Campione v7 1-4

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
Bagian 4

Bakat Amakasu Touma terkonsentrasi dalam kombinasi teknik ninjutsu dan sihir dari onmyoudou dan shugendou.

Dia bukan seorang perapal mantra dengan silsilah tinggi seperti Mariya Yuri atau Seishuuin Ena.

Meskipun keluarganya memiliki akar yang kuat dalam sihir, masa lalu mereka diselimuti aktivitas gelap seperti spionase atau lebih buruk lagi, dan merupakan keturunan penyihir jahat. Dibandingkan untuk tetap bersama dengan semua orang seperti kelompok RPG, keterampilan dan preferensinya lebih cocok untuk bertindak sendiri.

Seni penyembunyian — teknik sihir untuk menyamarkan diri dan menjadi satu dengan lingkungan.

Sangat terampil dalam teknik ini, Amakasu Touma menyembunyikan dirinya saat mengamati pertempuran di Toushouguu, hilangnya Lu Yinghua ke dalam hutan, kepergian Putri Alice, dan kaburnya Godou dan gadis-gadis.

Selanjutnya, kira-kira seratus kera atau lebih mulai mengambil tindakan, maju ke arah barat Toushouguu.

Sekelompok kera bergerak sepanjang rute nasional yang disebut Jalan Romantis. Mereka berjalan menuju pegunungan Nikkou di mana Nantaisan berada di garis terdepan. Kera raksasa yang menyerang kelompok Godou juga melakukan perjalanan ke arah yang sama.

Menekuk lutut mereka dalam-dalam dan melompat dengan kekuatan besar, mereka melompat di udara bagaikan bintang jatuh.

Karena sesuai dengan nama binatang dewata, mereka luar biasa gesit meskipun kerangka mereka setinggi sepuluh meter.

"Kusanagi-san dan kelompoknya melarikan diri ke utara... Jadi kera-kera ini tidak mengejar mereka. Apa mereka berniat bermigrasi ke suatu tempat untuk membangun basis operasi?"

Amakasu bergumam pada dirinya sendiri.

Semua penjaga toko, turis, dan personil kuil di sekitar Toushouguu tampaknya telah berubah menjadi kera, dan sekarang satu-satunya manusia yang tersisa adalah Amakasu.

"Namo ratnatrayaya, namah arya, avalokitesvaraya, bodhisattvaya, mahasattvaya, mahakarunikaya."

Kata-kata dharani dapat didengar, dibawa oleh angin.

Dharani adalah nama untuk sihir dan mantra Buddhis. Para bawahan telah pergi, tetapi raja mereka, Pertapa Agung masih tetap di tempat ini mengucapkan dharani.

Apa tujuannya? Meninggalkan Toushouguu, Amakasu berjalan menuju jalanan Kota Nikkou.

Nikkou Toushouguu sangat dekat dengan stasiun, dan sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Amakasu mengamati sekelilingnya di sana.

Lalu dia melompat dari atap ke atap. Ini adalah keterampilan fisik yang digunakan Ksatria Templar seperti [Melopat] Erica, seniman bela diri China yang disebut [Qinggong], sementara pengguna seperti Amakasu menyebutnya [Terbangnya Kera]. Biarpun dia tidak berada di level Lu Yinghua atau Seishuuin Ena, langkahnya masih sangat lincah.

"Tidak ada perubahan yang jelas lainnya... Mungkin kekuatan dominasi Pertapa Agung tidak meluas sejauh itu? Atau dia belum menunjukkan kemampuan sejatinya..."

Ada sekitar enam ribu penduduk yang tinggal di kota kuno Nikkou.

Karena orang-orang dan mobil keluar dan sekitar, jalan-jalan yang tenang dan damai tampak sedikit ramai. Tak ada insiden orang-orang yang tiba-tiba berubah menjadi kera, atau adegan menyedihkan orang-orang menjerit-jerit. Itu hanya adegan Sabtu malam yang normal pada hari pertama dari akhir pekan panjang tiga hari.

Meninggalkan stasiun, Amakasu kembali ke Toushouguu.

