Date A Bullet v1 8

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

○Hijikata Isami

Hijikata Isami adalah tipe Quasi-Spirit yang ingatannya telah lenyap dengan indah.
Secara umum, anak perempuan kurang lebih peduli dengan hal ini.

Bagaimana dia bisa tiba di sini? Kebanyakan Quasi-Spirit ingin mengetahui hal ini. Ini benar bahkan bagi gadis-gadis yang mencari keberadaan mereka melalui pertarungan. Itu sama untuk mereka yang menginginkan permen seperti Sheri dan mereka yang mencari buku seperti Takeshita Ayame.

Hal-hal yang dicari akan berbeda tiap orangnya, tapi itu adalah satu-satunya garis yang menghubungkan antara sisi yang jauh ke sisi yang lain.

Hijikata Isami tak mencari tujuan yang sulit.

Usai mencapai dunia tetangga ini, dia mengetahui bahwa dia dapat bertahan hidup di dunia ini dengan membunuh orang lain.

Jadi, dia membunuh. Itu saja.

Tak perlu makan, tidur, berpakaian, atau bahkan hiburan.

Karena tak perlu, menjadi lebih baik mengayunkan pedang. Meskipun pelatihan
merepotkan, Isami terus memotong dan membunuh sebelum tiba-tiba berhenti.

──Oh. Mungkinkah dia mempunyai semacam masalah?

Ternyata, tak ada orang yang akan berbicara dengan penuh sayang terhadap dirinya sendiri. Kenalan harus terus memudar.

Karena dia yang membunuh, itu harusnya seperti ini.

Aku ingin teman. Tidak, aku tak mau itu. Aku tak ingin berpikir seperti itu. Hanya masalah waktu sebelum hubungan itu akan hancur berantakan.

Itu sedikit kesepian. Tak bisa melakukan apa pun selain membunuh, itu sedikit menyedihkan.

......Tapi tetap saja. Dia tak bisa menekan kegembiraannya, detak jantungnya yang semakin cepat, ketika menghadapi Quasi-Spirit yang kuat lainnya.

Jadi, Hijikata Isami menyukai Takeshita Ayame. Meskipun tahu dibenci oleh pihak lain, itu masih perasaan suka. Dan yang terpenting, dibanding sekarang, dia berharap untuk saling membunuh di akhir permainan.

Ada Quasi-Spirit yang sekuat dirinya.

Tentu saja ada Quasi-Spirit yang lebih kuat darinya.

Namun, sebagai satu-satunya gadis yang terus-menerus berjuang melawan, tak dapat dihindari bahwa dia adalah pengecualian.

Karena itu, Isami merasa lega ketika meminta upaya bersama.

“Baiklah, biarkan aku dan kamu menghabisi mereka bersama-sama!”

“Ara? Apa itu berarti menyeret gadis yang menyedihkan itu, Empty juga?”

Ayame mengangkat alisnya. Entah bagaimana penilaiannya tentang hal itu tampaknya relatif masuk akal──atau setidaknya Isami berpikir begitu. Sementara tak diragukan lagi terlihat tak berperasaan dan keras pada pandangan pertama, di bawah topeng itu ada kesadaran lembut dan sifat baik. Isami berpikir dia berbeda dari dirinya sendiri, seorang ronin yang akan mengayunkan pedang dengan licik.

“Betul. Karena orang itu adalah musuh.”

Isami dengan tenang berkata begitu. Sungguh perbedaan antara musuh dan mereka ditarik terlalu cepat.

Tak ada ruang untuk simpati, hanya keinginan untuk memotong musuh ketika dilihat.

Itu adalah pendekatan Isami, metodenya untuk bertahan hidup.

Saat ini pun, Isami akan membunuh Ayame jika diberi kesempatan. Dia sudah menjadi musuh;
hanya saja sekarang bukan kesempatan untuk membunuh.

Namun, percakapan tak berguna yang diucapkan di medan perang ini adalah penyelamatan terhebat bagi Ayame di dunia yang terlalu tanpa ampun ini.

