Valhalla Saga 24-2

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

Episode 24/Chapter 2: Shinsoo Bumi (2)

Dunia para raksasa, Jotunheim memiliki beberapa orang yang mengklaim diri sebagai Raja.

Namun orang-orang yang bisa disebut Raja asli dan memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk mendukungnya hanya dapat dihitung dengan satu tangan.

Raja yang membangun kekuatan terkuat di antara para Raja lainnya.

Raja Penyihir Utgard Loki, memutar jemarinya sambil bersandar pada singgasana kayu. Dia dengan ringan menepuk-nepuk sandaran tangan singgasana dan memandangi empat raksasa yang mengekspresikan etiket di depannya.

Mereka awalnya lima tapi sekarang menjadi empat.

Kursi kosong di antara lima jari masih belum terisi dan Raja Penyihir tidak berencana untuk mengisinya dengan tergesa-gesa.

Raksasa Malam, Abalt, diam. Raksasa Makhluk Buas, Ort, menjaga kata-katanya. Alhasil, orang yang membuka mulutnya adalah Raksasa Laut, Grund.

“Pecahan jiwa Garmr ditemukan di Midgard.”

Kematian Balzak, yang telah jatuh karena kata-kata manis dari Bress si Tiran, tidak sia-sia. Raksasa-raksasa itu mendapatkan banyak informasi yang telah mereka lewatkan.

Raksasa tidak melihat Midgard dan alasannya sama dengan Asgard. Jumlah jejak Perang Besar sangat sedikit di Midgard sehingga probabilitas pecahan jiwa yang ada di sana juga rendah.

Selain itu, itu bukan tanah yang bisa didekati raksasa begitu saja.

Pada saat Erin dihancurkan, raja para dewa, Odin, yang bisa digambarkan sebagai akar Asgard, mendirikan penghalang besar untuk melindungi Midgard. Itu untuk menghindari kehancuran yang dihadapi Erin.

Setelah penghalang didirikan, para Dewa Asgard tidak bisa datang dan pergi ke Asgard sebebas sebelumnya. Menyebarkan pasukan besar juga menjadi lebih sulit

Namun, itu sama untuk musuh-musuh Asgard. Karena itu adalah penghalang yang sangat besar, celah hanya bisa dibuat. Jadi dimungkinkan untuk bersembunyi di Midgard sedikit demi sedikit melalui celah kecil tapi jumlah raksasa yang bisa datang dan pergi seperti ini terbatas. Tak bisa diketahui apakah mereka makhluk lemah seperti Fomoire, tapi bagi raksasa, yang berada di antara lima jari, bersembunyi adalah sesuatu yang mustahil.

“Para prajurit Valhalla adalah orang-orang yang membunuh Balzak.”

Tidak ada apresiasi atas Balzak yang melakukan sesukanya dan mati karenanya. Dia hanyalah seorang pria yang terburu nafsu yang bertujuan untuk kursi dari lima jari, bahkan tanpa mengetahui tempatnya.

Namun para prajurit yang mengalahkan Balzak berbeda. Mereka telah memperoleh dua pecahan jiwa Garmr dalam waktu singkat.

Dan tempat-tempat di mana pecahan-pecahan itu ditemukan saling berdekatan.

Beberapa bulan telah berlalu sejak tak ada kemajuan dalam pencarian di Svartalfheim, Alfheim, dan wilayah sekitar Asgard.

Mungkin Midgard adalah tempat dengan pecahan yang paling banyak.

Sambil Asgard telah mengerahkan prajurit, barangkali mereka juga harus melakukan hal yang sama.

Atas saran Grund yang hati-hati, Utgard Loki mengangguk pelan. Dia memukul sandaran tangan singgasana beberapa kali lagi lalu menutup matanya dan berkata, “Balgad.”

“Katakan, Rajaku.”

Balgad, Raksasa Bumi, yang juga merupakan salah satu dari lima jari, mengangkat kepalanya. Raja penyihir menggulirkan jemarinya lagi dan berkata, “Aku akan mempercayakan tugas Midgard kepadamu. Hanya saja, jangan terburu-buru. Aku tidak ingin kehilanganmu, seperti Harad.”

Raksasa Kekuatan, Harad.

Kematian terakhirnya benar-benar heroik tapi melihatnya dari sisi lain, itu benar-benar kematian payah.

Dia mengabaikan perintah Raja dan mati di tangan Thor karena menunda-nunda. Itu adalah kecerobohan yang tak bisa dimaafkan.

Tapi terlepas dari itu, Raja Penyihir menyesali kematian Harad. Kematiannya belum dimasukkan dalam perhitungan sang Raja Penyihir.

