Little Mokushiroku v4 Prolog 1

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas
Prolog 1

Rabu. Pertengahan minggu. Bom dijatuhkan saat homeroom pagi...

“Rekka, bawa aku ke taman hiburan hari Minggu ini.”

“Hah?!”

Hanya satu kalimat dari mulut Iris yang diperlukan untuk membangunkanku sepenuhnya dari rasa kantukku.

“Kau mau, kan? Kan?”

“Umm...”

Aku mengalihkan pandanganku dari Iris, yang telah membanting kedua tangannya ke atas mejaku dan membungkuk di atasnya...kalau aku tidak memalingkan muka, dua buah dadanya yang besar — tampak lebih besar di antara kedua lengannya — akan terlalu menggangguku untuk berbicara.

“Kenapa?” Tanyaku, merasakan pipiku memerah.

“Yah, aku menonton TV kemarin, dan mereka bilang di sebuah iklan bahwa beberapa fasilitas hiburan besar yang disebut ‘taman hiburan’ segera dibuka! Kelihatan ada banyak kesenangan! Jadi aku ingin pergi bersamamu!”

Iris mendekatkan wajahnya yang tersenyum (dan payudaranya) kepadaku.

“O-Oh, begitu...”

Aku berpaling dari gunung pencobaan yang mendekat dan mencoba berpikir.

Aku juga pernah melihat iklan itu. Tempat itu hanya beberapa perhentian di jalur kereta, dan dibuka akhir pekan ini. Jadi Iris melihatnya dan berpikir itu terlihat menyenangkan, ya?

Memang benar bahwa taman hiburan bisa menjadi tempat yang menyenangkan, tapi itu hanya setengah dari kesenangan kalau pergi sendirian. Sayang kalau Iris harus pergi sendiri. Aku tidak ingin Bumi mengecewakannya.

“Yah, aku tidak punya rencana, jadi kalau kau mau...”

Tapi sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku...

“Rekka!”

Teman masa kecilku Satsuki Otomo, yang duduk di kursi di sebelahku, membanting tinjunya ke meja dan meneriakkan namaku.

“A-Apa? Tunggu, kenapa kau memelototiku?”

“Aku tidak memelototimu!” dia balas berteriak, tapi dia masih menatap tajam.

A-Apa? Aku melakukan sesuatu yang salah?

Ketika aku duduk di sana, bingung oleh kemarahan teman masa kecilku, dia mengeluarkan dua lembar kertas dari mejanya.

“K-Kalau kau pergi ke taman hiburan, ikut aku!” katanya, suaranya sedikit pecah.

Tak tahu harus berbuat apa, aku melihat ke bawah, tapi mataku condong ke arah apa yang dipegangnya. Itu tampak seperti sepasang tiket ke taman hiburan yang baru saja Iris dan aku bicarakan. Di sudut, aku bisa melihat kata-kata “Grand Opening Preorder Ticket.” Itu membuatku penasaran...

“Di mana kau mendapatkan itu?”

Dan kenapa kau membawanya sekarang? Aku bertanya, tapi tidak dengan keras. Aku terlalu takut.

“Yah... um... karena aku sudah punya rival baru, rasanya aku harus berusaha lebih keras...” Suara Satsuki menghilang seolah dia membuat alasan. Tapi aku tidak yakin untuk apa.

Toh, sekarang setelah Satsuki menyela, seseorang pasti sangat kesal.

“Aku meminta Rekka duluan. Enyalah.”

“Tapi aku yang pertama mengundangnya! Apa kau tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mencari tahu ke mana harus pergi, atau apa yang dibutuhkan untuk mengumpulkan keberanian untuk meminta kepadanya?”

“Bukan masalahku! Pertama datang pertama dilayani!”

Bunga api beterbangan di antara Iris dan Satsuki, dan aku terjebak di tengah-tengahnya. Ya. Kupikir itu akan berakhir seperti ini.

Aku menghela napas kecil... tapi tiba-tiba Iris meraih kepalaku dan menariknya ke dadanya, memberiku perasaan bahagia yang tak terlukiskan langsung di wajahku!

