Valhalla Saga 32-4

Terjemahan SETIA BLOG, dilarang copas

Episode 32/Chapter 4: Negeri Kegelapan (4)

“Hedaaaaa!”

Tae Ho menjerit dan bangkit. Dia tampak seperti seseorang yang mengalami mimpi buruk, karena tubuhnya benar-benar berkeringat.

“Itu jeritan aneh.”

Haaah....Haaah....Cuchulainn?”

Napas Tae Ho tersengal-sengal saat dia menoleh. Dia bisa melihat Cuchulainn terkekeh.

“Apa kau baik baik saja? Apa kau ingat sesuatu?”

Cuchulainn duduk di sebelah Tae Ho dan mengajukan pertanyaan. Tae Ho menghadapi Cuchulainn dengan wajah linglung tetapi kemudian memandang dirinya sendiri dengan cara terkejut.

“Gila! Aku pingsan meskipun aku memiliki berkat Idun?”

Berkat Idun tidak melepaskan kesadaran Tae Ho bahkan ketika Tae Ho berada di ambang kematian.

Tapi sekarang, dia pingsan begitu bersih meskipun dia memiliki restu Idun.

Cuchulainn menghadapi keterkejutan Tea Ho dan kemudian meletakkan tangannya di pundaknya seolah itu menyenangkan.

“Bukankah itu beruntung? Kalau kau tidak pingsan, itu akan lebih menyakitkan.”

“Yah, benar sih tapi...”

Itu adalah kata-kata yang jujur, tapi dia tidak mau menyetujuinya.

Cuchulainn menepuk bahu Tae Ho lagi.

“Tapi hei, kau masih menahannya agak lama. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang yang pingsan setelah menahannya cukup lama sepertimu.”

Mayoritas kehilangan kesadaran mereka segera setelah mereka mulai.

Tae Ho membuka matanya dengan tajam pada pujian yang bukan pujian dan melemparkan pertanyaan sambil menghela napas.

“Tapi tetap saja, itu punya efek kan?”

“Tentu saja ada pengaruhnya. Mampu berbicara dengan berhadapan muka adalah buktinya.”

“Hah? Begitu ya...!”

Tae Ho melihat sekelilingnya. Itu bukan kediaman Scathach, tapi Cuchulainn memiliki bentuk yang sangat jelas.

“Benar, ini bukan dunia nyata. Ini dunia imajiner guru.”

Cuchulainn berdiri dan melihat sekelilingnya. Dunia diwarnai abu-abu dan ditutupi oleh bayangan besar.

“Kau bisa bilang bahwa itu adalah Negeri Kegelapan yang lain. Meskipun Erin hancur, Negeri Kegelapan...dunia itu masih tersisa.”

Dunia yang tidak lengkap yang berada di antara batas hidup dan mati.

Erin hancur, tapi Negeri Kegelapan masih tersisa. Scathach telah kehilangan bangsanya dan negaranya, tetapi dia masih menjadi ratu negeri itu.

Alasan Scathach adalah salah satu penyihir terbaik di Erin bukan karena dia telah menguasai beberapa sihir yang merusak atau ofensif.

Meskipun dia seorang Milesia, dia berpengalaman dalam kekuatan mistis Tuatha De Danann. Dia secara alami bisa menggunakan beberapa keajaiban yang hanya bisa digunakan oleh Dewa Tuatha De Danann yang kuat seolah-olah dia bernapas.

Di Erin, penyihir bukanlah seseorang yang bertarung.

Mereka adalah pelindung dan pemancar pengetahuan dan keajaiban.

Tapi tentu saja, jika penyihir hebat seperti Merlin atau Scathach bertempur di wilayah magis setelah melakukan persiapan yang cukup, ceritanya berubah. Cuchulainn biasanya menganggap Scathach sebagai seseorang yang harus ia lindungi, tetapi ia bahkan tidak memikirkan itu di dalam wilayah magis Scathach.