Jujur saja, ini bisa dikatakan menjadi alasan dia bertahan sampai saat ini, memungkinkan Sephira Crystal untuk mengumpulkan lebih banyak kekuatan.

Quasi-Spirit tak bisa hidup tanpa mimpi. Dengan begitu, mimpi Ayame adalah──untuk suatu hari nanti tak ada Unsigned Angel dan mengobrol santai dengan Isami di bawah sinar matahari. Itu saja.

Isami pasti akan tertawa jika dia mendengar ini.

Sebelum membunuh, sebelum dibunuh, Ayame berharap......setidaknya bisa menyampaikan itu.

(......Yah, bahkan setelah memutuskan untuk membunuh, aku menyerah.)

Meskipun dia menginginkan itu, dia juga masih tak ingin dirinya mati, teramat bodoh.

Namun, Isami mengulangi masalah ini berulang kali.

“Jika ada, aku ingin saling membunuh pada saat, saat akhir!”

“Iya, iya......aku juga mengharapkan itu. Ada hal-hal yang ingin aku nikmati sampai akhir.”

Isami membuka matanya lebar-lebar. Ayame merasa itu agak aneh.

“Hei, ayo pergi. Ke pusat perbelanjaan untuk bermain dengan mereka berdua.”

“Yah! Un......ayo pergi. Entah Spirit atau Quasi-Spirit, itu tak masalah. Tak ada perbedaan dalam kehidupan lemah. Berhati-hatilah──<Yinbentabei>.”


Usai memasuki pusat perbelanjaan, pemandangan aneh sedang terjadi di depan mereka. Ada pegawai. Namun, pegawai itu seperti maneken. Ada wajah, tapi tak ada mata dan hidung, hanya garis tipis mulut dan tak ada lubang di telinga untuk mendengarkan.

Apa ini maneken, atau mungkinkah itu──

“Itu maneken, benda itu.”

“Selamat datang, apa yang kamu butuhkan?”

“Halo, aku ingin pakaian. Apa ada rekomendasi? Aku benar-benar tertutup oleh putih murni, rasanya agak terlalu bebas kotoran, atau bisa dikatakan agak terlalu sederhana dan naif. Kuharap bisa berganti pakaian yang memberi orang perasaan lebih menyegarkan──”

“Selamat datang, apa yang kamu butuhkan?”

“......Apa itu saja yang bisa kamu katakan?”

Dengan mata yang sedikit basah, Empty menoleh untuk menatap Kurumi. Kurumi meletakkan tangannya ke bibirnya sambil terkikik.

“Yah, kenapa kamu tidak melanjutkan permainan satu orang ini lebih meriah?”

“Aku nggak main!”

Empty memasuki toko yang menarik perhatian dengan pundaknya berkedut karena kesal.

(Hei, menurutmu yang mana yang terlihat bagus?)

(Bukankah mana saja bagus?)

(Jangan katakan itu, aku ingin kamu membantu menemukan pakaian yang cocok untukku!)

......Dengung samar di telinganya menyebabkan Kurumi cemberut. Dari pemulihan hal-hal yang seharusnya sudah lama ditinggalkan, kepala Kurumi menderita sakit kepala yang sangat sakit.

“Maaf, Kurumi-san. Apa menurutmu ini cocok untukku?”

Dari Empty yang tiba-tiba melesat keluar sambil mengenakan pakaian dalam, Kurumi tanpa sadar terkejut.

Dari senyum polosnya, Kurumi merasakan sedikit iritasi dan rasa bersalah. Tapi pada saat yang sama, dia mendadak tak ingin menyangkal hati yang terkait dengan senyum itu.

“......Ah......semuanya bagus......bukan?”

“Aku bermasalah ketika kamu mengatakan itu......karena aku tak bisa mengingat ingatan apa pun, aku tak tahu yang mana yang cocok untukku.”

Dengan tangkas melirik untuk membandingkan pakaian dalam Empty, Kurumi tersenyum dengan niat buruk yang tertulis di wajahnya.

“Bukankah ada sesuatu yang bagus di sana? Sesuatu yang kekanak-kanakan cocok untukmu.”

