Campione EX 3-4

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

“Aku akan mencoba masuk ke dalam sendiri. Semuanya, tunggu di sini.”

Godou memberitahu semua orang di taman yang indah nan misterius.

Setiap orang dari kelompok perempuan yang adalah temannya yang diberkati dengan bakat maupun kemampuan.

Tapi, dia seharusnya tidak membawa mereka berkeliling dalam situasi di mana ada kemungkinan pertemuan dengan semacam dewa. Jika musuh seperti itu menyerang, mereka mungkin terseret ke dalamnya dan kehilangan nyawa mereka. Pertama Godou akan maju sendiri, dan para gadis akan mendukungnya dari belakang ketika itu diperlukan. Itu bagus.

“Tolong bantu aku ketika situasinya buruk bagiku. Tapi, ketika itu berbahaya maka kalian semua mundur tanpa syarat. Kalian juga bisa kembali ke bumi dulu tanpa aku.”

“Ya. Serahkan saja keputusan itu padaku.”

Erica menerima instruksi kasarnya.

Godou menaruh seluruh kepercayaannya pada kecerdasan ksatria merah. Godou mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya ke arah para gadis. Itu bukan untuk meminta mereka berjabat tangan atau menempatkan tangan mereka di atas satu sama lain.

Liliana memberinya sebilah pisau dalam pemahaman.

“Benda itu bukan? Ini.”

“Ya. Ini tepat setelah menggunakan avatar itu.”

“Tentu saja itu benar. Biarpun aku tidak mau itu adalah “sisa” Hikari.”

Erica menikamnya dengan duri sarkasme yang menyengat.

Godou tersenyum pahit sambil memegang pisau erat-erat dengan tangan kirinya. Kulitnya terluka dan darah segar mengalir deras.

Bilah dan gagang pisau menjadi basah oleh darah──.

Ena lalu mengambil pisau itu.

“Kami akan menggunakan ini dengan hati-hati. Yang Mulia juga berhati-hati.”

“Ya. Kalau begitu aku pergi.”

“Godou-san, aku akan berdoa agar keberuntungan perang bersamamu! Juga, tidak peduli siapa yang kamu temui tolong jangan biarkan itu mengganggu hatimu dan bersikaplah seperti biasanya!”

Yuri memanggil Godou yang sedang berjalan pergi.

Tampaknya dia samar-samar merasakan garis besar bahaya yang menunggunya dengan kemampuan penerawangan spiritualnya. Dia menenangkan amarahnya dan memperingatkannya dengan tulus.

Godou merasa senang akan hal itu saat melintasi taman.

Sebuah bangunan yang terbuat dari batu berdiri tinggi di depannya. Gaya bangunan ini menyerupai istana atau kuil. Dia mendorong ke dalam dan berjalan melalui koridor yang dibangun dari batu bata.

Itu adalah jalan yang lurus, jadi tidak mungkin tersesat.

Maju, maju.

Tak lama kekuatan penuh dari hati dan tubuh Campione.

Benar saja, mereka ada di sana. Para dewa yang merupakan musuh bebuyutan mereka yang membunuh dewa ada di dekat mereka. Luka di telapak tangannya sudah menutup.

Tubuh daging Kusanagi Godou yang memiliki ketangguhan di luar batas memasuki persiapan tempur.

Godou maju tanpa jeda dan tiba di aula besar. Ada takhta di sana dan juga memiliki ukuran yang memungkinkan sekelompok pengikut untuk bertemu dengan raja di sana.

Lalu—ada seorang raja di sana.

Seorang pria di masa puncak hidupnya duduk di atas takhta emas. Dia tidak hanya mengenakan pakaian untuk keluarga kerajaan, dia juga mengenakan keagungan seorang raja. Bahkan tak perlu bertanya, Godou yakin bahwa orang ini adalah [raja agung], terlebih lagi ia adalah seorang [raja besar para dewa].

Namun, bayangan kelelahan di wajahnya yang keras itu dalam.