“Rekka, kau ingin pergi denganku, kan?”

“Mmfff!”

Aku tak bisa bernapas, apalagi menjawab. Benar-benar ada payudara yang bisa mencekik orang!

“Hentikan! Rekka tidak bisa bernapas!” Suara Satsuki hampir menjerit saat dia merenggutku dari Iris.

Nggak, nggak... Aku tidak kecewa sedikit. Tentu saja tidak. Lagian, itu bisa berakibat fatal. Jadi aku benar-benar berharap anak lelaki lain di kelas akan berhenti mengertakkan gigi. Dan berhenti cemberut padaku seperti itu. Yah, kukira jika aku berada di posisi mereka, aku mungkin telah melakukan hal yang sama.

Pokoknya, kesampingkan itu... aku memiliki masalah yang lebih penting.

“Rekka, kau ikut denganku, kan?” tanya Iris.

“Kau ikut denganku, kan?” tanya Satsuki.

Apa yang harus kulakukan?

“Astaga. Bukankah ini semakin menarik?” R telah memperhatikan semuanya, tentu saja.

Aku hampir maag, dan dia kelihatan tengah bersenang-senang.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan, Rekka?” R bertanya dengan nakal. Tak ada ekspresi di wajahnya, tapi aku tahu dia pikir ini lucu.

Tetapi memang benar bahwa aku harus melakukan sesuatu...

Tiba-tiba aku membuat rencana yang cemerlang.

“Kalian tahu...”

Aku mengambil satu tiket di tangan Satsuki...

“Tidak bisakah kalian melakukan ini saja?”

Dan menyerahkannya kepada Iris.

“...”

“...”

...Kenapa mereka berdua menatapku dengan mata dingin begitu? Ketegangan yang memenuhi udara lenyap dalam sekejap dan digantikan dengan rasa kecewa.

Apa sih yang sedang terjadi? Iris ingin pergi ke taman hiburan. Satsuki punya dua tiket. Masuk akal kalau mereka berdua pergi bersama-sama.

“Dan bagaimana, tepatnya, kau sampai pada kesimpulan itu setelah semua yang baru saja kau dengar? Rekka, apa kepalamu kosong seperti balon?” R bertanya, tampaknya serius.



Setelah itu, entah bagaimana aku berhasil membuat mereka setuju untuk pergi bersamaku sebagai kelompok tiga orang. Tentu saja, aku akan membeli tiketku sendiri pada saat kami pergi. Itu mahal, tapi... layak untuk keluar dari kekacauan itu.

“Aku harus meminta Harissa hanya untuk membeli bahan makanan termurah untuk minggu depan...”

Aku menghela napas ketika pikiranku beralih ke penyihir muda yang bertugas mengurus rumah tangga di tempatku. Kalau dipikir-pikir, Iris dan Harissa beradaptasi dengan kehidupan di sini dengan sangat baik, bukan? Harissa bahkan bukan dari Bumi, tapi ketika aku meninggalkan rumah pagi ini, dia memberi tahuku bagaimana daging lebih murah di supermarket jika membelinya di malam hari. Dengan begini, dia pada dasarnya adalah seorang ibu rumah tangga Jepang.

Rasanya memang aku terlalu mengandalkan dia, tapi entah kenapa, aku tak bisa berhenti. Kupikir aku harus mencari cara untuk berterima kasih padanya. Tetapi ketika aku mencoba memikirkan berbagai hal yang mungkin Harissa nikmati, waktu makan siang tiba.

“Rekka, kau akan makan di kelas hari ini?” Satsuki bertanya.

“Hmm, ya, kurasa.”

“Aku akan membeli sesuatu dari kafetaria! Jangan mulai makan tanpaku!”

Iris berlari keluar dari ruangan saat kelas berakhir. Satsuki dan aku menyatukan meja kami. Aku mengambil bento yang terbungkus serbet kain dari tasku. Sekarang giliran Harissa untuk membuat makan siang hari ini, jika aku ingat benar.