“A-Apa kamu bilang sesuatu yang seharusnya tak kamu tahu!? Tunggu sebentar lagi!”

Usai Empty memilih pakaian dalam yang benar-benar dewasa untuk diganti di ruang pas, dia dengan semangat menarik tirai.

Yah, bagaimana kalau sekarang, Kurumi-sa......nyaan!?”

Kurumi sudah membuka pakaiannya dengan sosok indah pakaian dalamnya yang terlihat.

“Sekarang, bagaimana menurutmu?”

Dari atas ke bawah, dengan warna hitam sebagai warna utama, pakaian dalam memiliki jumlah kain paling sedikit. Meskipun berwarna hitam, tali samping celana dalam memiliki banyak bagian tembus pandang. Itu pada tingkat nyaris telanjang pada saat terakhir.

Mempesona adalah salah satu cara untuk menyatakannya. Itu bukan warna yang akan dikenakan oleh anak Sekolah Menengah Atas juga bukan pakaian dalam yang harus dipakai anak Sekolah Menengah Atas sama sekali. Termasuk bagian transparan, seluruh bagian bawahnya hampir sepenuhnya terlihat dengan cahaya.

Omong-omong, Empty berpikir bahwa menjadi telanjang seutuhnya tak erotis seperti ini. Siapa sangka, dia secara publik berganti pakaian di toko tanpa menggunakan ruang pas. Omong-omong, hal terakhir yang dipikirkan Empty, bagaimanapun juga, tak bisa dikatakan.

“Um, bisakah aku mengatakan sesuatu?”

Saat Empty mengangkat tangannya, Kurumi, saat masih mengenakan pakaian dalamnya, menyilangkan kedua lengannya dan mengangguk. Sikap nakal itu tak berubah bahkan saat mengenakan pakaian dalamnya.

“Ya, silakan.”

“Jelas sekali, tak ada orang lain yang menonton, tapi apa maksudmu dengan gaya berpakaian yang sangat cabul itu?”

Jika hal semacam ini dilihat oleh anak laki-laki remaja, dia akan berubah menjadi serigala lapar. Mungkin, itu juga sangat mematikan bagi para gadis.

“Pakaian dalam adalah senjata untuk wanita. Sebagai seorang wanita, bagaimana aku bisa tak memakai pakaian dalam begini?”

“Aku benar-benar berpikir bahwa wanita takkan mengenakan pakaian dalam semacam itu... tidak, lupakan saja.”

Meskipun tak tahu alasannya, ada perasaan kekalahan pribadi yang luar biasa.

“Kemenanganku.”

Dengan tampilan yang segar, Kurumi berkata begitu.


“──Aktifkan. Persiapan tembakan pertama, kedua, dan ketiga. Pemuatan. Menentukan pengukuran <Crotos>.”

Pada gedung berangin di pusat perbelanjaan, satu Quasi-Spirit mulai turun.

Targetnya ada di lantai dua toko pakaian wanita, gadis Empty yang dengan santai berganti pakaian dan Tokisaki Kurumi.

Quasi-Spirit lainnya dengan hati-hati membidik.

Tak perlu dikatakan, tujuannya adalah sama dengan Quasi-Spirit yang jatuh. Semenjak awal, mereka tak bisa menunjukkan saling membantu untuk saling mendukung.

Karena itu yang terjadi, pasangan itu memutuskan untuk menyerang Kurumi pada saat yang sama. Jika salah satu dari mereka bisa membunuhnya, itu bagus.

Kekuatan tempur mereka berlipat ganda. Selain itu, karena mereka berdua sepakat untuk saling tak membunuh, ada peningkatan lebih lanjut pada kekuatan mereka.

Tentu saja, empat Quasi-Spirit lainnya yang tersisa──Sheri, Tonami, Tsuan, dan False mungkin campur tangan. Khususnya, Sheri dan Tonami akan siap untuk menjarah rampasan tanpa ragu-ragu. Tetapi, jika mereka takut untuk keluar karena risiko itu, mereka takkan bertahan sampai titik ini.

