Campione EX 6-4

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
4

“Hancurlah, gerbang takdir. Aku akan membuka jalanku sendiri.”

Godou merapal pendek──mantara kekuatan itu sangat pendek.

Memang semacam itu. Bagi pembunuh dewa, tindakan melawan takdir adalah seperti itu. Adalah hal yang wajar untuk dilakukan karena tidak ada formalitas yang harus dipatuhi.

Bagaimanapun mereka menjadi seperti ini dengan melawan seorang dewa dan membunuhnya sehingga mendapatkan sebagian dari kekuatannya.

Lalu kekuatan yang terlihat seperti gelombang menyebar dari tubuh Godou.

Itu adalah gelombang yang mengubah cara dunia dan alam semesta. Gelombang yang menghapus benang karma yang menyebabkan semua jenis fenomena, dan mengembalikan pola kain besar yang disebut takdir kembali menjadi “polos”. Dengan keberadaan yang disebut Kusanagi Godou sebagai sumber, itu menyebar ke setiap sudut dunia yang beragam.

Orang biasa tidak bisa melihatnya. Mereka tidak bisa merasakannya.

Namun bagi para dewa, tentu saja itu berbeda bagi mereka. Verethragna membuka matanya lebar-lebar dengan takjub.

“Musuh bebuyutanku. Jadi kau berusaha untuk mematahkan beban takdir......”

Pemuda itu bahkan tidak menyembunyikan kejengkelannya karena tubuhnya mengeluarkan serangan petir tanpa henti.

Ketika dia membuka kedua matanya lebar-lebar, cahaya keteguhan berada di dalam mata almondnya. Verethragna yang memiliki pedang pahlawan menikam pedang dewata di tangannya ke tanah.

Tubuh Verethragna segera berhenti memancarkan listrik. Zurvan berbicara.

“Ada apa, dewa perang?”

“Gunakan itu, Zurvan. Kusanagi Godou telah kehilangan sebagian besar senjatanya, dan dia terluka. Menyerang orang seperti itu dengan pedang akan memengaruhi kehormatanku. Kau harus menjadi orang yang memegang pedang keselamatan.”

“…………”

“Sehubungan dengan seni bela diri, aku memiliki sedikit keunggulan daripada kau. Kau harus menerima kebaikan pionirmu.”

“......Baiklah.”

Pedang dewata keselamatan melayang ringan dan terbang menuju Zurvan.

Topeng batu tidak memiliki apa pun seperti lengan. Namun, topeng yang dimodelkan mengikuti singa memiliki “ular hidup” yang tumbuh dari sisi kiri dan kanannya. Ular sisi kiri terjalin di sekitar pegangan pedang dewata dan topeng mengambil posisi seolah-olah itu tangan.

“Wahai petir, selesaikan misi pemusnahan raja iblis.”

Petir melesat keluar dari pedang dewata yang diangkat Zurvan di udara.

Itu menjadi serangan hukuman suci yang turun ke arah Kusanagi Godou di tanah. Godou yang bahkan tidak memiliki kecepatan super Burung Pemangsa lagi tidak punya cara untuk menghindar—

Pada kenyataannya, sinar harapan terakhirnya hanyalah otoritas anti-takdir.

(Apa sesuatu terjadi, atau tak ada yang terjadi, yang mana itu──!?)

Ada peluang yang jauh lebih besar dari tidak ada yang terjadi, bahkan setelah Godou menggunakannya dengan harapan.

Tapi kali ini Zurvan yang juga dewa takdir berada di medan perang. Itu berbeda dari biasanya. Lalu, petir keselamatan yang jatuh dari langit mencapai kepala Godou──

*Hyuu-!* Itu adalah suara memotong udara.

Sesuatu yang datang terbang entah dari mana menembus petir di atas Godou.

Petir keselamatan──disebarkan dengan mudah. Itu menjadi partikel cahaya kecil yang tersebar di mana-mana, lalu menghilang!

“………… Petir keselamatan dinegasikan?”

Zurvan merasa ragu. Dia mengangkat pedang dewata sekali lagi.

Petir turun sekali lagi. Ditembus bersama dengan suara *Hyuu-!*──oleh anak panah kuning. Sebuah anak panah bergerak dalam kecepatan super yang bahkan menyeruduk petir yang jatuh. Baik penembak maupun panahnya tidak normal. Selain itu, petir keselamatan disebarkan dan dihapus, sehingga bahkan lebih tidak masuk akal.

“Kalau begitu!”

Dewa waktu dan juga dewa takdir terus mengeluarkan petir.

Semuanya ditusuk oleh panah kuning. Panah datang terbang jauh dari langit yang kosong, menghantam petir dengan akurasi seratus benturan dari seratus tembakan, dan memadamkan targetnya.