“...”

Satsuki menatap sekuat tenaga sambil makan siang, tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Satsuki dan Harissa bergantian membuat makan siangku, dan rasanya mereka memiliki semacam persaingan aneh yang terjadi. Mungkin mereka berlomba untuk melihat siapa yang bisa membuat makan siang yang lebih baik atau sesuatu. Tapi keduanya enak, jadi aku tidak peduli.

“Aku kembali!”

“Kau selalu sangat cepat, Iris.”

“Benarkah? Aku bahkan tidak menggunakan kecepatan penuhku, lho.”

Dia sudah pergi kurang dari satu menit. Meskipun, alien jauh lebih kuat dan lebih cepat daripada manusia, jadi mungkin itu benar-benar tidak tampak begitu cepat baginya.

“Pokoknya, mari kita makan,” kataku.

Iris menyeret meja untuk bergabung dengan kami, dan aku baru akan menyatukan tangan dan menyantap ketika telepon di sakuku mulai bergetar.

“Oh maaf. Seseorang memanggil.”

Aku melihat nama di layar: “Hibiki Banjo.” Aku belum menemuinya sejak kami pergi ke rumah sakit bersama-sama... Apa yang sedang terjadi?

“Aku akan segera kembali. Mulai saja tanpa aku.”

“Hah? Tapi aku ingin makan bersamamu!” Iris merengek.

“Aku bisa menunggu sebentar,” Satsuki membual.

Hmm... aku benar-benar tidak bermaksud membuat mereka menungguku.

“Aku akan kembali secepatnya, oke?”

Aku berdiri dan pergi ke lorong sebelum aku menekan tombol jawab.

“Kau terlalu lambat!” Teriak Hibiki melalui telepon.

“Aku baru mau makan. Yang benar saja.”

“Begitu... aku merasa gugup ketika harus menunggu lama, jadi lain kali, angkatlah lebih cepat.”

“Kenapa kau gugup karena panggilan telepon?” aku bertanya apa yang kupikir merupakan pertanyaan sederhana.

“I-Itu tidak masalah bagimu, kan?!”

“?”

Kenapa suaranya bergetar? Oh, tunggu, Hibiki selalu sedikit takut pada laki-laki, bukan? Itu termasuk aku, kukira, jadi itu akan menjelaskan mengapa dia gugup.

“Pokoknya, aku akan mengangkat lebih cepat lain kali.”

“Ya, lakukan itu. Sheesh.”

Dia tampak sedikit marah. Aku hanya menghela napas kecil.

Kami berdua memiliki “garis keturunan” khusus kami sendiri. Kupikir itu telah menyatukan kami sedikit, tapi sepertinya dia bahkan tidak merasa nyaman meneleponku di telepon. Itu agak menyedihkan.

“Jadi, kenapa kau menelepon? Kau butuh sesuatu?”

“Tentu saja. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu... “

“Denganku?”

Apakah itu berarti...

“Kau terjebak dalam cerita lain?”

“Betul. Tapi sepertinya kau dan teman-temanmu bisa menangani yang ini jauh lebih baik daripada aku sendiri.”

“Tak masalah. Tapi cerita macam apa itu?”

“Pada dasarnya, ini adalah perburuan harta karun.”

“Perburuan harta karun? Seperti emas Ieyasu Tokugawa yang terkubur atau semacamnya?”

“Bukan. Lampu ajaib Aladdin.”

“Aladdin?”

Tunggu, apakah itu sosok dengan jin yang mengabulkan harapan?

“Kau harus pergi mencari ‘Cerek Setan’ yang akan mengabulkan permintaan apa pun.”

“Cerita fantasi lain, ya?”

“Lebih baik daripada perjalanan lain ke dunia lain, kan?”

“Mungkin.” aku tertawa kecil.

“Omong-omong, waktu kau bilang ‘kau dan temanmu,’ siapa lagi yang kau bicarakan?”

“Kau punya gadis yang bisa menggunakan Sihir Kemahatahuan, kan? Satsuki?”

