Campione EX 6-3

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
3

“Kamu baik-baik saja, Yang Mulia?”

“Bukankah tubuhmu sudah mencapai batasnya?”

“Yah......aku masih hampir tidak apa-apa, kupikir aku bisa bertahan. Aku bisa memaksakan diri kalau hanya sedikit lagi. Ini momen kritis, jadi aku akan bertahan sedikit lebih lama.”

“Baiklah. Tolong serahkan sisanya padaku.”

“Aku mengandalkanmu, Liliana. Tentu saja Ena dan Yuri juga. Aku akan meninggalkan Aisha-san pada kalian bertiga.”

Kusanagi Godou menarik diri dari medan perang selagi menggunakan kecepatan dewa avatar Burung Pemangsa.

Dia dikelilingi oleh para wanita yang mendukungnya. Seishuuin Ena dan Mariya Yuri, dan juga Liliana Kranjcar.

Madam Aisha masih tidur tanpa beban seperti biasanya.

Juga, mereka beberapa kilometer jauhnya dari kawah yang dicungkil Lancelot.

“......Tapi, aku dalam kondisi sangat sedih.”

Godou tersenyum masam.

Dia duduk di atas tunggul pohon untuk mengistirahatkan tubuhnya meski sebentar. Meskipun dia memojokkan Verethragna, tubuhnya hampir mencapai batas.

Pertama adalah kelelahan karena menggunakan avatar Burung Pemangsa dan Unta pada saat yang sama.

Selain itu adalah kerusakan yang ia terima dari petir keselamatan. Meskipun penghancuran diri itu diperlukan untuk membuat dewa perang terkejut dan mengaktifkan Unta, benar saja itu keras…….

“Tapi tidak seperti waktu itu dengan Rama, senjatanya tidak dipenuhi dengan racun.”

Hanya itu saja yang beruntung.

Sejumlah senjata yang dianugerahkan dari para dewa dan makhluk abadi bersembunyi di dalam petir sang pahlawan Rama. Ada juga beberapa yang memiliki efek khusus seperti racun dan sejenisnya. Kali ini Godou saling diserang rasa sakit seolah-olah seluruh tubuhnya akan terkoyak-koyak dan perasaan lesu. Tapi, yah, dia merasa masih bisa menanggungnya.

──Ya. Persyaratan untuk menggunakan Unta yakni terluka parah.

Sebagai gantinya, ia memperoleh daya tahan terhadap rasa sakit saat menggunakannya, sehingga ia bisa bergerak dengan cukup bersemangat.

Tapi, jika berkah itu hilang, kerusakannya akan menjadi tak tertahankan dan menghentikan gerakan Kusanagi Godou.......

Kepalanya merasakan sakit yang berdenyut adalah beban dari menggunakan Burung Pemangsa dan Unta secara bersamaan saat ini pun.

Ama no Murakumo no Tsurugi juga tidak dapat digunakan untuk sementara waktu. Terseret ke dalam ledakan yang disebabkan Lancelot dan rusak cukup serius. Jika dia dengan paksa menggunakannya, itu hanya akan pecah berkeping-keping.

Potensi pertempurannya kurang dari setengah dari kondisi normalnya. Godou berbicara dengan angan-angannya.

“Jika aku berhasil meng-KO-kan Verethragna, maka aku tidak perlu bertahan lagi tapi──”

Tepat setelah itu.

(……U, ku── kekuatan itu……!?)

Perasaan Lancelot yang mencengangkan disampaikan kepadanya.

Konflik melawan Verethragna yang seharusnya dikalahkan masih berlanjut! Lalu, orang yang tidak beruntung jelas adalah dewa perang bertombak——!

Godou memaksakan tubuhnya yang sakit dan berdiri perlahan.

“Aku pergi sekarang. Jika yang terburuk terjadi maka semuanya, lakukan apa yang kalian pikir adalah yang terbaik.”

Godou dengan sengaja tidak mengatakan apa-apa tentang Erica yang tinggal di Valencia karena kehamilannya dan tentang anak yang akan segera lahir.

Karena gadis-gadis ini yang telah menemaninya sampai saat ini──pasti tidak akan melakukan niat buruk.

Yuri berbicara sebagai wakil dari pihak yang melihatnya pergi.

“Ya. Aku berdoa semoga keberuntungan perang menyertaimu. Kembalilah dengan selamat…… Aku tidak akan mengatakan itu padamu. Karena itu tidak layak menjadi kata perpisahan untukmu.”

Itu adalah kata-kata gagah yang tidak sesuai dengan Yamato Nadeshiko yang anggun.

“Yap. Tunjukkan semua yang kamu punya, Yang Mulia. Benar juga, Ena ingin melihat kapan Kusanagi Godou menang dan mencapai hal-hal keterlaluan.”

Sementara itu adalah kata-kata ceria dan terbuka, itu dipenuhi dengan tekad yang cocok untuk seorang putri samurai seperti Ena.