Karena kesulitan yang telah berlangsung lama, kesuraman yang seperti karat yang tidak bisa dihilangkan terus melekat padanya.

(Dia mirip dengan Rama di masa lalu.)

Godou mendadak mengingat nama pahlawan itu.

Pria yang dulunya musuh besar dan kemudian menjadi temannya. Nama lainnya adalah Raja Akhir. Godou memanggil orang ini.

“Kalau tidak masalah beri tahu namamu. Kau mirip dengan kenalanku.”

“Kutebak begitu. Untuk pembunuh dewa selevelmu, tidak akan aneh bila kau telah bertukar pukulan dengan Raja Akhir lebih dari sekali.”

Dewa di atas takhta itu mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dia abaikan. Godou bertanya.

“Jadi, kau tahu, tentang dewa pembunuh raja iblis?”

“Tentu saja. Tidak seperti dunia tempat kau dilahirkan dan dibesarkan, Aku──Mithra yang layaknya matahari tidak lain adalah Raja Akhir di dunia ini yang aku jaga. Aku adalah pahlawan pemusnahan raja iblis.”

“………Serius?”

Godou tersentak dari kata-kata kekuatan yang keluar secara berurutan.

Dewa agung yang dihormati sebagai dewa terkuat sebelum penetapan Zoroastrianisme sebagai dewa utama Persia kuno, tapi setelah berdirinya Zoroastrianisme pun ia masih dihormati dalam status yang sama. Itu adalah Mithra. Dewa matahari, dewa hukum serta kontrak. Tapi, sampai dewa itu punya peran ganda sebagai Raja Akhir juga—

Godou ingin melihat ke langit.

“Jadi hal yang absurd seperti itu mungkin terjadi. Tapi, itu hanya jika kata-katamu tidak bohong.”

“Fuh. Lantaas aku akan menunjukkan buktinya padamu.”

Begitu Mithra yang duduk di atas takhta itu tersenyum, *GIIN!* duara logam terdengar.

Tiba-tiba, sebuah pedang lebar turun dan menikam lantai.

Godou melebarkan matanya dengan takjub. Dia familier dengan itu. Bilah pedang itu sangat panjang dan besar, hampir satu meter. Bilah pedangnya tebal seperti kapak. Selain itu bermata dua.

Itu adalah pedang kuat yang dipegang pahlawan Rama. Harta sakral pemusnahan raja iblis──!

“Pedang dewata keselamatan, ya……”

Luar biasa, bahkan senjata itu juga dimiliki oleh dewa ini!

“Sungguh pak tua absurd. Memikirkan kau benar-benar memiliki kartu truf yang paling “efektif” melawan kami—orang yang membunuh dewa”

“Sanjungan transparan.”

Kata Mithra. Bayangan di bawah matanya sangat dalam. Dia lelah.

“Kau mengerti bukan? Aku sudah…… tidak punya kekuatan cadangan untuk bertarung.”

“Yah, aku merasakannya samar-samar.”

Godou dengan cepat melihat itu.

Mithra di depannya benar-benar kuyu. Dia dalam kondisi yang tidak memiliki kekuatan yang memungkinkannya untuk bertarung melawan Campione muda. Dia terlalu kekurangan vitalitas.

Tapi, raja agung Mithra tersenyum dengan berani dan bergumam.

“Jangan cemas, pembunuh dewa. Aku telah mempersiapkan orang untuk mewarisi pedang keselamatan.”

“Eh──?”

“Selanjutnya, itu adalah seseorang yang juga kau kenal. Setelah kematian Mithra, orang itu akan menjadi orang yang mewarisi misi pemusnahan raja iblis dan menghancurkanmu……. Selamat tinggal!”

Itu adalah kata perpisahan yang terlalu mendadak.

Seluruh tubuh Mithra berubah menjadi debu bersama dengan pakaiannya tepat setelah dia mengatakannya.