Dia berlari bagai angin di sepanjang tepi sungai Daiyagawa sampai dia melihat jembatan vermilion.

Shinkyou yang terkenal adalah jembatan lengkung kayu yang dibangun di atas Daiyagawa. Dipanaskan dengan sinar kemerahan yang cerah, itu sangat menarik perhatian di malam hari.

Rupanya, satu-satunya orang yang berubah menjadi kera adalah orang-orang di sekitar Toushouguu.

Setelah memastikan situasinya, Amakasu berdiri di tepi Shinkyou dan mengeluarkan ponselnya.

'—Itu saja. Ini adalah situasi umum di daerah sekitarnya.'

"Dimengerti. Jadi raja dewa kera menggunakan Hikari untuk memulihkan kedewataan Sun Wukong lalu menciptakan bawahan. Ini bukan situasi yang bagus sama sekali... Jadi kenapa kau tidak berubah menjadi kera juga, Amakasu?"

Di kursi belakang mobil yang sangat sederhana tanpa fitur yang dapat dibedakan yang melaju di sepanjang jalan raya, Sayanomiya Kaoru mendengarkan laporan bawahannya yang dipercaya.

'Hmm, bukan hanya aku, tapi Erica-san, Yuri-san dan Liliana-san juga, tidak satupun dari kami yang berubah menjadi kera. Kemungkinan besar mereka dengan tingkat kekuatan sihir tertentu menolak transformasi kera.'

"Jadi, apa yang terjadi pada mereka yang terlibat dengan Komite di Nikkou?"

'Aku tidak melihat mereka. Jika mereka baik-baik saja, mereka seharusnya sudah mengambil tindakan, jadi tak salah jika menganggap mereka telah berubah menjadi kera.'

"Jika kita mengirim bala bantuan, mereka harus menjadi Hime-Miko atau agen di levelmu, kan?"

'Benar. Kumpulkan semua instruktur tingkat master di dekat Imperial Capital, dan selenggarakan pengumpulan darurat personel terkait dari wilayah Kantou, lalu hubungi para petinggi departemen mantra untuk memanggil para penyihir. Juga, kita perlu memberi tahu departemen kepolisian Prefektur Tochigi dan biro pemerintah seperti Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata... Dan setelah itu...'

"Ya, itu terlihat seperti krisis yang berbahaya, jadi menggunakan kartu truf secara langsung juga merupakan rencana."

Tatapan Kaoru beralih ke Hime-Miko perdana di sampingnya.

Untuk mengumpulkan kekuatan untuk pertempuran yang akan datang, Seishuuin Ena tidur nyenyak sambil memeluk pedang Jepang yang diambil dari gudang kediaman Sayanomiya. Niat asli Kaoru adalah menempatkannya di dekat Utsunomiya, untuk digunakan sebagai bidak catur gratis...

'Benar, melawan monster dewata yang seperti monster UMA raksasa, kupikir lebih baik untuk mengonsentrasikan senjata kami daripada pelit dengan potensi tempur kami.'

"Terima kasih atas pendapatmu yang berharga, aku akan mempertimbangkannya."

'Tidak sama sekali, sama-sama. Aku akan kembali bekerja.'

Kaoru menutup telepon dan menyapa Ena yang sudah bangun beberapa waktu sebelumnya.

"Hikari telah ditangkap oleh Pertapa Agung Menandingi Surga?"

"Ena, pendengaranmu akut seperti biasa."

Bahkan saat tidur, dia masih mendengarkan. Kaoru hanya tersenyum kecut.

"Namun, itu akan sangat membantu jika kamu masuk keributan, jadi Ena, bagaimana menurutmu? Binatang dewata telah muncul dan kelompok Kusanagi-san sedang dalam krisis. APa kamu punya kepercayaan diri untuk menembus ke medan perang dan melakukan lebih baik daripada Erica-san dan yang lainnya?"

Hime-Miko bercross-dress tersenyum di sudut bibirnya. Meskipun sering mengejutkan orang ketika mereka tahu, Kaoru adalah seorang polymath yang berbakat. Entah di bidang seni bela diri atau kekuatan roh dari Hime-Miko, hanya satu orang yang mampu mengunggulinya.