Dan untuk yang terakhir, Liliana mengangguk padanya.

“Adalah tugasku untuk menggantikan ketidakhadiran rajaku. Itu berlaku apakah kamu hidup atau mati. Itu sebabnya apa yang harus kamu pikirkan saat ini hanyalah pertempuran di depanmu.”

“Ya. Aku benar-benar bersyukur mendengar itu dari kalian semua.”

Pertama-tama, sebagai seseorang yang anaknya akan segera lahir, dia seharusnya tidak menantang pertempuran semacam ini.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membesarkan anaknya. Namun, bahkan saat itu para gadis mengatakan bahwa tidak apa-apa baginya untuk bertarung. Mereka mendorong ke arah yang tidak berguna seperti dia. Dia benar-benar bersyukur.

──Dia harus pergi sekarang. Godou lari dengan kecepatan super Burung Pemangsa.

 

Di kawah setelah semuanya terhempas.

Hanya ada tanah dan pasir di tanah yang rata itu. Tidak ada pemandangan yang lebih suram dari ini. Hanya ada debu dan kotoran yang menghalangi pandangan.

Itulah mengapa itu benar-benar menonjol, dua orang yang bertarung di “dasar” kawah yang berbentuk seperti lesung.

Salah satu dari mereka dipersenjatai dengan tombak panjang dan perisai, sementara yang lain dipersenjatai dengan pedang dewata keselamatan.

Mereka adalah Lancelot yang tampaknya kehilangan kudanya dan Verethragna. Adegan itu mirip dengan perkelahian di stadion berbentuk mortir dengan kursi penonton diatur di sekitarnya. Godou tanpa sadar bergumam.

“Ini seperti sebuah arena……”

Lalu, yang kurang beruntung adalah lancelot.

Verethragna telah diserang keras bersama dengan tanah oleh serangan luar biasa. Lancelot juga dipersenjatai dengan tombak yang jauh lebih unggul dalam jangkauan melawan pedang. Namun dia berada dalam pertempuran defensif satu sisi.

Dia bahkan tidak bisa menusuk dengan tombaknya. Dia hanya mengangkat perisainya untuk memblokir serangan sengit.

Verethragna mengayunkan pedang dewata keselamatan tanpa istirahat. Dia menyerang tanpa henti untuk menebas ratu tombak. Pedang platina dan tubuh pemuda itu mengeluarkan listrik tanpa jeda.

“Kuh…….Tekniknya!”

“Maaf saja tapi aku pun tidak bisa menghentikan momentum ini lagi. Bila kau takut mati, maka pergilah dari hadapanku, wahai dewa perang barat!”

Petir dibuat setiap kali Verethragna bergerak dan berbicara.

Listrik meledak dari seluruh tubuhnya, membakar ruang di sekitarnya. Depan, belakang, kiri, kanan, diagonal, listrik terbang ke arah acak.

Lancelot didorong mundur dan kewalahan oleh serangan petir tanpa jejak dan keperkasaan pedang dewata.

“Rama juga menjadi seperti itu sebelumnya ya......”

Jadi bisa dikatakan itu adalah serangan petir tubuh. Godou mengingat.

Itu adalah bentuk pahlawan keselamatan yang berfokus pada serangan tanpa memikirkan rupa lagi. Selanjutnya, Verethragna terus menggunakan pedang dewata dengan intensitas buas.

Lancelot mengangkat perisai berbentuk galtrop dan mati-matian memblokir tebasan.

*Giin, giin, giin!*

Setiap kali pedang dewata yang dibalut petir mengenai perisai, suara logam yang tumpul akan bergema.

Lancelot memang hebat, dia berhasil bertahan. Namun, dia bisa menghadapi serangan petir yang tak henti-hentinya dari pedang dewata dan tubuh pemuda──

“Tsk. Betapa ganasnya kau, dewa perang dari timur!”

Bahkan prajurit veteran Lancelot menyusut kembali dari serangan petir yang berulang-ulang.

Di sisi lain, Verethragna yang diuntungkan sedang──memegang pedang dewata dan melepaskan petir dengan ekspresi jengkel. Dia juga bergumam seolah-olah meludahkan kata-katanya.

“Astaga! Benar-benar tidak mau pergi!”

Apa dia kesal dengan keuletan Lancelot?

Godou memperhatikan saat dia merasa ragu. Matanya dicuri oleh keganasan tubuh serangan petir, jadi dia tidak dapat mendeteksinya segera tapi──prana yang sangat besar mengalir dari Verethragna.

“Mengerikannya kekuatan yang keluar dari tubuh orang itu...... Begitu!”

Jika prana itu diukur dengan angka, maka hasilnya akan melampaui jumlah yang Campione seperti Kusanagi Godou atau dewa sesat lainnya miliki beberapa kali.

