Back to top

Campione EX 2-4

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
*Gashan!*

Itu adalah suara kedua dari jendela kaca yang pecah yang sudah kedua kalinya hanya di malam ini.

Elang tersebut tiba-tiba terbang ke dalam kereta yang Aisha naiki. Ia menangani jendela dan dengan mudah menerobos.

Namun, tidak ada satu pun penumpang di sekitar jendela yang pecah.

Meskipun banyak pecahan kaca berserakan, tak ada seorang pun di dalam kereta yang terluka.

Apa itu hanya kebetulan, atau perhatian? Apapun itu, elang misterius itu berubah tepat setelah pengganggu, dari sosok burung pemangsa yang mengesankan menjadi sosok manusia──.

Orang yang mengenakan jubah compang-camping yang ada di kafe manga tadi. Aisha menggerutu.

“Uuu. Jadi benar orang sebelumnya seperti yang kukira.”

“Sungguh gadis yang gelisah. Tiba-tiba melarikan diri tanpa mendengarkan pembicaraanku.”

[Pemuda] itu berbicara dengan nada hati.

Pemuda itu memiliki postur tubuh kecil dan tampan yang luar biasa. Dia memiliki rambut hitam dan fitur halus.

Tetapi berbeda dengan usia penampilan luarnya yang berada di tengah masa remajanya, ia memiliki kepribadian yang mengejutkan. Di sisi lain para penumpang di dalam kereta bingung.

──Siapa mereka?

──Apa ini semacam pembuatan film?

──Tadi, bukankah sesuatu seperti burung masuk?

Jumlah orang di dalam kereta ini sekitar 10 orang. Tiga gadis muda yang tampaknya berteman saling berbisik. Namun, tidak ada yang membuat keributan.

Mereka merasa kewalahan. Dengan kemunculan pria muda yang berhadapan dengan Aisha.

Tak salah lagi. Aisha berbicara dengan tegas sebagai pembunuh dewa.

“Kau, dewa bukan?”

“Tentu. Sudah diduga dari seorang pembunuh dewa yang dapat mengetahuiku segera.”

Hati dan tubuh Aisha meledak dengan kekuatan yang kuat.

Kesiapan tempurnya untuk bertemu musuh bebuyutannya, para dewa ada di tempatnya. Tentu saja Aisha yang mencintai perdamaian tidak condong ke tindakan kebiadaban seperti itu.

Dia tidak tapi, dewa muda itu jelas menunjukkan atmofer berbahaya.

Meskipun kekasaran sekecil apapun tidak bisa dirasakan darinya, matanya yang jernih menusuknya dengan semangat pertempuran!

“Lihatlah ini. Aku tidak punya sedikit pun niat untuk bertarung dengan──”

“Maaf saja. Sekalipun kau tidak, tapi aku sendiri yang punya.”

Dewa dalam penampilan muda menyeringai.

“Tuanku bermaksud menjatuhkan hukuman dewata kepadamu. Aku algojonya.”

“Hukuman dewata!?”

Aisha terkejut.

“Aku, aku, tidak melakukan hal buruk. Aku hanya tiba di sini!”

“Tentang itu. Dunia ini──itu memiliki poin yang sangat berbeda dari dunia tempat kau dilahirkan.”

“Eh?”

Aisha bingung oleh pemberitahuan pemuda itu.

Cara dia berbicara menyadari status Aisha sebagai seorang wisatawan yang telah melintasi dunia paralel yang tak terhitung jumlahnya. Dewa pemuda dengan ramah berbicara lebih jauh.

“Inilah [dunia di mana keberadaan pembunuh dewa tidak diijinkan]. Di duniamu, ada kemungkinan lima atau enam pembunuh dewa ada pada saat yang sama. Tetapi, di sini──bahkan dengan hanya kelahiran satu dewa saja, [Raja Akhir] akan turun dengan cepat.”

Raja yang muncul di ujung dunia ini, pahlawan pemusnahan raja iblis!

Aisha menatap keheranan. Dia tidak percaya ada satu pun di sini. terlebih lagi, itu adalah pahlawan yang jauh lebih rajin daripada Raja Rama yang pernah dia temui.

“Ketika aku berpikir dunia ini seperti versi 1.2, tapi tak kusangka ada perbedaan semacam ini…….Lalu, apakah kau Raja Akhir ini?”

“Bukan. Sampai akhirnya aku tidak lebih dari pelayan orang itu. Untuk saat ini.”

“Aku mengerti ……”

Orang ini sendiri bukan pahlawan-sama. Aisha sedikit lega.

Tapi, pemuda itu mengatakan ini dengan pandangan kurang ajar!

“Tapi aku mengambil pedang keselamatan menggantikan tuanku dengan niat untuk memberikan pembalasan yang pantas kepada pembunuh dewa terkutuk itu. Putuskan sendiri, penyihir.”

