SAO Progressive v1 10

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

Aria di Malam Tanpa BIntang

10

Proses dari Tolbana ke labirin menusuk memori Asuna. Setelah beberapa menit merenungkannya, dia pun menyadari apa yang dia ingat.

Kunjungan lapangan sekolah mulai Januari ini. Mereka pergi ke Queensland di Australia. Teman-teman sekelasnya dilemparkan ke dalam kegelisahan oleh pergeseran dari pertengahan musim dingin Tokyo ke pertengahan musim panas yang berkobar di Gold Coast. Mereka sangat gembira, ke mana pun mereka pergi.

Tak ada apa pun — tak satu pun — yang menghubungkan kedua pengalaman itu, tapi ia merasakan atmosfer yang memancar dari empat puluh player yang berbaris melalui jalan setapak yang sangat mirip dengan teman sekolahnya. Berceloteh tak berujung, sering tertawa; satu-satunya hal yang tampak berbeda adalah kehadiran monster yang bisa meledak dari pohon kapan saja. Tapi dengan para pejuang yang percaya diri ini, mereka akan dapat menghabisi musuh dalam hitungan detik.

Asuna dan si pendekar pedang di sisinya berada di bagian belakang prosesi. Dia menoleh padanya dan memulai percakapan, memilih untuk mengabaikan kekejaman yang terjadi malam sebelumnya.

“Hei, sebelum kau datang ke sini, apa kau bermain gim… MMO lainnya? Apa itu sebutannya?”

“Um... yah, kurasa.” Dia menggelengkan kepalanya, masih agak terintimidasi.

“Apa berkeliling di gim lain terasa seperti ini? Kau tahu... seperti mendaki...”

“Haha. Aku berharap,” dia tertawa, lalu mengangkat bahu. “Sayangnya, tidak seperti ini sama sekali di judul lain. Dengar, kalau kau tidak full dive, kau harus menggunakan keyboard atau mouse atau controller untuk bergerak. Kau hampir tidak punya waktu untuk mengetik apa pun di jendela obrolan.”

“Oh begitu…”

“Tentu saja, ada juga gim dengan dukungan obrolan suara, tapi aku tidak pernah memainkannya.”

“Ahh.”

Asuna mencoba membayangkan gerombolan karakter gim berjalan diam di monitor layar datar.

“Aku penasaran... seperti apa rasanya.”

“Eh? Rasanya?” Dia mengalihkan pandangan skeptis padanya. Dia mencoba menggambarkan gambar di kepalanya.

“Maksudku... jika memang ada dunia fantasi seperti ini... dan sekelompok petarung dan penyihir bergabung dalam sebuah petualangan untuk mengalahkan monster yang mengerikan. Apa yang akan mereka bicarakan di jalan saat bepergian? Atau akankah mereka berbaris dalam keheningan? Itu yang aku maksud.”

“……”

Pendekar pedang itu terdiam selama beberapa saat yang canggung, dan ketika Asuna menatapnya, dia menjadi sadar bahwa pertanyaan yang diajukannya sebenarnya cukup kekanak-kanakan. Dia berbalik dan mencoba menggumamkan “lupakan,” tapi dia berbicara lebih dulu.

“Jalan menuju kematian atau kemuliaan, ya,” gumamnya. “Jika orang-orang mencari nafkah dengan melakukan itu, aku yakin itu tidak akan berbeda dengan pergi ke restoran untuk makan malam. Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, kau mengatakannya. Jika tidak, kau tidak perlu. Pada titik tertentu, aku yakin serbuan bos ini akan seperti biasa. Dengan asumsi kita dapat melakukan cukup banyak untuk membuatnya seperti itu.”

“Heh... ha-ha.”

Dia tak bisa menahan tawa dari kekonyolan pernyataan itu, lalu dengan cepat meminta maaf untuk menutupinya.

“Maaf, tidak bermaksud tertawa. Tapi... itu aneh sekali. Tempat ini adalah kebalikan dari yang biasa. Bagaimana kau bisa membuat sesuatu di sini menjadi normal?”

“Ha-ha... Poin bagus,” dia terkekeh pelan. “Tapi hari ini empat minggu penuh di sini. meskipun kita mengalahkan bos ini, ada sembilan puluh sembilan lantai di depan. aku mengharapkan ini akan memakan waktu dua, mungkin tiga tahun. Jika itu berlangsung selama itu, bahkan yang luar biasa akan menjadi biasa.”

Suatu kali, dahsyatnya kata-kata itu akan membuat Asuna kaget dan putus asa. Tapi sekarang satu-satunya hal yang bertiup dalam hatinya adalah angin kering dari penyerahan diri.

“Kau sangat kuat. Aku tidak merasa bisa melakukan itu — bertahan di sini selama bertahun-tahun... Itu jauh lebih menakutkan bagiku daripada mati dalam pertempuran hari ini.”

Pendekar pedang itu meliriknya sekilas, memasukkan tangannya ke saku jas kelabu, dan bergumam, “Kau tahu, akan ada pemandian yang lebih bagus di lantai yang lebih tinggi, jika kita bisa ke sana.”

“...B-benarkah?” dia bertanya tanpa berpikir, lalu tersentak. Dia melawan rasa malunya yang semakin meningkat dan memberinya peringatan diam-diam. “Jadi... kau ingat. Kalau begitu, aku akan memberimu satu barel penuh susu asam.”

“Yang berarti kau harus selamat dari pertempuran ini,” balasnya, menyeringai.
Load comments