Balgad, yang merupakan yang terbesar di antara para raksasa, memiliki tubuh yang terbuat dari batu dan tanah. Dia mengangguk berat dan menerima peringatan dari Raja lalu meminta.

“Rajaku, apakah aku bisa menggunakan Sigil untuk berjaga-jaga?”

Jari-jari lainnya menunjukkan reaksi di hadapan Raja penyihir. Raksasa Laut, Grund, mengerutkan kening dan Raksasa Malam, Abalt, memandang Balgad. Ort, Raksasa Makhluk Buas, hanya tertawa tanpa suara.

Sigil, pembunuh dari ras yang sama.

Dia adalah orang berdosa yang tak hanya membantai kawan-kawannya untuk melakukan kejahatan, tapi dia juga tak tahu tempatnya dan bahkan berdiri melawan Raja Penyihir.

Alasan mengapa sang Raja Penyihir tidak membunuhnya dan memenjarakannya bukan untuk memberinya rasa sakit. Hanya untuk diperalat suatu hari nanti.

“Aku akan mengizinkannya.”

“Terima kasih.”

Raksasa Bumi, Balgad, mengucapkan terima kasih kepada Raja Penyihir. Grund, sang Raksasa Laut, juga memiliki keluhan atas keputusan ini tapi dia tidak mengajukan keberatan terhadap sang Raja. Raksasa Makhluk Buas, Ort, baru menganggap itu menyenangkan dan Raksasa Malam, Abalt, tetap diam.

Balgad berdiri dari tempatnya. Dia, yang merupakan yang terbesar di antara lima jari, berbalik bersama dengan senyum tipis.

 

Raja Ivar memberikan kamar untuk setiap prajurit Valhalla. Karena itu, Tae Ho bisa duduk di ranjang kamarnya dan bercakap-cakap dengan Adenmaha satu lawan satu.

“Memanggilku tepat setelah apa yang terjadi kemarin bukannya berlebihan?”

“Kau adalah satu-satunya kesenanganku. Ini untuk bertahan hidup setiap hari.”

Ketika Tae Ho berbicara dengan suara seolah sedang sekarat, Adenmaha tertawa seolah-olah itu tidak masuk akal dan kemudian menyilangkan tangannya lagi.

“Kau juga bisa memanggil Rolo.”

“Aku ingin melihatmu.”

Pertama, dibandingkan dengan Rolo, kau bisa bercakap-cakap dengannya, dia lucu, cantik, baik dan yang terpenting, bisa berubah menjadi manusia sehingga takkan menyebabkan masalah di dalam kamar.

Bila dia memanggil Rolo, akan jelas bahwa kamarnya akan berantakan.

Sewaktu Tae Ho berbicara dengan santai, Adenmaha tersentak tapi mendengus lagi.

“Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dengan melakukan itu.”

“Kenapa tidak mendapatkan apa-apa? Padahal ada.”

Saat Tae Ho mengulurkan tangannya, Adenmaha mengerutkan kening dan kemudian mengeluarkan surat dari saku.

“Ini, surat penghiburan.”

Itu adalah surat yang ditulis oleh Heda. Seperti yang dia tulis lagi setelah sehari tak ada banyak konten di dalamnya, tapi dia mendapatkan kembali kekuatan ketika berpikir bahwa ada seseorang yang menulis surat untuknya.

‘Tentara tidak tergila-gila pada surat tanpa kepentingan.’

Tae Ho mulai membaca surat itu dengan ekspresi yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan kemudian Adenmaha mendecakkan bibirnya dan bertanya dengan hati-hati, “Tuan… nim. Apakah itu kasar?”

“Ini.” Tae Ho langsung menjawab.

Adenmaha memeriksa lingkaran hitam yang berada di bawah mata Tae Ho dan bertanya lagi, “Kau bilang bahwa itu adalah pelatihan atribut, kan? Bagaimana caranya kau berlatih?”

“Ini pada dasarnya seperti melatih kekuatan Dewa. Kau hanya memanifestasikan atribut dan menanggungnya seperti itu. Perbedaannya dengan Ragnar adalah Rasgrid mendorongmu sampai batasmu...”

Ragnar adalah seorang guru yang sangat intelektual dan luar biasa, karena ia tahu bagaimana mengendalikan kecepatan pelatihan. Tapi Rasgrid berbeda. Dia hanya mendorongnya ke batasnya, seolah-olah dia sedang memuaskan diri.

“Apa kau ada kemajuan?”