Cuchulainn memandang rendah Tae Ho dan berkata,

“Dengarkan baik-baik, Tae Ho. Semua teori teknik senjata telah disuntikkan ke dalam pikiran dan tubuhmu, tapi kau tak bisa menggunakannya secara bebas karena baru saja diukir. Kalau kau ingin menggunakannya dengan benar, kau harus belajar dengan ragamu.”

Apa yang Scathach lakukan pada Tae Ho itu sederhana.

Butuh waktu lama untuk mengajarinya teknik satu per satu, jadi dia dengan paksa mengukirnya di tubuh dan pikirannya.

Jelas itu bukan proses yang mudah dan tidak bisa diulang dengan mudah.

Tae Ho merasakan sakit seperti tulang dan dagingnya terkoyak. Tae Ho telah didorong ke ambang kematian beberapa kali dalam pertempuran melawan para raksasa, tapi kali ini adalah yang terburuk. Dia tidak bisa mengingat banyak hal yang lebih menyakitkan daripada ini.

Itu adalah proses yang harus dilalui semua murid Scathach.

Karena itu, Cuchulainn merasakan rasa simpati dan menunjuk ke tempat yang jauh dengan dagunya.

“Menara yang kau lihat di sana adalah Menara Bayangan. Itu memiliki beberapa lantai di dalamnya, dan ada master lantai yang melindungi setiap lantai. Kalahkan mereka dan panjat menaranya. Setiap kali kau melewati lantai, kau akan bisa menguasai satu teknik Scathach.”

Ketika Tae Ho menoleh, dia melihat sebuah menara besar. Itu adalah menara yang umum, bertipe pilar, tapi begitu tinggi sehingga tak bisa melihat puncaknya.

“Saat guru menghubungkan dunia imajinasinya dengan pikiranmu, kau takkan bisa sepenuhnya menggunakan sagamu. Kau takkan bisa menggunakan saga-saga yang meminjam kekuatan eksternal seperti ‘Prajurit Idun’, dan kalau bisa, ada baiknya kalau bisa tidak menggunakan saga-saga lain karena tujuan dari menara ini adalah untuk meningkatkan keterampilanmu. Hal terbaik adalah menembus hanya dengan teknik senjata seolah-olah kepala menabrak tanah.

“Bagaimana jika aku mati saat bertarung melawan master lantai?”

Dia tidak berpikir bahwa Scathach akan memberinya pelatihan yang lembut dan mudah pada saat ini.

Cuchulainn mengangkat bahu atas pertanyaan Tae Ho dan berkata,

“Yah, seperti yang kau bayangkan, kau tidak akan benar-benar mati di tempat ini. kau hanya perlu menentukan dirimu sekali lagi dan berulang kali menantangnya. Tak perlu makan dan tidur karena ini adalah dunia imajiner. Kau akan terus berjuang.”

Mungkin, itu lebih buruk daripada mitos Valhalla yang mengulangi perang tanpa akhir. Setidaknya ada waktu untuk menikmati diri sendiri setelah bertarung dalam mitos Valhalla.

Tae Ho memikirkan apa yang harus dia lakukan dan bagaimana dia harus menafsirkan kata-kata Cuchulainn dan kemudian berdiri dengan tiba-tiba.

“Tunggu, sampai kapan?”

“Sampai kau menyerah. Kau sudah tahu orang seperti apa guru kita.”

Dia bisa menyerah di lantai pertama dan di lantai sepuluh.

Hanya saja, hal-hal yang bisa didapat seseorang berkurang semakin cepat mereka menyerah.

“Selain itu, dia sudah mengatakan bahwa dia menikmati memoles batu permata menjadi perhiasan.”

“Um. Apakah pemolesan itu dengan cara materialistis?”

Cuchulainn hanya menunjukkan senyum alih-alih mengangguk pada pertanyaannya. Dia menepuk bahu Tae Ho dengan wajah yang terpisah.