“Yeah.”

“Kalau dia bisa mencari sesuatu, maka menemukan harta karun pasti mudah.”

“Tapi meskipun kita menemukan harta karun itu, apa orang yang kau bantu akan mempercayai kami?”

Sihir adalah alat yang berguna, tapi itu adalah sesuatu yang bahkan orang normal tidak tahu itu nyata. Aku tidak tahu apakah orang yang menjebak Hibiki dalam perburuan harta karun mereka akan mau mempercayainya.

“Ya. Kau tidak perlu cemas soal itu. Chelsea juga bisa menggunakan sedikit sihir.”

“Aku mengerti. Maka mungkin — Tunggu sebentar!”

“Apa?”

“Apa kau memberi tahu Chelsea ini soal Sihir Kemahatahuan?”

Keluarga Satsuki telah lama takut bahwa Sihir Kemahatahuan mungkin digunakan untuk kejahatan oleh orang luar, jadi mereka telah melakukan segala yang mereka bisa untuk menyembunyikan keberadaannya. Adalah satu hal untuk memberitahu seseorang yang bisa dia percayai, atau seseorang yang tidak percaya pada sihir, tapi akan menjadi berita buruk jika penyihir lain dari Bumi mengetahui tentang rahasia Satsuki.

“Jangan cemas. Aku hanya bilang padanya bahwa aku mengenal seorang penyihir yang pandai menemukan sesuatu. Dan keluarganya mungkin penyihir, tapi dia pemburu harta karun yang melarikan diri.”

“Ah... Aku mengerti.”

Kukira itu membuatnya tak masalah. Tapi aku harus hati-hati jika dia bertemu dengan Satsuki.

“Lagipula, kupikir aku punya ide dasar. Kau ingin bertemu langsung dan membicarakan sisanya?”

“Kalau bisa. Mungkin lebih baik bagi Chelsea untuk menceritakan ceritanya sendiri padamu.”

“Baiklah. Jadi kapan kita bertemu?”

“Perburuan harta karun asli tidak seperti dalam dongeng. Kalau mau mendaki gunung atau melakukan susur gua, kau harus bersiap untuk itu. Chelsea ahli, jadi aku meminta dia melakukan bagian itu, tapi itu akan memakan waktu empat hari atau lebih untuk persiapan. Jadi kita akan bertemu hari Minggu ini...”

“Hari Minggu ini?!”

Aku hampir menjatuhkan ponselku karena terkejut.

“Hah? Ya. Jadi aku ingin bertemu di ... “

Hibiki terus berbicara. Tapi tunggu sebentar ...

“Aku akan berada di taman hiburan pada hari Minggu.”

Aku baru akan memberi tahunya bahwa aku akan pergi dengan Satsuki dan Iris, tapi...

“Ta-Taman hiburan? Da-Dasar bodoh! K-Kita tidak akan bertemu untuk bersenang-senang!”

“Aku tahu itu! Itu bukan maksudku. Aku...”

“J-Jadi jangan katakan sesuatu yang bodoh! Omong-omong, aku bahkan belum pernah ke taman hiburan, atau bahkan melihatnya, jadi aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di sana...”

“U-Um... Hibiki?”

Kedengarannya dia ketakutan, jadi aku mencoba berbicara dengannya. Tapi sepertinya dia tidak mendengarku.

“Dan bertemu di taman hiburan pada hari Minggu... kedengarannya hampir seperti ke-ke-ke-kencan! Jika aku pergi ke sana bersamamu... maksudku, Chelsea juga akan ada di sana, kurasa... bukannya dia akan menghalangi! Atau aku ingin sendirian denganmu atau apa pun! Aku hanya mengatakan itu... um... uh...”

“Hei, Hibiki!”

Karena sepertinya aku tidak diperhatikan, aku mencoba meneriakkan namanya sedikit lebih keras. Aku bisa mendengarnya menarik napas tajam karena terkejut.

“Kukira kau salah paham. Tapi sebenarnya...”