“Hidup seseorang pendek; hidup singkat mendadak mekar dan memudar. Ini adalah kehidupan yang harus dijalani tanpa penyesalan!”

Sambil tersenyum, gadis itu bersiap untuk mempersiapkan Unsigned Angel-nya.


Setelah toko pakaian, tak ada lagi belanja. Alih-alih, lebih baik mengatakan bahwa Kurumi dan Empty membuat permainan berkeliaran di sekitar pusat perbelanjaan. Empty dengan antusias memanggil Kurumi untuk memasuki toko, tapi setiap saat Kurumi mengabaikan setiap permintaannya.

“Sungguh, ada apa, Kurumi-san?”

“Aku tak datang ke sini untuk bermain.”

“Eh, terus apa yang kamu lakukan di sini?”

Kurumi memegang pistol kuno di tangannya sambil menatap langit.

“Ini untuk menunggu penyergapan.”

Awalnya, alasan Kurumi datang ke pusat perbelanjaan ini adalah untuk bertarung. Penyelidikan kemarin menunjukkan bahwa dari 6 Quasi-Spirit yang tersisa, dua orang telah membentuk kelompok dua orang.

Selain itu, dapat dikatakan dengan pasti bahwa baik Tsuan maupun False takkan pernah bermitra dengan siapa pun.

Kurumi sadar. Dia telah menyelidikinya secara menyeluruh. Kemarin, sudah melebihi 13 kali ini sepuluh orang ini bertarung. Kenapa Quasi-Spirit ini berpartisipasi, apa jenis Spirit mereka, bagaimana sikap mereka pada situasi ini, dan bagaimana mereka merencanakan tantangan konflik ini.

Tokisaki Kurumi itu lemah. Tidak, tentu saja mustahil baginya jadi lemah. Dari sudut pandang menjadi Spirit, sebuah garis sudah dibuat di antara Quasi-Spirit. Tetapi, dia masih lemah.

Hanya satu senjata pendek yang bisa diperoleh. Kemampuan itu hanya bisa digunakan dengan hemat, termasuk Peluru Pertama <Aleph>. Apalagi, mustahil untuk penggunaan lebih dari itu.

Sulit untuk mengatakan bahwa Spirit Dress of God’s Authority no. 3 <Elohim> ini sempurna. Berlawanan dengan apa yang orang harapkan dari sosoknya yang penuh gaya, sulit untuk mengatakan berapa lama itu bisa bertahan dari serangan sengit yang datang dari Quasi-Spirit.

Namun, itulah sumber metodenya untuk bertahan hidup. Dia bertahan hidup dengan bertahan,
investigasi, menentukan target, lalu mengarahkan lawan itu sepenuhnya ke sudut putus asa.

Sudah datang, intuisi Kurumi berbisik pada dirinya sendiri.

Pusat perbelanjaan adalah struktur yang luas. Karena itu, jika memulai serangan mendadak, sekarang adalah kesempatan yang tepat karena keduanya akan berjalan di luar.

Bukannya gadis-gadis itu yang melewatkan kesempatan seperti itu.

Saat dia melihat Quasi-Spirit jatuh, tak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Tentu saja, semuanya sesuai rencana.

Ya, sudah diduga, yang jatuh adalah──

“<Crotos>──<Spira>!”

“Selamat datang, Takeshita Ayame-san. Aku ingin memujimu karena tidak menyerang saat seorang wanita berganti pakaian.”

Saat Takeshita Ayame jatuh, Kurumi tersenyum sambil menunjuk pistol dengan jarinya yang sudah tergantung di pelatuk.

Persimpangan itu berlangsung sesaat.

Meskipun tertegun karena bisa melihat, Ayame menembakkan panahnya. Panah itu seperti peluru senapan, bergerak lurus ke depan dengan sempurna dalam gerakan spiral. Dengan mengorbankan kecepatan, panah itu memiliki kemampuan destruktif menembus Astral Dress──

Kurumi menghindarinya dengan sedikit menekuk tubuhnya.

“Ku............!”