“Semangat.”

Tae Ho memalingkan matanya dan kemudian melihat bahwa pintu Menara Bayangan sedang terbuka.

...

Adenmaha menggigit bibirnya saat melihat Tae Ho di atas altar. Kondisinya sama sekali tidak baik. Dia berkeringat sambil mengerutkan kening dan bahkan kadang-kadang menjerit.

“Dasar penyihir! Apa yang kau lakukan pada tua.....kyak!”

Adenmaha akhirnya mengutuki Scathach karena dia gugup tetapi kemudian lengannya terpelintir dan jatuh ke tanah. Scathach berada di atas Adenmaha dan memutar lengannya lebih kuat.

“Sikapmu buruk.”

Ah! Itu sakit! Sakit! Maaf!”

Adenmaha memohon sambil menangis, tapi Scathach tidak melepaskannya dengan mudah. Dia memberinya banyak waktu sehingga Adenmaha dapat mengukir pelajaran hari ini baik di tubuh dan pikirannya.

Dan beberapa menit kemudian-

Scathach melepaskan lengan Adenmaha dan berkata sambil berdiri,

“Dia baru saja mulai dengan pelatihan.”

Adenmaha tidak memiliki kekuatan untuk menjawab jawaban yang datang dengan tempo lambat. Dia terisak tidak adil dan kemudian berbalik untuk melihat Tae Ho dan berkata,

“Kerutannya terlihat menyakitkan.”

“Harga yang kau bayar adalah sebesar apa yang kau peroleh.”

Filsafat Scathach menyatakan bahwa tidak ada hal yang mudah di dunia.

“Kerangka waktu dari dunia imajiner dan dunia nyata berbeda. Kau dapat mengatakan bahwa ini adalah tempat pelebaran waktu. Sebulan di tempat itu seperti sehari di sini.”

“Eh, kurasa aku pernah mendengar sesuatu yang mirip dari tuan.”

Pasti sesuatu yang keluar di manhwa (manga).

Sementara Adenmaha menutup bibirnya dan mencoba mengingat, Scathach menyeringai.

“Kau sekarang memanggilnya tuan dengan sangat baik. Sepertinya kau menyukainya?”

“Ini- hmph.

Adenmaha cemberut sambil memalingkan pandangannya. Scathach tersenyum dengan matanya seolah-olah Adenmaha benar-benar imut.

“Hedaaa!”

Tae Ho menjerit lagi. Adenmaha menoleh untuk melihat Tae Ho dengan tergesa-gesa, dan Scathach mengerutkan kening dan berkata,

“Sepertinya sudah mulai nyata.”

Itu adalah sesuatu yang cukup biasa bagi Scathach. Sebagai hasilnya, dia berbicara kepada Adenmaha, yang merasa gelisah saat menyeka keringat Tae Ho, dengan suara tenang.

“Katakan pada Heda bahwa dia akan seperti ini selama beberapa hari.”

“Kau tidak tahu kapan dia akan bangun?”

“Itu tergantung pada sifatnya.”

Jika dia menyerah segera, dia akan bisa bangun sekarang, tapi sejak awal, Scathach tidak akan menggunakan sihir yang terhubung ke dunia imajinernya jika Tae Ho adalah orang yang seperti itu.

“Aku sangat menantikan...ke lantai berapa dia bisa mencapainya dan kapan dia akan bangun.”

Dia akan memoles batu permata dan mengubahnya menjadi permata.

Kesenangan muncul di mata Scathach dan Adenmaha menyusut dengan wajah ketakutan.

...

“Heda.”

Heda berbalik dengan tergesa-gesa pada panggilan rendah.

“Freya-nim.”

“Jadi, kau sudah meminta untuk merekrut Valkyrie.”

Freya berbicara ke arah Heda yang mengekspresikan etiket dengan lembut.