“Aku... Aku tidak salah paham! Sama sekali tidak! Kita bisa pergi ke taman hiburan setelah cerita ini selesai... um... hanya kita berdua... astaga! Aku hanya akan membawanya padamu saat hari Minggu! Temui aku di stasiun! Oke?”

BEEP.

Dia menutup teleponku.

“Hah? Eh, Hibiki? Hei! Halo?”

Aku dengan cepat mencoba meneleponnya kembali, tapi dia pasti mematikan teleponnya.

“Baik, aku akan mengirim pesan padanya... Tunggu.”

Aku sebenarnya tidak memiliki alamat mail-nya.

“Uh oh...”

Setelah aku memiliki konflik penjadwalan di atas segalanya. Apa yang harus kulakukan?

“Ini semakin menarik, ya? Heh heh...”

“Nggak menarik sama sekali! Dan jangan tertawa!”

Tanpa pikir panjang, aku berteriak pada R, yang pipinya membengkak seperti tupai ketika dia melayang di udara. Murid lain, yang tak bisa melihatnya, menatapku semua.

Aku bisa mendengar mereka mengatakan hal-hal seperti, “Namidare menatap hal-hal yang tidak ada, ya?” atau “Namidare membuatku takut karena dia kadang-kadang mulai berteriak-teriak,” atau “Namidare tidak hanya memiliki banyak gadis sungguhan, aku pikir dia juga punya gadis yang tak terlihat yang hanya dia yang bisa melihatnya.” Sayangnya, yang terakhir adalah yang paling akurat.



Malam itu...

Aku sedang duduk di sofa ruang tamu, tanpa sadar menonton TV.

“Hmm... apa yang diobral besok?”

Harissa duduk di sebelahku, dengan hati-hati mempelajari setiap selebaran di surat kabar.

Pikiranku beralih ke hari Minggu. Aku telah menelepon Hibiki beberapa kali setelah kami berbicara, tapi dia masih mematikan teleponnya. Kalau aku bahkan tidak bisa meninggalkan pesan padanya, tak ada yang bisa kulakukan.

Tapi aku ingat betapa bahagianya Iris ketika dia membicarakan taman hiburan, dan aku tak bisa membatalkannya. Dan Satsuki tak membiarkannya muncul, tapi dia sepertinya juga menantikannya.

Yah, aku takkan menghabiskan sepanjang hari di taman hiburan. Aku bisa pergi ke sana di pagi hari bersama mereka berdua, menaiki banyak hal, dan pergi di malam hari ketika mereka lelah. Lalu aku bisa pergi melihat Hibiki.

Tunggu, kami tidak memutuskan waktu untuk bertemu di stasiun... aku harus meneleponnya lagi besok.

“Um... Tuan Rekka?”

“Hmm?”

Aku merasakan ketukan ragu di pundakku dan berbalik untuk melihat Harissa menatap mataku.

“Umm...”

Dia gelisah seolah terlalu gugup untuk melanjutkan.

“Ada apa?”

Aku mengangguk padanya, dan dia sedikit tersipu.

“Apa kau... apa kau ingin pergi ke sini denganku?”

Lalu dia memberi saya selebaran.

“Apa ini? ‘Grand reopening sale’?”

“Betul.”

Selebaran itu adalah iklan untuk penjualan di toko pakaian. Dari peta, sepertinya toko serba ada di kota sebelah berakhir. Semua pakaian dalam gambar itu untuk anak perempuan. Itu bukan tempat yang suka kukunjungi. Tapi...

“Benar juga. Kita belum membeli pakaian untukmu, Harissa.”

Aku baru saja memberinya pakaian tua Ibuku. Tapi Ibuku tinggi, dan jujur saja, dia punya sosok yang membuatnya sulit untuk percaya dia punya anak. Pakaiannya terlalu besar untuk Harissa. Pastinya longgar. Keseringan, dia akhirnya hanya mengenakan pakaian lamaku. Dia bahkan tidak punya rok.

“Ya, ini adalah kesempatan bagus untuk membeli sesuatu untukmu...”