Kepunahan raja. Sebagai gantinya, angin bertiup. Meskipun itu di dalam ruangan, embusan angin puyuh datang. Momen selanjutnya, Godou “!?” dalam keheranan.

Pedang dewata keselamatan──. Di samping pedang rahasia yang tertusuk di lantai, seorang pemuda tiba-tiba muncul.

Itu adalah seorang pemuda tampan dengan wajah yang segar dan mata almond. Itu adalah wajah yang famileir. Meskipun dia mengenakan jubah compang-camping, dia tidak merasa lusuh sama sekali.

Bahkan dia malah terlihat luhur karena karisma yang meluap dari dalam.

“Kalau dipikir-pikir......”

Godou perlahan mengeluarkan kata-katanya.

Dia sangat terkejut, jadi dia tidak bisa menggerakkan lidahnya dengan baik.

“Beberapa saat yang lalu, aku merasakan kehadiranmu ya......”

“Sangat menyenangkan bahwa salamku mencapaimu. Lama tidak bertemu, orang yang membunuh Verethragna. Kusanagi Godou──sebagai monster pembunuh dewa, kau telah mencapai banyak keagungan sampai sejauh ini. Fufufufu, ini aneh tapi aku merasa senang tentang itu.”

Orang yang menghancurkan setiap rintangan. Sang pemenang. Dewa Perang Timur.

Bisa dikatakan, Dewa Perang Verethragna──. Pemuda dengan nama dewata itu menunjukkan senyum kuno yang tampak redup di mulutnya.

“Begitulah seharusnya bagi orang yang mengalahkanku! Aku menantikan reuni denganmu!”

“......Yah, kita juga secara tak terduga bertemu di wilayah dewa takdir lima tahun yang lalu......”

Godou bergumam dan menatap Verethragna sekali lagi.

Kesempatan pertemuan sesaat pada pertempuran melawan dewa takdir. Di sana ia mengatakan [Mari kita bertemu lagi suatu hari nanti].

“Pada akhirnya kau menepati janjimu. Kesampingkan hal itu, katakan padaku, tempat apa ini yang terlihat seperti kuil?”

“Ini disebut Kuil Waktu Tak Terbatas.”

Memikirkan kembali, waktu yang dia habiskan sebagai teman dengan Verethragna pendek.

Selama beberapa minggu ia mengunjungi Pulau Sardinia untuk pertama kalinya, ia bertemu muka dengannya hanya beberapa kali. Tetapi terlepas dari itu, dia adalah [teman] untuk Kusanagi Godou. Tentunya Verethragna juga merasakan hal yang sama.

Itu sebabnya saat ini pun mereka berbicara dengan damai. Bahkan tak ada rasa tidak nyaman.

Verethragna berbicara lebih lanjut.

“Ini adalah suaka yang terletak di luar dunia fisik (getig) dan dunia spiritual (menog), dan bahkan di luar banyak dunia yang beragam. Tidak ada apa-apa selain kuil ini──ini adalah ruang yang terisolasi. Itu diciptakan oleh kekuatan dewata Raja Akhir Mithra dan penguasa keabadian Zurvan.”

“Meskipun kau mengatakan itu, semua itu terdengar seperti omong kosong bagiku.”

Godou menggerutu.

“Singkatnya, ini adalah ruang terisolasi yang merupakan singularitas yang bukan milik dunia mana pun, bukan?”

“Pemahaman itu umumnya benar. Kau juga telah belajar banyak dibandingkan dengan ketika kau hanya orang biasa.”

Verethragna menyeringai.

Pembicaraan semacam ini anehnya menyenangkan. Selanjutnya kata-kata keluar dengan sangat alami. Seperti yang diduga pemuda yang disebut dewa perang Verethragna dan Kusanagi Godou mungkin memiliki kompatibilitas yang sangat baik.

Namun sayangnya, mereka juga bukan lawan yang bisa dilepaskan begitu saja.

Godou bertanya untuk mendekati inti masalah.