Panah lain dapat meningkatkan kecepatan dengan diisi reiryoku, tapi karena peningkatan daya <Spira> tergantung pada rotasinya, meningkatkan lebih banyak kecepatan akan menghasilkan kesalahan dalam akurasi. Tak peduli berapa banyak kecepatan meningkat, tak masuk akal jika sebuah serangan tidak dapat mendarat.

Namun, peran Ayame menyematkan gadis itu ke satu lokasi sudah tercapai.

Sambil mengerem di udara, Ayame terus menembakkan satu panah demi satu.

“Kiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!”

Gadis itu (Empty) yang menjerit sedih saat melarikan diri dalam kekacauan.

Di sisi lain, Kurumi tidak melarikan diri saat dia melemparkan rak pakaian dari toko wanita ke arah Ayame.

Pakaian yang tak terhitung jumlahnya menari-nari di udara. Pandangan Ayame dikaburkan.

Sebuah tembakan terdengar.

Tampaknya pihak lain belum menetapkan target; peluru itu bahkan tidak melewatinya.
Namun, suara tembakan memberikan posisi berdiri.

Tak masalah, dalam jarak serang efektif......!

“Isami, sekarang!”

Ayame berteriak. Segera, setelah itu, disertai dengan suara gemuruh membanting, Isami melompat dari lantai lima dan mendarat di tanah.

“<Yinbentabei>──!”

Itu adalah raungan seperti monster yang tidak bersalah. Serangan luar biasa melanda wilayah sekitarnya.

Tak ada yang namanya kemampuan khusus untuk Unsigned Angel milik Hijikata Isami. Itu adalah massa murni pemotongan sembrono. Hanya, memotong, memotong, memotong, sampai akhir, kemarahan tebasan di mana pertahanan atau melarikan diri tidak diizinkan.

Apa pun jenis Spirit-nya; tak ada yang bisa tetap selamat dari ini.

“──Eh, tak ada orang di sini!?”

“Huh......!?

Ayame terpaku setelah mendengar suara Isami. Berpikir kembali tepat sebelum pikirannya berebut, dia ingat suara tembakan.

Ya, dia tampaknya──mampu mendapatkan kekuatan dengan menembak dirinya sendiri!

“Ayame, di mana!?”

“Mencari, sekarang──”

Ayame tiba-tiba mendongak. Kali ini, dengan kedua lengan terentang, Tokisaki Kurumi jatuh ke arah mereka.

“Atas......!”

Setelah berteriak, dia dengan cepat menyadari bahwa itu salah. Apa yang jatuh hanyalah sekedar maneken berpakaian seperti Tokisaki Kurumi.

Melihat itu salah, dia ingin meneriaki itu──Ayame telah memperhatikan. Tapi Isami
menanggapi suaranya dan menatap ke langit. Namun, masalahnya bukan hanya di sana.

“Di belakang──”

Dari bayangan Isami, seorang gadis merangkak keluar. Ada dua cara utama untuk mengalahkan batas pemotongan Isami.

Salah satu caranya adalah dengan menyerang batas dengan kekuatan destruktif yang cukup dari jarak di mana batasnya tak bisa mencapai.

Cara kedua adalah tidak membiarkan serangannya.

“Untuk memberimu sepotong saran......kalian berdua harus lebih menekankan pada arti dari
bekerja bersama.”

Berapa lama pun kalian saling mengenal, berapa lama pun kalian saling terikat dari lubuk hati.

Tindakan meluncurkan serangan koordinat adalah masalah yang terpisah. Hanya tak terhitung jumlahnya, latihan, negosiasi, dan kegagalan yang bisa meningkatkan kekuatan.

Bukan hal yang aneh jika 1 + 1 menjadi negatif.

“Ugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Isami menoleh untuk melihat kembali untuk mengiris apa yang keluar dari bayangan. Namun, ada kesedihan yang tak terlukiskan dalam ekspresinya.

Dia takkan berhasil tepat waktu, apa itu karena insting atau itu──

Sebuah tembakan merobek-robek pikirannya.

Tak dapat melarikan diri, serangan ke Sephira Crystal. Cahaya kehidupan dalam mata gadis itu diambil dalam sekejap mata.

