Blood Vassal dari leluhur...?”

Kazuma mengoreksinya dengan tenang. “Dia anak laki-laki yang bisa menjadi Blood Vassal seorang leluhur. Saat ini, dia masih manusia biasa... meski ada tulang rusuk dari Kaleid Blood ke-12.”

“Ke-12…? Soal apa semua itu?”

Kazuma membelai rambutnya seolah-olah itu kebiasaan gugup saat dia berkata, “Itu perlu diketahui.”

Lalu dia melemparkan kantong kertas besar ke arah Yaze. Kantong berisi kotak kapsul. Baik tas maupun kotak tidak mencantumkan obat atau produsen.

“Apa ini?”

“Booster... Obat-obatan kimia yang disintesis agar sesuai dengan tipe tubuhmu. Efeknya sementara, tapi kemampuan Hyper Adapter-mu akan diperkuat oleh faktor sekitar empat ratus. Anggap saja sebagai asuransi untuk kasus terburuk. Tak ada efek samping langsung, tapi jangan terlalu sering menggunakannya. Ini akan mencukur tahun dari rentang hidupmu.”

Yaze tersenyum dengan heran. “Tunggu, kau mengkhawatirkan aku?”

Mengingat dia baru saja menyerahkan barang berbahaya kepada seorang adik lelaki yang baru lulus SD, kekhawatiran Kazuma terdengar seperti sarkasme murni. Namun, saudara tiri Yaze yang pragmatis tetap serius ketika dia menjawab, “Kau berguna bagiku, jadi aku memanfaatkanmu. Itu saja.”

“Cuma itu?”

Yaze menjulurkan lidahnya dan menatap Kazuma, seperti anak yang merajuk yang benar-benar seusianya.

Ketika adik laki-lakinya hendak meninggalkan kantor, Kazuma menghela napas.

“Motoki?”

“Mm?”

Ketika Yaze melihat ke belakang, Kazuma mengalihkan pandangannya dan berbicara seolah itu lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Yaze.

“Peranmu di sini adalah pengamat. Aku tidak keberatan kalau kau bersahabat dengannya, tapi jangan terlibat secara emosional. Itu hanya akan membuat segalanya lebih sulit.”

“Berbicara dari pengalaman?”

Yaze dengan santai mengangkat kantong kertas yang diterimanya dengan tawa yang tampaknya menyakitkan.

“Aku akan ingat itu, Kak. Katakan hai pada Ayah untukku.”
Load comments