“Tapi, aku sama sekali tidak mengerti keadaan yang memungkinkanku terbang dari Ochanomizu Tokyo sampai [suaka di luar ruang dan waktu ini]. Katakan padaku bagaimana itu bisa terjadi. Apakah ini terkait dengan Aisha-san──kenalan kami yang juga seorang Campione?”

“Fufufufu. Itu adalah sesuatu yang tidak perlu kau tahu.”

Kali ini Verethragna memotong pertanyaannya dengan ketus.

“Bila kau benar-benar ingin tahu, maka buat aku membuka mulutku dengan kekuatan.”

“Kekuatan, ya.”

“Umu. Kekuatan yang kau rebut dariku. Sepertinya kau sudah menangkapnya cukup jauh. Tunjukkan sedikit kepada pemilik sebelumnya.”

“Aku seorang pasifis. Aku tidak bisa bertarung begitu saja.”

“Pria sok ini. Kalau begitu apa boleh buat. Izinkan aku──untuk memulai segera.”

Begitu Verethragna menggumamkan itu, dia menghilang.

Pedang dewata keselamatan yang ditikam di lantai juga. Tapi di tempat sepasang dewa perang dan pedang, seekor banteng yang sangat kuat tiba-tiba muncul.

Ukurannya tidak normal. Belum lagi banteng, itu sebesar rumah bertingkat satu.

Benar juga. Dewa Perang Verethragna adalah dewa yang mengubah wujudnya menjadi sepuluh avatar dan meraih kemenangan!

──MuWooooooooh!

Banteng emas dengan tanduk yang luar biasa maju ke depan. Itu melakukannya sambil meraung dengan megah.

“Kalau begitu aku juga──!”

Godou juga segera menggunakan avatar Banteng.

Tanduk banteng raksasa itu mendekat. Dia meraih masing-masing dengan tangannya dan berdiri kokoh.

Dia memobilisasi otot-otot di seluruh tubuhnya dan melawan serangan banteng yang berusaha dengan eksplosif melesat ke ujung bumi——dia menghentikannya sepenuhnya dengan kekuatan kasar!

Kemampuan sederhana untuk memeras kekuatan manusia super dari bagian bawah tubuh.

Itu adalah Banteng Kusanagi Godou. Tapi, itu adalah kekuatan gaib yang memungkinkannya sampai mengangkat sebuah kastil atau gedung pencakar langit dengan kedua tangan.

Namun, dalam aspek kekuatan itu tidak kalah bahkan terhadap aslinya.

――MuWoooooooooooooooooooooooh!

Satu lagi gemuruh. Meskipun itu dihentikan oleh Godou, banteng itu tidak goyah dan kali ini ia melangkah maju secara perlahan dengan dorongan yang mendesak.

Itu adalah postur untuk “bersaing dalam kekuatan” melawan Godou yang menggunakan avatar yang sama.

“DAAAAAAAAH!”

Muoooooooooh!

Kedua belah pihak dengan ganas melolong bersama dan bentrok dengan seluruh kekuatan mereka. Kemudian,

Tiba-tiba──petir melonjak. Godou terlempar karena terkena langsung oleh itu.

“Uwah!?”

Campione memiliki perlawanan hebat terhadap sihir atau kutukan.

Itulah sebabnya bahkan setelah dihujani dengan serangan petir langsung, dia berhasil melewatinya dengan hanya menyengat seluruh tubuhnya. Tapi, serangan petir serupa menyerang Godou berturut-turut.

Petir pertama. Petir kedua. Petir. Petir. Petir. Petir.

Ketika dia melihat, banteng Verethragna berubah bentuk.

Tubuh besar itu masih sebesar rumah, dan masih memiliki dua tanduk seperti sebelumnya. Namun, binatang yang berdiri di depannya adalah Kambing dengan bulu hitam.

Kambing Verethragna menembakkan petir tanpa jeda dari dua tanduknya!