Hanya bantuannya ini saja── “sebuah gambar tertentu” terbentuk di belakang pikiran Godou.

……Di sudut yang tidak diketahui dari dunia yang beragam di suatu tempat, ada hutan yang rimbun dan mata air yang indah.

……Seorang lelaki tampan berdiri di sisinya. Dia menoreh anak panah kuning di busur baja dengan ekspresi menyegarkan, dan menembakkannya ke langit. Panah itu bahkan melintasi celah dimensi dan mencapai ke atas kepala temannya yang bersumpah.

……Anak panah yang menyegel petir keselamatan. Itu adalah senjata yang dihargai oleh pahlawan terkuat.

……Pahlawan itu menembakkan panah dengan cepat. Yang memiliki peran untuk menyerahkan anak panah dari quiver adalah adiknya yang berlutut. Wajahnya persis sama dengan kakak laki-lakinya yang cantik, tapi kulit adiknya berwarna cokelat.

“Jadi kekuatan anti-takdir berkomunikasi dengan pria itu──”

Pahlawan besar Rama dan adik lelakinya Laksmana menyadari dilema teman mereka dan mereka menunjukkan semangat ksatria mereka seperti ini.

Godou tersenyum dan melotot pada musuh bebuyutannya. Pemuda lima belas tahun yang bersinar, dewa perang Verethragna perlahan mendekat.

“Sepertinya aku bisa fokus pada pertempuran melawanmu dengan ini.”

“Aku juga telah mempercayakan pedang mengganggu itu. Sekarang aku bisa bebas.”

“Ya. Tentu saja kau terlihat seperti telah membuang beban berat. Walau bagiku, akan lebih bagus jika kau juga bisa melupakan pertandinganmu denganku di saat yang bersamaan.”

Meski terdengar seperti lelucon, Godou relatif serius.

Tapi, Verethragna mendengus.

“Bodoh. Tidak mungkin untuk tidak menyelesaikan ini setelah sampai sejauh ini.”

“Begitukah? Kita berdua memiliki ikatan yang sangat baik, kan?”

Godou berbicara lebih jauh.

“Aku juga tidak keberatan bila kau memprioritaskan pertemanan, tahu?”

“Itu ya itu, ini ya ini. kau dan aku tidak hanya terhubung dengan ikatan yang menguntungkan, kita juga dewa dan pembunuh dewa yang terhubung dengan ikatan terbalik yang kuat. Ketika dua orang seperti itu bertemu, tak ada pilihan untuk tidak bertarung.”

“Tapi kau, mengenai pedang itu, kau membencinya bukan?”

“Jelas sekali. Aku akan bertarung dengan kemampuanku sendiri sebagai seorang pendekar—─Aku memiliki tekad itu. Namun, pedang keselamatan dan Zurvan mengomeliku untuk setiap hal menjengkelkan. Benar saja, aku tidak akan merasa puas jika aku tidak menggerakkan tubuh dan otoritasku sesukaku.”

“Sekarang──apa kau bisa melakukan itu?”

“Umu.”

Mungkin, ini juga efek anti-takdir.

Tapi, itu juga sesuatu yang sepele. Godou menerima semangat juang temannya dan berbicara tanpa perasaan.

“Begitu. Maka, tidak ada yang bisa diperbuat.”

Pembicaraan berakhir. Benar saja, tampaknya mustahil ada gencatan senjata di sini.

Mereka bersatu kembali seperti ini karena bimbingan nasib sial.

Di akhir pembicaraan, Verethragna──menerjang dengan tombak. Tangannya membuka telapak tangannya, lima jemarinya terentang, dan itu menerjang lurus!

Godou menangkisnya dengan tendangan Unta, atau itu niatnya.

“Guhah!?”

“Kau terluka seperti yang kuduga…….Sudah tak ada ketajaman dalam gerakanmu.”

Tangan tombak mencungkil ulu hati. Godou menggeliat kesakitan.

Verethragna tersenyum dengan tenang, lalu dia meninju wajahnya, meluncurkan tendangan berputar tengah, memukul rahang dari kanan bawah menggunakan telapak tangannya, dan memberikan serangan siku ke jantung dengan gerakan mengalir lancar.

Semuanya adalah benturan bersih. Godou tidak bisa bertahan sama sekali.

(Ini keras seperti yang diduga……)

Godou menyadarinya sambil dipukul mundur.

Itu bukan tentang teknik atau apa pun, Verethragna bertubuh kecil itu melampaui dia dalam kekuatan.

Meskipun dia telah melepaskan pedang dewata, Hukum Agung Perjanjian mendorongnya. Sementara kombo yang dilepaskan oleh dewa perang itu lancar, momentumnya yang seperti gelombang tidak bisa dihentikan──.