Itu benar. Ketika ada dua atau lebih pembunuh dewa, Raja Akhir akan menjadi lebih kuat──.

Untuk mencapai misi pemusnahan raja iblis, takdir akan mendukungnya. Fenomena ini telah disaksikan beberapa kali. Godou segera memberi instruksi.

“──Itu Hukum Agung Perjanjian! Kembalilah Lancelot!”

Sosok ksatria pelindung yang ditekan kembali lenyap bak fatamorgana.

Waktu Lancelot bisa bertarung dengan kekuatan penuh adalah singkat. Takkan ada artinya biarpun dia bertahan tanpa tujuan. Verethragna yang kehilangan musuh di depan matanya mengalihkan pandangannya ke arah Godou.

Tubuh pemuda dan pedang keselamatan masih memancarkan cahaya berderak tanpa henti.

Tapi, jarak tembak sekitar lima atau enam meter. Itu tidak mencapai Godou yang berada di kejauhan.

“Jadi kau juga bisa melakukan itu ya......”

Godou mengingat. Bagaimana Pertapa Agung Setara dengan Surga juga menyalin Hukum Agung Perjanjian.

Rasanya juga seperti melakukan peniruan tidak cocok untuk pahlawan Verethragna yang selalu mengikuti jalan yang mulia dan kebajikan, tapi tidak akan aneh biarpun dia bisa melakukannya. Godou bisa menerimanya dalam arti tertentu.

Verethragna sendiri berbicara dengan nada sinis dalam nada suaranya.

“Orang ini dengan baik hati memberikannya kepadaku. Benar-benar sesuatu yang patut disyukuri.”

“Orang?”

Godou memiringkan kepalanya.

Tepat setelah itu, topeng batu singa muncul di atas kepala Verethragna.

“Ini ukuran yang masuk akal. Saat ini ada dua pembunuh dewa yang ada di dunia ini, Kusanagi Godou dan Aisha of Alexandria. Dalam hal itu, menghapus mereka menggunakan Hukum Agung Perjanjian hanya yang paling bijaksana.”

“Zurvan, jadi itu kau!”

Topeng batu dengan ular hidup yang tumbuh dari kedua sisinya mengambang di udara──.

Berdasarkan dari apa yang Godou ketahui, objek semacam itu kemungkinan besar Zurvan. Lalu dia ingat.

“Kalau dipikir-pikir, Zurvan tidak hanya memerintah, kau juga adalah dewa pencipta, dan terlebih lagi kau adalah dewa takdir juga......”

“Memang. Tugas resmiku juga termasuk menjaga dan mengurus ‘takdir mutlak’.”

Zurvan berbicara dengan suara yang terdengar terlalu khusus.

Bentuknya terlalu berbeda dari dewa takdir yang ia temui lima tahun lalu, tapi dewa hermafrodit ini juga [pembawa takdir] !

Godou menyadari beratnya situasi dan menggerutu.

“Ini tidak masuk akal. Jadi kali ini aku menghadapi pahlawan dan dewa takdir bersama-sama. Bukankah ini lebih keras daripada waktu dengan Rama?”

Terlebih lagi, Godou saat ini kelelahan karena terluka parah.

Dia menggunakan Burung Pemangsa dan Unta secara terus-menerus sampai sekarang, tapi beban darinya membuatnya sakit kepala yang akan mencapai batas. Sulit untuk menahan rasa sakit yang terasa seperti akan membelah kepala.

Dia akhirnya berhenti menggunakan Burung Pemangsa dan hanya menyisakan Unta yang kuat terhadap rasa sakit sementara──

“Mau bagaimana lagi. Kurasa…… Aku sudah menyerah.”

“Apa katamu!?”

“Kau akan menyerah pada pertarungan, dan mengakui kekalahanmu? Memikirkan bahwa seekor monster pembunuh dewa akan memiliki karakter terpuji seperti itu. Dari pengalamanku, Zurvan, kejadian aneh ini adalah pertama kalinya di alam semesta. Ini mengejutkanku.”

Mendengar gumaman Godou──

Verethragna heran. Zurvan terlalu kurang lebih mengekspresikan [kejutan]-nya bahkan saat nadanya masih terlalu datar.

Sebaliknya, orang yang dimaksud Kusanagi Godou tersenyum ganas.

“Jangan salah paham.......Aku tidak melupakan pertandingan. Aku menyerah [menang sebagai hal yang biasa]. Entah aku akan hidup atau mati, menang atau kalah— Aku akan memutuskan dengan pertaruhan besar yang membuat masalah ini menjadi kebetulan. Bahkan aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku akan menyuruh kalian pergi bersamaku.”

[Otoritas kelima] tidur di kedalaman tubuhnya. Godou memanggilnya.

“Aku menggunakannya, kekuatan <anti-takdir>. Apa yang kuperoleh saat mengalahkan dewa takdir dunia kami—otoritas untuk menentang takdir.”
Load comments