“Tidak mungkiiin─!?”

Aisha menyesalkan mendengar pernyataan pemuda itu. Saat itu juga.

Sekitar sepuluh penumpang yang menatap keduanya dari jauh, suasana mereka tiba-tiba berubah. Meskipun semua orang bingung atau gelisah, tiba-tiba mereka penuh amarah.

Selain itu, kemarahan itu diarahkan pada pemuda yang adalah dewa.

“Oi bocah! Tidak dapat dimaafkan bahwa kamu mencoba untuk menyakiti orang itu!”

“Benar! Malulah kamu berkelahi dengan seorang gadis!”

“Meskipun kamu hanya anak-anak, kamu yang terburuk! Kamu terlalu nakal!”

Para penumpang mengkritik pemuda itu.

Semua orang berniat melindungi Aisha yang hanya seorang pejalan kaki.

“Ara....semua, terima kasih banyak!”

Aisha merasakan panas di dadanya.

Tidak juga, orang juga bisa melihat ini sebagai otoritas pesonanya yang bekerja secara otomatis seperti biasa untuk menjerat orang-orang di sekitarnya. Tapi, hanya karena itu, bukan berarti Aisha adalah orang yang begitu merosot, dia akan lupa untuk merasakan rasa terima kasih dan emosi yang dalam terhadap kebaikan manusia.

Para penumpang yang berada di dalam kereta yang sama hanya secara kebetulan. Mereka semua datang ke sisi Aisha.

Mereka bermaksud menggunakan tubuh mereka sendiri untuk melindunginya dari si pemuda.

“Fufufufu. Kalian benar-benar heroik.”

Di sisi lain, pemuda itu tersenyum.

Senyum yang kuno. Dia mengumumkan bersama dengan senyum redup itu.

“Sungguh mengagumi kalian semua. Tetapi, aku terkejut bahwa kalian semua menghalangi jalanku sang pahlawan. Mundur.”

“Eh──!?”

Aisha terkejut.

Orang-orang yang seharusnya melindungi ratu pembunuh dewa dengan mudah melangkah mundur di belakang Aisha. Selain itu, mereka berlutut di lantai kereta!

Selain itu, mereka bersujud kepada pemuda itu dan menggosok dahi mereka di lantai.

Semua orang melakukan itu. Tidak ada satu pun pengecualian. Pemuda itu mengangguk puas.

「Anak baik, kalian semua. Kerja bagus!”

“Jadi, jadi kau juga memiliki kekuatan yang sama......”

Otoritas pesona yang sama dengan yang dimiliki oleh pembunuh dewa Madam Aisha.

Pemuda itu menunjukkan itu dan kemudian dia berjalan santai ke arahnya. Dia akhirnya menghadap Aisha dan mengulurkan tangan kanannya──

“Wahai putri dewi dengan rambut cantik, tolong buka istana ibu bumi!”

Aisha segera mengucapkan mantra kekuatan.

Dewi musim semi dan musim dingin Persephone. Ini adalah kalimat untuk membebaskan otoritas itu. Sebenarnya dia sudah mempersiapkan ini sejak melarikan diri dari kafe manga.

Untuk membalikkan otoritas penyembuhan yang penuh kebajikan untuk memanggil [musim dingin dan salju es] ──.

Pengalaman bertarung Aisha dengan ini tidak terhitung jumlahnya. Sejak saat dia melirik dewa pemuda, dia memiliki firasat bahwa dia tidak akan bisa melepaskannya hanya dengan melarikan diri.

“Wahai badai salju beku, datanglah padaku!”

“Nuuh. Jadi kau berniat untuk membekukan dewa perang timur ini dalam es!”

Mantra kekuatan yang dinyanyikan menjadi gelombang dingin yang menghentikan kehidupan segalanya.

Gerakan dewa pemuda juga berhenti. Tepat setelah itu kereta juga masuk ke Stasiun Ochanomizu dan semua pintu dibuka setelah kereta berhenti.

Aisha berlari keluar tanpa ragu-ragu.

(Omong-omong, udara beku yang dia lepaskan menyebar melalui kereta yang dia naiki sampai peron stasiun. Penumpang lain, pengemudi, dan bahkan orang-orang di peron tertelan. Sekitar 70 atau 80 orang didorong ke hipotermia ……)

Orang-orang menjadi lemas dan tidak bisa bergerak karena suhu tubuh mereka turun secara drastis.

Aisha berlari melalui itu sebagai satu-satunya yang energik.

“Aku, aku minta maaf, semuanya! Jika ada kesempatan suatu hari aku akan benar-benar meminta maaf untuk ini~!”

Seolah ingin mengejar punggungnya, udara dingin juga merayap keluar sampai di luar stasiun.