Tempat kedua orang itu berada di dermaga legiun Freya.

Legiun terbesar di antara beberapa legiun di Valhalla bukan milik Odin maupun Thor.

Legiun Freya terletak di pusat Valhalla dan membual ukurannya yang besar sebanding dengan beberapa legiun lainnya bersama-sama. Tentu saja, ada beberapa dermaga.

Di antara mereka, tempat yang Heda datangi adalah yang terhubung dengan Pusat Pelatihan Valkyrie.

Heda memasang wajah gugup dan menegang karena Freya berbicara tentang reklutasi bahkan tanpa menyapanya.

“Jangan terlalu gugup. Ini juga hal yang membahagiakan bagiku bahwa legiun Idun sudah mulai bangkit kembali. Aku tidak membawanya keluar untuk menemukan kesalahan di dalamnya.”

“Terima kasih.”

“Kaku sekali.”

Freya menertawakan Heda menempatkan tangannya di dadanya dan kemudian menutup jarak dengannya. Dia melihat wajah gugup Heda dari dekat dan kemudian mengangguk.

“Kau jadi lebih cantik dari sebelumnya. Sepertinya wajahmu bersinar. Aku tak suka kalau prajurit Idun itu bertindak begitu tenang setelah melihatku…… tapi aku hanya bisa mengakui ini.”

Heda tidak tahu sampai mana Freya bercanda.

Terserah, tak ada kejahatan di mata Freya. Selain itu, Heda hanya bisa menunjukkan senyum malu karena isi pembicaraan ini.

Freya terkikik. Dia mencubit pipi Heda seolah-olah Heda yang malu itu lucu dan kemudian berkata,

“Para Valkyrie di Pusat Pelatihan Valkyrie cukup tertarik pada legiun Idun. Mereka juga sangat tertarik dengan prajurit Idun. Kau akan bisa mendapatkan seseorang yang ingin bergabung tanpa banyak masalah.”

“Terima kasih.”

“Yah, aku tidak benar-benar melakukan apa pun. Ini berkatmu dan prajurit Idun karena telah bekerja sangat keras.”

Seolah-olah, legiun Idun adalah legiun yang cukup populer di dalam Pusat Pelatihan Valkyrie.

Pertama, jumlah Valkyrie rendah. Itu berarti bahwa Valkyrie yang baru saja lulus tidak memiliki banyak pendahulu.

Tentu saja, itu akan menjadi kegagalan total jika tidak ada penerusnya masuk, tapi legiun Idun mulai bangkit sepenuhnya. Para prajurit dan Valkyrie akan meningkat dalam sekejap.

Ada beberapa pendahulu tetapi banyak penggantinya.

Karena ada beberapa Valkyrie, jika seseorang masuk sekarang, bahkan Valkyrie yang baru saja lulus akan dapat mengambil tempatnya.

Akan lebih aneh jika tidak populer.

“Aku harus pergi dulu.”

Freya bergumam dengan suara rendah dan menatap Heda. Dia memegang tangannya diam dan kemudian menatap mata emas Heda.

“Katakan halo kepada Idun.”

Itu bukan suaranya yang biasa dan imut.

Itu adalah suara dan ekspresi yang memiliki kasih sayang dari Dewi Kecantikan dan Sihir.

“Ya, baiklah.”

Heda menjawab sambil memasang wajah yang rumit, dan Freya mengangguk pelan. Dia tersenyum imut lagi dan melepaskan tangan Heda.

“Untuk Asgard dan Sembilan Dunia.”

“Untuk Asgard dan Sembilan Dunia.”

Freya memukul dadanya yang melimpah dua kali dan kemudian berbalik. Heda menatap punggungnya sejenak dan kemudian mendesah panjang.

“Aku harus kembali.”

Ada banyak hal yang harus dilakukan di kediaman.

Heda melompat ke atas kapal kayu dan kemudian mengarahkannya ke kediaman Idun.

 
Load comments