"Tentu saja, Erica-san sangat pintar dan Liliana-san sangat berbakat dalam sihir. Namun, dalam pertempuran kekuatan murni, Ena akan selalu menjadi pemenang akhir."

Hime-Miko adalah satu-satunya orang yang melampaui Kaoru dalam hal mantra dan pedang.

Setelah mendengar kartu truf terkuat membuat jaminannya yang berani, Kaoru menyesuaikan strategi pertempurannya.

Amakasu mengakhiri laporannya kepada atasannya dan mematikan ponselnya.

Sudah hampir waktunya untuk muncul di tempat Kusanagi Godou, dan dia juga perlu untuk memastikan kondisi Mariya Hikari — Hime-Miko magang yang tubuhnya telah dirasuki oleh raja dewa kera yang sekarang harus disebut Pertapa Agung Menandingi Surga.

Dia harus menilai kelayakan menyelamatkan atau meninggalkannya. Namun, raja iblis itu mungkin tidak akan mengenali pilihan selain yang pertama...

Saat Amakasu tersenyum masam, dia menemukan perubahan mendadak yang agak mengkhawatirkan.

Di depan matanya ada jembatan Shinkyou yang merupakan vermilion yang dipernis.

Nikkou awalnya adalah tempat pelatihan bagi para biarawan di pegunungan dan tempat suci yang terkait dengan puncak suci Emei. Pemandangan sungai Daiyagawa yang mengalir ke sini biasanya memancarkan suasana seperti pegunungan dalam dan lembah terpencil, tapi volume airnya terus meningkat.

Dengan Danau Chuuzenji sebagai sumbernya, Daiyagawa adalah sungai yang indah, tapi uraian itu sepenuhnya gagal menggambarkan volume air saat ini.

Air sungai itu saat ini memancar dengan keras seolah-olah banjir setelah hujan badai besar. Apa yang sebenarnya terjadi?

Amakasu secara refleks mengamati sekelilingnya.

Pertama kali jembatan didirikan di sini adalah lebih dari seribu tahun yang lalu. Dikatakan bahwa selama periode Heian, Biksu Agung Shoudou membuka gunung Nikkou dan Nantaisan yang tidak berpenghuni, dan entitas supranatural membangun jembatan ini untuknya. Shinkyou adalah warisan untuk dunia yang menghidupkan legenda.

"Namo ratnatrayaya, namah arya, avalokitesvaraya, bodhisattvaya, mahasattvaya, mahakarunikaya."

Amakasu mendengar suara Mariya Hikari.

"Om, sarva bhava samudram sosana karana. Sarva vyadhi prasamana karaya."

Pertapa Agung terus merapal, dan segera, seorang pria telanjang melayang ke permukaan sungai Daiyagawa.

Kulitnya sangat hitam dan dia memiliki tubuh yang sangat kurus seperti orang yang sakit.

Wajahnya seperti mata setan, dengan mata merah yang tampak seperti mata yang berkilat dan taring tajam menjulur dari kedua sisi mulutnya yang menganga lebar.

Legenda Biksu Agung Shoudou mengatakan itu, ketika arus kuat Daiyagawa menghalangi jalannya untuk memasuki Nikkou, biksu kuyu itu membuat sebuah doa. Roh kemudian muncul di tepi seberang dan mulai membangun jembatan di seberang sungai. Inilah bagaimana Shinkyou muncul.

Setelah itu, Biksu Agung Shoudou memberi nama untuk roh ini, dan itu —

"Jendral Pasir Dalam!? Dengan kata lain, ini bukan lagi krisis pada level binatang dewata!"

Di saat keterkejutan Amakasu, roh marah hitam itu mengaum dengan keras.

Ooooooooooooooooh!

Teriakan kelahiran [Dewa Sesat] adalah respon terhadap dharani Pertapa Agung.

Seakan menjawab raungan ini, air Sungai Daiyagawa banjir dengan cepat.

Seperti banjir besar, aliran deras menyapu turun dari hulu, dengan mudah menghancurkan jembatan Shinkyo, dan Amakasu juga tertelan oleh aliran deras itu.
Load comments