Rasanya itu akan menyebar hingga rentang yang relatif luas──tidak, jika dia ceroboh, rasanya itu juga bisa menyebar di tiga lingkungan Yoda, Bunkyou, dan Taitou. Tapi saat ini dia tidak peduli soal itu.

Lari. Lari. Aisha sungguh-sungguh tidak melakukan apapun selain melarikan diri dengan kaki berlari yang dia banggakan.

Ketika melarikan diri, seseorang harus berlari dengan segenap kekuatannya. Itu adalah kebijaksanaan wisatawan yang Aisha peroleh agar selamat dari perjalanan berbahaya.

Namun, ketika dia tiba sampai Nikorai-do dekat stasiun──

Raungan makhluk iblis tiba-tiba bergemuruh.

 

oooooooOOOOOOOOOOOOOONNNNNNNNN-!

 

“Oh? Rasanya aku pernah mendengar ini sebelumnya dari suatu tempat?”

Aisha memiringkan kepalanya sambil berlari.

Tepat setelah itu, kali ini suara gemuruh *DOOOOOOOOOOOONN!* Bangunan yang dihancurkan mencapai dia. Itu adalah suara Nikorai-do yang baru saja dia lewati hancur.

Nikorai-do. Nama aslinya adalah Katedral Kebangkitan Kudus di Tokyo.

Pada akhir abad ke-19, Santo Nicholai tiba di Jepang untuk menyebarkan ajaran Gereja Ortodoks Rusia. Katedral ini dibangun di sini dan disebut menggunakan nama St. Nicholai.

Itu adalah tempat perlindungan yang telah mengalami gempa bumi Great Kanto dan Great Tokyo Air Raid.

Seekor [babi] menyerbu dan menghancurkan kubah dan atap dari dalam gedung.

Seekor babi hutan dengan tubuh raksasa yang panjangnya mencapai 20 meter. Seluruh tubuhnya hitam dan kekar berotot. Matanya sangat tajam dan bersinar. Raungan mengerikan keluar dari mulutnya.

──OOOOOOOOOOoooooooooooooNNNNN!

Itu adalah auman yang disertai gelombang kejut.

“KYAAAAH!?”

Aisha dihempaskan oleh suara itu dan jatuh.

Lalu angin bertiup. Pada awalnya itu sangat ringan. Tapi itu segera berputar menjadi angin puyuh, dan tak lama kemudian menjadi angin kencang yang berhembus ribut—— tiba-tiba dewa pemuda muncul di depan Aisha.

Babi raksasa telah menghilang tanpa disadari.

“Kau membuatku menghabiskan banyak usaha, pembunuh dewa.”

“Aku, aku kenal seseorang yang memiliki otoritas yang sama denganmu!”

“Fufufufu. Wahai penyihir yang tahu musuh bebuyutan dewa perang Verethragna. Permainan ini sudah berakhir. “

Dewa perang timur Verethragna memberitahu dengan senyum kuno.

Tapi, manusia yang menyerah dari itu tidak mungkin membunuh dewa. Aisha mati-matian mencari jalan untuk bertahan hidup. Dia melihat sekeliling dengan gelisah sementara masih terduduk.

──Apa yang membuka jalan misterius itu kemungkinan besar adalah keputusasaan itu.

“Ya ampun!”

“Mu!? Gerbang suaka juga dibuka di sini!”

Verethragna mengerutkan kening.

Jalan di depan Nikorai-do. Tiba-tiba sebuah konvergensi cahaya terwujud di sana.

Cahaya kecil yang tak terhitung jumlahnya berkumpul. Mereka memancarkan cahaya seperti nebula. Aisha langsung sadar dengan insting penciptanya.

“Kewenangan koridor, karena aku pikir itu tidak hilang!”

Dia berdiri dengan *pyon!* seolah-olah ada pegas dalam dirinya dan melompat ke arahnya dengan penuh semangat.

Dia melompat ke cahaya yang tampak seperti nebula. Di sisi lain pasti akan ada tanah yang luas di mana petualangan yang menyenangkan tengah menunggunya──.

Aisha pergi dengan keyakinan seperti itu. Atau itu yang seharusnya terjadi.

Namun, begitu dia memasuki koridor cahaya, dia mendengar suara yang turun dari langit.

[Aku tidak akan melepaskanmu, pembunuh dewa.]

“Eh!?”

[Atas nama Raja Akhir Mithra, dan penguasa keabadian dan waktu Zurvan, kau diundang ke kastilku. Membuka gerbang suaka menjadi kesalahan fatalmu.]

“HIEEEEEEEEEH!?”

Tujuan yang awalnya koridor terhubung──.

Itu diubah dengan paksa. Aisha kehabisan akal ketika dia menyadari itu.