“Isa, mi!”

──Namun. Isami terus menempel kepada Kurumi.

“Tembak......Tembaaaaaaak!”

Tak ada keraguan. Dengan konsentrasi terbesar dalam hidupnya, janji Ayame mau tak mau memberi jalan untuk serangan terbesarnya.

“<Crotos>──<Spira>!”

Pada saat itu, sebuah fenomena terjadi yang bahkan tak dapat Kurumi prediksi.

Tanah berguncang, Empty menjerit (meskipun ini sering terjadi), wajah Isami dan Kurumi berubah warna.

“Komposisi (Compiler) dunia tetangga......pada saat seperti ini!”

Di dunia tetangga, Spirit sudah menghilang. Namun, meski begitu, keagungan Spirit-nya masih tak henti-hentinya menyebar di sini. Terkadang, bahkan ketika di dunia yang jauh, mereka terus memiliki pengaruh besar terhadap dunia tetangga.

Tak tahu kapan dan bagaimana efek ini akan terjadi. Skala yang akan berubah juga
tak dapat diprediksi.

......Menurut satu teori, efeknya akan terjadi ketika suasana hati Spirit terguncang sangat berat, tapi itu tidak pasti.

Bumi terkoyak.

Pilar hitam melambung tinggi, menghancurkan dunia ini. Dari pilar-pilar itu, duri bagai jarum mulai tumbuh.

Rupanya, transformasi saat ini tampaknya dibawa oleh suasana hati yang suram.

“Ah!? Tidak, tunggu......”

Lantai yang akan runtuh kini miring dengan Empty meluncur ke bawah tanpa pengaruh apa pun.

Tujuan, yang dulunya adalah tangga, kini tak lain adalah pilar hitam yang menonjol keluar.

“Kiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Teriakan Empty. Dia dan Kurumi bertukar tatapan──Kurumi dipegang erat oleh Isami dan
tak bisa bergerak. Meski begitu, Empty secara refleks mengulurkan tangannya.

Pikiran yang terbangun berbicara.

“Mustahil diselamatkan.”

Empty tahu, dia selalu tahu. Karena dia adalah makhluk yang sangat lemah, dia mau tak mau menjangkau.

“K-Kamu──”

Sulit dipercaya.

Mustahil bagi Kurumi untuk meraih tangannya. Mata sedikit gemetar. Ketika Empty jatuh ke lubang kematian, dia pikir itu sudah cukup.

Betapa mudahnya untuk menggerakkan hati.

Selama dia, mengulurkan tangan ke arahku──

Jatuh.

Itu mirip dengan ketika dia dilahirkan beberapa saat yang lalu, Empty berpikir begitu.

Segera setelah itu, dampaknya akan datang; tingginya cukup tinggi untuk setidaknya mati. Jika dia mendarat dengan kepalanya dulu, dia akan mati lebih mudah. Dia mempertimbangkan itu saat dia menutup kelopak matanya. Sambil menunggu kejutan yang akan segera datang, skenario terburuk adalah tetap hidup sambil setengah mati. Pengalaman menyakitkan setelahnya kemungkinan akan sangat sulit.

Segera dampaknya akan tiba, mustahil untuk mempersiapkan apa yang akan terjadi. Dia hanya bisa menangis. Gelombang kejut akan segera datang, dia kira inilah saatnya.

“A──re?”

Berapa lama pun, dampaknya belum datang. Dia gemetar ketakutan ketika dia membuka mata tertutupnya.

Lalu, tepat pada saat membuka matanya, Empty akhirnya merasakan dampak level super.

“Tidak mungkin......!”

Kurumi mengerti bahwa Empty takkan mati karena jatuh setingkat itu. Paling-paling akan ada sedikit nyeri atau syok. Namun, duri-duri itu sangat buruk.

Duri-duri itu dikatakan sebagai jantung dari Spirit itu sendiri. Ada banyak Quasi-Spirit yang tertelan dan tak pernah kembali. Itu sama terlepas dari apakah itu terbentuk dari emosi positif atau negatif──. Melihat ke bawah, sosok Empty tak bisa dilihat seperti yang diharapkan.