“Jika tidak ada, aku akan sedih.” Dia menjawab dengan wajah sedih tapi Tae Ho sendiri pun tidak tahu tentang kemajuannya. Saat dia hanya memeras semua yang dia miliki, dia tidak punya waktu untuk mengujinya.

‘Tapi aku masih mengalami beberapa kemajuan.’

Pertama, waktu dia bisa mengeluarkannya lebih lama dari sebelumnya. Bukankah itu menjadi lebih lama karena dia memiliki sesuatu untuk dikeluarkan?

Sementara Tae Ho membuat perhitungan yang menyedihkan, Adenmaha, yang sekarang memiliki wajah penuh kasih sayang, bertanya lagi.

“Dan kau bilang kau berlatih dengan Scathach di malam hari, kan?”

“Itu bahkan har... Sekarang aku mengerti, apakah mereka berdua saling kenal?”

“Sedikit. Dia adalah wanita terkenal.”

Dia adalah Ratu Negeri Kegelapan dan pada saat yang sama seorang penyihir kuat yang telah mengumpulkan beberapa kekuatan mistis. Selain itu, dia adalah guru prajurit terkuat, Cu Chulainn.

“Dan kau tidak terkenal, Adenmaha?” Tae Ho bertanya tanpa berpikir saat ini juga. Apapun masalahnya, Adenmaha juga seorang Dewi.

Tapi Adenmaha tersentak sekali lagi dan menjawab sambil memalingkan muka seolah-olah dia menjadi marah.

“Pria yang bertanya terlalu dalam tidak populer.”

“Oh, jadi kau tidak terkenal. Jadi begitu.”

Saat Tae Ho berbicara sambil meniru Heda, Adenmaha menjadi marah lagi. Tae Ho tertawa dengan murah hati seperti Bracky dan kemudian menjatuhkan tubuhnya dan berkata, “Omong-omong, itu juga sulit. Menerima kekuatan Tuatha De Danann tidak mudah.”

Melainkan, pelatihan atribut adalah bagian yang mudah. Itu karena dia hanya meningkatkan jumlahnya, seperti ketika dia meningkatkan kekuatan Dewa.

Namun, kekuatan Tuatha De Danann berbeda. Itu tidak berhenti pada memperkuat kekuatan mentalnya tetapi ketika Scathach mentransmisikannya dengan beberapa sihir dan mistis, ia harus belajar.

Sementara Tae Ho menjerit, Adenmaha mendengus dengan wajah agak bangga.

“Tentu saja. Jangan memandang rendah Tuatha De Danann.”

“Sekarang aku mengerti, tidak bisakah aku belajar darimu? Kau juga seorang Dewi Tuatha De Danann.”

Scathach bukan seorang Tuatha De Danann. Meskipun perbandingannya agak berlebihan, Adenmaha adalah penduduk asli dan Scathach adalah orang asing yang telah mempelajari budaya mereka.

Namun Adenmaha memasang wajah bermasalah atas pertanyaan Tae Ho.

“Mm, bukannya aku tidak bisa...huh, belajar saja dari penyihir itu.”

“Yah, jadi begitu. Aku minta maaf karena menanyakan sesuatu yang mustahil.”

Jika Adenmaha adalah orang biasa A, maka Scathach adalah peneliti asing yang memiliki gelar master.

“Aku ingin kembali.”

“Benar, terima kasih untuk hari ini juga.”

Tae Ho mengeluarkan Batu Panggil dan akan berdiri dari tempat tidurnya. Tapi kemudian Adenmaha tampak ragu sejenak dan kemudian mendorong Tae Ho lagi dan meletakkan bibirnya di dahinya.

“Adenmaha?”

Perasaan lembut dan hangat menyebar dari dahinya. Saat Tae Ho berkedip, Adenmaha mengangkat bahu, seolah menyembunyikan rasa malunya.

“Ini juga merupakan berkat dari Dewi. Semangat. Aku mendengar dari Rolo bahwa tuan menyukai hal-hal ini.”

“Sepertinya ada pernyataan yang menyesatkan dalam ucapannya tapi terima kasih. Bentar, setelah kau melakukannya, tidakkah kau akan melakukannya lagi? Tunggu, aku akan menunggumu.”

‘Benar, apa yang kau kumpulkan adalah berkat dari Valkyrie.’ Cu Chulainn, yang diam, berkata dengan santai dan Adenmaha mendorong kembali Tae Ho, yang mencoba untuk menunggangi punggungnya, dengan semua kekuatannya.

“Apa yang sedang kau lakukan!”