“Aku juga tidak bisa berbicara tentang orang lain tapi──Orang ini terus berubah tanpa lelah ya!”

Meskipun manifestasinya berbeda, mereka berdua sesama pengguna otoritas dengan sifat yang sama.

Pertikaian yang belum pernah terjadi sebelumnya melawan rival yang “setara dengan baik” dengan dia. Godou tanpa sadar tersenyum ganas. Lalu, dia meneriakkan mantra kekuatan kartu trufnya.

“Tuhan telah berfirman. Orang berdosa harus dihukum. Semoga tulang punggungnya hancur, semoga tulangnya patah, tendonnya robek, otaknya hancur—”

Tepat setelah itu, lantai di bawah kakinya retak.

Dari bawah tanah──binatang buas raksasa yang juga diri Kusanagi Godou yang lain si Babi Hutan keluar dan memenggal kepala Kambing Verethragna!

oooooooOOOOOOOOOOOOOOONN!

Raungan yang juga dipenuhi gelombang ultrasonik bergemuruh. Reruntuhan dengan berbagai ukuran menghujani dari atas.

Aula raja kuil di sisi lain dunia ini──lantai, pilar batu, dan juga langit-langit hancur dan dihancurkan sekaligus.

Oleh tubuh raksasa Babi Hutan yang melampaui total panjang dua puluh meter.

Bulunya hitam legam, gading tajam tumbuh dari mulutnya, dan tubuhnya sangat berotot.

Sebagai kartu truf yang bisa “dipanggil dengan cepat” dalam pertarungan apapun, monster itu melakukan pekerjaan yang baik atau lebih tepatnya mengamuk——

Itu terbunuh seketika.

OOOOoooooooNNNNNNNNNN!?

Babi Hutan meringis dengan suara bingung. Seorang pemuda berusia lima belas tahun berdiri di atas kepalanya.

Bentuk dewa perang Verethragna sebagai pahlawan. Dia── menusuk ujung pedang dewata yang bersinar dalam warna platinum ke kepala si Babi Hutan.

Pedang dewata keselamatan. Pedang yang ada demi pemusnahan raja iblis.

Sebagai pemegangnya, pemuda yang dinyatakan Verethragna secara heroik.

“Binatang iblis yang juga diriku yang lain! Kau benar-benar tangguh tapi, kau menghadapi lawan yang salah! Saat ini aku memiliki [baja] terkuat!”

OOOO────oooooNNNNNNN
!?


Raungan akhirnya menjadi seperti jeritan. Verethragna mendarat di tanah dalam bentuk pemudanya.

Meskipun dia memiliki tubuh kecil, dia memegang pedang besar yang panjangnya satu meter. Pemandangan dia berdiri di aula raja yang tertutup puing-puing benar-benar menggetarkan jiwa.

Pemuda ini bukan raja. Tapi dia dipenuhi dengan keagungan seorang jenderal besar, si pemenang.

Di sisi lain, Kusanagi Godou yang berada di sisi yang diserang adalah binatang buas, kepercayaannya adalah untuk hidup bahkan dengan kotor. Jika musuh bebuyutannya memegang kartu trufnya yakni pedang, maka dia tidak punya niat untuk berhemat──.

Verethragna tersenyum melihat senjata Godou.

“Kalau dipikir-pikir, kau juga mendapatkan kekuatan yang tidak kutahu ya.”

“Ini bukan di levelmu tapi, ini sangat berguna. Izinkan aku bertarung menggunakan ini di babak kedua.”

Pedang melengkung kuno yang memiliki kemiripan yang kuat dengan katana Jepang. Namun, pedangnya berwarna hitam legam.

Ama no Murakumo no Tsurugi──. Godou meraih pedang suci yang juga merupakan otoritas kedua dengan satu tangan dan mengarahkan ujungnya ke arah Verethragna. Tentu saja itu bukan perilaku seorang pendekar pedang.

Itu seperti kinerja batter mengumumkan kemenangannya sebelumnya ke arah pitcher.


Load comments