“Y-Ya. Jadi, um...”

“Hmm?”

“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin kau memberi tahuku pakaian apa yang menurutmu paling cocok untukku...”

Kemerahan di pipinya berubah warna lebih dalam saat dia menatapku.

Biasanya aku tidak pernah menolaknya ketika dia seperti ini, tapi ada satu masalah... Brosur itu berkata, “HANYA SATU HARI!” dalam huruf besar. Dan itu tanggal untuk hari Minggu ini. Sekarang aku punya sesuatu yang lain untuk dijejali.

Jika aku hanya akan membeli pakaian untuk Harissa, aku bisa melakukannya beberapa hari yang lalu. Tapi aku sudah perlu membeli tiket taman hiburan, yang akan membuat dompet kering. Akan sulit untuk membeli pakaian dengan harga penuh dengan anggaran seperti itu. Aku mungkin harus makan nasi dengan prem rebus untuk bulan berikutnya.

Sebenarnya, alasan Harissa telah menunggu penjualan untuk membicarakan ini sama sekali mungkin karena dia tahu seberapa ketat kami secara finansial. Tak mungkin baginya untuk mengetahui bahwa aku sudah menyetujui rencana lain untuk hari itu.

Aku benar-benar tidak punya waktu — atau uang — untuk ini, tapi Harissa selalu membantu di sekitar rumah, dan aku tidak bisa menolaknya. Setelah semua yang dia lakukan untukku, aku ingin membelikannya semua yang dia bisa minta.

“Hmm...”

“...Apa itu bukan hari yang baik untukmu, mungkin?”

Bahu Harissa mulai merosot ketika dia melihat reaksiku.

“Oh, tidak, tidak apa-apa, hanya...”

“Kalau begitu tidak apa-apa?!”

“Hah?”

Seharusnya aku tahu lebih baik daripada memberinya jawaban yang tidak jelas, tapi sudah terlambat untuk menyesal.

“Yay! Aku sangat bahagia! Aku bisa melakukan perjalanan dengan Tuan Rekka!”

Harissa melompat-lompat di sofa seperti kelinci dan memeluk dadanya. Lalu dia melompat dari sofa dan menoleh padaku dengan mata bersinar dan seringai lebar di wajahnya.

“Aku mau mandi dulu!” katanya saat dia keluar dari ruang tamu.

...Apakah ada laki-laki di bumi yang bisa mengejarnya sekarang dan mengatakan kepadanya bahwa laki-laki itu tidak bersungguh-sungguh? Jika ada, dia pastilah laki-laki yang hampa dan tidak berjiwa. Jenis laki-laki yang bahkan tidak akan peduli jika kau mengatakan kepadanya dunia akan segera berakhir. Aku jamin itu.

“Dia benar-benar menginginkan pakaian, ya?”

Yang bisa kulakukan hanyalah berbisik pada diri sendiri.

“Mungkin itu bukan yang diinginkan Harissa, kukira.”

Tunggu. R ada di sana, jadi aku tidak benar-benar berbicara pada diri sendiri.

“...”

Alih-alih mencoba melarikan diri dari kenyataan, aku memutuskan untuk meluruskan semuanya. Satsuki dan Iris ingin pergi ke taman hiburan. Hibiki membawa seorang gadis bernama Chelsea untuk menemuiku di stasiun. Harissa ingin pergi ke obral toko serba ada bersamaku. Dan aku belum menetapkan waktu untuk bertemu dengan Hibiki.

Aku mungkin harus pergi lebih awal untuk tiba tepat waktu untuk penjualan. Dan baik belanja pakaian Harissa dan taman hiburan akan memakan waktu beberapa jam, jadi aku tidak bisa melakukan satu hal di pagi hari dan yang lain nanti.

“Ya ampun, aku tak tahu harus berbuat apa...”

Tak ada yang terpikir olehku tidak peduli berapa lama aku berpikir. Aku menatap langit-langit dan berbisik...

“Selamatkan aku, hero...”
Load comments