Itu tampak seperti lelucon tetapi masih membutuhkan hukuman yang tepat. Dan Siri, yang telah tiba pada waktu yang tepat, memandang Tae Ho yang jatuh di tempat tidurnya dan mengerutkan kening.

“Itu agak tidak enak dipandang.”

“Kapten Siri?”

Tae Ho buru-buru bangkit dan menoleh untuk menatapnya. Siri dan Adenmaha berbagi salam dengan mata mereka lalu berbalik untuk melihat Tae Ho lagi. Dia tersenyum yang sama seperti sebelumnya dan berkata, “Berbahagialah Tae Ho. Kita akan diutus.”

Siri juga menerima kelas dari Rasgrid.

Tae Ho berdiri dari tempat tidurnya di bawah sinar harapan.

 

Ada gunung besar dan hutan di ujung utara Kataron yang disebut Tanah Suci. Itu adalah tempat yang terkenal memiliki beberapa sumber air panas dengan efek yang baik tapi yang lebih terkenal adalah dua Shinsoo.

Pemberitahuan yang datang dari utara terkait dengan Tanah Suci. Sepertinya makhluk buas di Tanah Suci mulai menjadi lebih ganas dan dewasa ini, beberapa monster mulai muncul darinya.

Ketika pecahan jiwa Garmr juga menunjuk ke arah utara, Ingrid memutuskan untuk meninggalkan Kataron dan menuju ke Tanah Suci.

‘Omong-omong, ini masih bagus.’

Keluar berekspedisi berarti bahwa mereka akan bergerak dan dia tidak akan bisa bergerak sambil bergerak.

Tidak, jujur saja, itu bukan tidak mungkin tapi apapun masalahnya, dia yakin dia akan melakukan lebih sedikit dari itu.

‘Pada pandangan pertama sepertinya pikiranmu sudah busuk tapi...aku mengerti kau, seperti yang telah aku amati selama seminggu terakhir.’

Pelajaran Scathach telah ditambahkan di atas pelajaran Rasgrid.

Sementara Cu Chulainn menghiburnya, para prajurit Valhalla berbagi perpisahan dengan Raja Ivar dan bawahannya. Tae Ho memberkati Helga, yang akan menjadi pengikut setia Idun dan memberinya sebatang emas dari Valhalla.

“Kita akan pergi sekarang.”

“Tunggu sebentar, Valkyrie Ingrid. Kami telah menyiapkan sesuatu untuk kalian semua.”

Raja Ivar berbicara dan kemudian bertepuk tangan. Lalu dua kereta kuda besar dan beberapa kuda perang muncul dari tempat yang jauh.

“Ini hadiah kecil untukmu karena telah menyelamatkan Kataron. Kau bilang kau masih memperbaiki kapal, jadi kau tidak bisa menggunakannya dengan benar, kan?”

“Terima kasih atas pertimbanganmu, Raja Ivar. Biarkan berkat Odin bersamamu.”

Ingrid memukul dadanya lalu memberkati Raja Ivar. Para prajurit Valhalla juga tersenyum senang karena kaki mereka tidak akan sakit.

Tapi itu berbeda untuk Tae Ho dan Siri.

Kereta kuda! Kereta kuda sialan!

“Bagus sekali. Kalian akan dapat terus berlatih di jalan.”

Rasgrid memandang Tae Ho dan Siri serta tersenyum cerah. Sepertinya itu karena mereka menjadi lebih dekat atau dia telah berubah, karena kesan yang dia berikan sangat berbeda dari ketika mereka melihatnya di Black Fortress.

Alhasil Tae Ho dan Siri harus fokus pada pelatihan di sudut kereta kuda.

Dan entah berapa lama telah berlalu...

Ketika malam tiba, Siri bisa dibebaskan dari pelatihan dan bisa tidur dengan nyaman.

Tapi Tae Ho juga berbeda kali ini.

“Begitukah? Kau pindah ke utara? Aku mengerti, jadi mari kita mulai kelasnya.”

Tidak masalah entah itu mimpinya atau sedang bepergian.

Sementara Scathach mendesaknya untuk melanjutkan pelatihan dengan wajah biasa, Tae Ho memutar matanya dan melihat ke arah pohon apel emas. Sepertinya mempertahankan pesan suci cukup memakannya sejak Idun, yang tertidur, mengangkat kepalanya dan kemudian mengayunkan tinjunya. Meskipun dia tidak bisa melihat bibirnya, sepertinya dia secara kasar mengatakan untuk menghibur.

‘Sinar harapan, apanya.’

Empat hari berlalu dari jadwal yang tidak berbeda dari sebelumnya dan para prajurit Valhalla mencapai kota besar di utara, Radetza.
Load comments