Tubuh dan kaki Godou terhuyung. Bahkan sudah sulit berdiri.

Benar saja dia tidak bisa menyerang atau bertahan dengan baik di keadaan ini. Apa yang harus dia lakukan untuk setara dengan Verethragna dengan dirinya saat ini──?

Ketika dia menemukan jawabannya, Erica yang sedang hamil dan anak mereka terpikirkan.

Keraguan. Kebimbangan. Judi besar yang melampaui otoritas anti-takdir. Namun, sifat liar dan naluri bertarungnya segera membuatnya menghilangkan keraguan itu.

Kalaupun saat ini aku tidak bisa bertahan——!

Tinju kiri Verethragna tenggelam ke dalam perutnya. Dia menangkap pergelangan tangan tipis itu dengan tangan kanannya.

“OOOOOOOOOO-!”

“Apa, avatar Banteng!?”

Kekuatan lengan Verethragna yang mencoba melepaskan tangan Godou sangat besar.

Tentunya itu bisa mengangkat bahkan ribuan sapi jantan yang mengamuk. Itu sebabnya, dia juga menentang dengan avatar Banteng. Dia tidak membutuhkan Unta lagi.

Godou merasa pusing bahkan saat memegang tangan Verethragna dengan kekuatan manusia super.

Ketangguhan Unta yang kuat melawan rasa sakit telah hilang dan dia semakin dekat dengan batas kemampuannya. Kesadarannya semakin jauh. Tapi dia baik-baik saja. Dia hanya perlu bertahan selama tiga puluh detik lagi──.

Godou berteriak seolah melolong dan melakukannya.

“Gu…… AAAAAAAAAAH!”

Kepalanya berderit seolah akan pecah.

Dia diserang sekali lagi dengan beban menggunakan dua avatar pada saat yang sama. Dia harus mengakhirinya dengan cepat. Godou mengucapkan mantra kekuatan dalam satu tarikan napas.

“Datanglah padaku, untuk kemenangan! Matahari abadi, pinjami aku kuda cepat, bersinarlah!”

“Oo! Kali ini kau memanggil Kuda Putih——!?”

“Tak usah dikatakan lagi padaku, tapi kau juga akan menjadi target. Di Pulau Sardinia kau mengamuk sesuka hati dan menyiksa orang-orang di pulau itu!?”

“!? Jadi kau berniat mati terbakar bersama denganku ya, Kusanagi Godou!”

“Aku akan menemanimu, Verethragna!”

Apa yang dia pilih pada akhirnya adalah Kuda Putih yang ditakdirkan.

Tombak matahari yang hanya bisa ditembakkan ke arah orang berdosa besar yang menyiksa rakyat. Itu juga merupakan senjata yang mengirim dewa perang dari timur untuk dilupakan di masa lalu di Pulau Sardinia. Itu adalah sesuatu yang dia curi menggunakan Jilid Rahasia Prometheus.

Godou berbisik pada teman tepat di depan matanya.

Dia melakukan itu sambil menarik lengan tipis bersama dengan bentuk muda Verethragna, tubuh ramping itu ke arahnya.

“Pertandingan denganmu, dengan ini──akhir ini sudah cukup bagiku. Bagaimana denganmu? Seberapa jauh...... kau akan bersaing denganku?”

“…………”

Jika dia ditanya di mana, maka dia akan menjawab di mana saja. Jika dia ditanya kapan, maka kapan saja.

Pemuda itu menjawab seperti itu. Tapi ketika dia ditanya [seberapa jauh], dia tidak bisa langsung menjawab. Dia hanya menatap lurus ke mata Godou dengan sungguh-sungguh.

──Dari langit timur, seberkas api turun.

Itu ukuran besar yang akan menelan seluruh kawah yang baru saja dibuat. Lubang besar yang memiliki diameter lebih dari sepuluh kilometer itu langsung dipenuhi dengan nyala api panas.

Apalagi intensitas nyala api itu tidak melemah. Itu membakar langsung langit.

Tanpa henti itu menjadi pilar api yang mencapai hingga awan dan menghanguskan langit.

Api kremasi terlalu besar. Bahkan daya tahan yang dimiliki oleh tubuh Campione, atau kekuatan perlawanan terhadap sihir yang terlalu kuat, itu tidak setara dengan ini.

Godou tentu melihatnya sambil dibakar tanpa daya dan berubah menjadi abu.

Verethragna mengangguk dengan ekspresi damai. Ekspresinya menjadi sama seperti waktu itu ketika mereka pertama kali bertemu di Pulau Sardinia yang nostalgia.

Wajah pemuda yang mirip dengan kesempatan besar, dengan sikap membiarkannya tertiup angin ke mana ia akan pergi. Di dalam wajah itu──.
Load comments