Isami sudah mati. Di sisi lain, Ayame belum pulih. Meski begitu, karena instingnya sebagai seorang pendekar, dia sudah menodongkan panahnya.

Namun, senjata pendek Kurumi sedikit lebih cepat.

Suara tembakan terdengar.

Sephira Crystal milik Ayame tertembak.

“Ku, u──”

Keruntuhan serius telah dimulai. Selain itu, nyala api berkobar tanpa henti dari langit sebagai suvenir.

“......Sudah diduga, waktunya terlalu buruk.”

Mata Kurumi dengan kuat menangkap penyerang kedua.

Sheri Musika, bersama dengan Tonami Furue.

“Dengan wajah imut, dua wanita muda yang tak bisa dianggap enteng. ......Aku tak punya pilihan selain melarikan diri.”

Ini bukan pertarungan yang bisa dimenangkan. Kekuatan Tokisaki Kurumi sangat fleksibel dengan kegunaan yang luas. Bahkan dalam situasi saat ini di mana hanya dua kemampuan dapat digunakan, bisa untuk melihat prospek optimis dari hal ini dapat dikendalikan.

Namun, Kurumi mengerti bahwa ini adalah pertaruhan.

Tak peduli seberapa yakin tidak menderita kekalahan, tak ada yang absolut dalam pertarungan.

Pertarungan di pusat perbelanjaan itu karena Kurumi berharap menang. Takeshita Ayame akan memulai serangan mendadak. Dia akan bekerja sama dengan rivalnya Hijikata Isami.

Mengandalkan sinyal Ayame dari mungkin di atas atau di bawah, Isami akan bergegas ke arahnya tanpa kecuali.

Batas tebasan yang bisa disebut absolut. Untuk menghindari itu, tak ada pilihan selain untuk mempercepat dengan Peluru Pertama <Aleph> untuk melarikan diri jarak jauh.

Dalam pertarungan dengan Nogi Aiai, mata mereka seharusnya memperhatikan dia menggunakan peluru.

Karena itu, dia mengalihkan pandangannya dari Isami untuk mengintip situasi di sekitarnya. Lalu, dia menendang maneken yang direncanakan sebelumnya yang berpakaian seperti dirinya, menggunakannya sebagai umpan.

Semua untuk momen singkat itu, untuk benar-benar menipu pihak lain. Dan untuk menyembunyikan kekuatan lain.

Tokisaki Kurumi memutuskan untuk mundur.

......Mungkinkah Empty dapat kembali? Ada beberapa Quasi-Spirit yang bisa lolos dari duri itu.

Sayang sekali kehilangan dia, Kurumi berpikir begitu. Meskipun itu sangat untuk kepentingan pribadi, harus ada batas untuk menipu diri sendiri──

Lupakan. Apa yang harus dipertimbangkan saat ini adalah sesuatu yang lain. Sudah hampir waktunya untuk “dia” muncul.

Bahkan dengan kekuatan Spirit, dia tak tahu apakah dia bisa mengalahkannya.

Tidak, dia harus menang. Bagaimanapun. Jika tidak──dia akan selamanya tak bisa diselamatkan.

“......Isami......”

Sephira Crystal telah rusak; Ayame mengerti bahwa ini adalah kekalahan. Penyesalan, keputus-asaan, segala macam emosi yang menakutkan meningkat──tapi yang bisa dia lakukan hanyalah menangis.

Hari itu akan tiba di mana mereka tak perlu bertarung dan bebas untuk berbicara tanpa khawatir. Dia hanya memiliki harapan samar itu.

Kenapa dia membuang mimpi itu?

“......Lain kali, aku harap itu setidaknya bukan hubungan saling bertarung.”

Membisikkan kata-kata seperti itu, dia menutup matanya.

“──Mimpi itu, untuk dikabulkan olehmu.”

Dia seharusnya tak membuat keinginan sembrono, Ayame menyesali hal itu di akhir saat-saat terakhirnya.
Load comments