Unlimited Project Works

Tampilkan postingan dengan label Arifureta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arifureta. Tampilkan semua postingan

10 Oktober, 2018

Arifureta v2 Cerpen Bonus 6

on  
In  

Konferensi Orangtua-Guru

“Bu, Yah, tolong, TOLONG jangan mengatakan sesuatu yang memalukan.” Kata-kata itu bergema melalui koridor sekolah yang diterangi cahaya malam.

“Ayolah, Hajime, apa yang kau cemaskan? Ini cuma konferensi orangtua-guru. Kami hanya akan membicarakan tentang apa yang kau lakukan di sekolah dan semacamnya.”

“Ya ampun, cemas sekali. Hanya karena wali kelasmu loli legal bukan berarti kami akan mengacau atau begitulah.”

“Itu TEPAT masalahnya! Tolong jangan gunakan kata-kata seperti loli legal di depan guruku. Serius, tak ada orangtua orang lain yang seperti itu. Tolong, aku mohon, diam saja, oke?” Hajime terlihat sangat serius. Tapi ibunya, Sumire, dan ayahnya, Shuu, hanya menyeringai bak anak kecil.

“Apakah kau dengar itu, Sumire? Dia mengatakan tak ada orangtua orang lain yang seperti ini.”

“Memang benar. Untuk menduga dia menganggap kami sebagai orang spesial ... Sayang, aku tidak menduga aku akan bisa melepaskannya ketika saatnya tiba untuk menjadi mandiri. Ufufu.”

“Itu bukanlah maksudku! Berhentilah menafsirkan hal-hal sesuka kalian!” Orangtua Hajime mengabaikannya. Hari ini adalah hari yang dijadwalkan untuk konferensi orangtua-gurunya. Karena dia tahu betapa gilanya orangtuanya, Hajime sangat cemas mereka mungkin mengacaukan segalanya.

Dia tiba-tiba teringat bencana disaat konferensi SMP-nya. Dia tersadar dari renungannya oleh suara langkah kaki seseorang yang datang ke lorong. Guru yang keluar untuk menyambut mereka tidak lain adalah Hatayama Aiko. Berdiri hanya setinggi 140 sentimeter, Aiko yang berwajah bayi mirip dengan bayi tupai lebih dari guru dengan cara dia selalu berlari melakukan yang terbaik untuk membantu, tapi malah memperburuk keadaan.

Wawancara itu dimulai dengan polos dengan Aiko berbicara mengani nilai Hajime. Shuu dan Sumire mengangguk dengan berlebihan sambil dia memeriksa nilai tesnya dan sejenisnya. Mereka jelas hanya berpura-pura bagian itu, jadi Hajime semakin peduli.

“Umm, jadi pada dasarnya, Nagumo-kun baik-baik saja secara akademis. Meskipun aku dan beberapa guru lainnya cemas soal kebiasaan kronisnya tidur di kelas ...” Aiko tersenyum canggung, dan Hajime membalas senyumnya. Lalu, dengan enggan, dia membuka mulutnya dan mencoba mengantarkan kalimat berikutnya sebijaksana mungkin.

“Selain itu, hubungan interpersonal Nagumo-kun sedikit ...”

Sebuah gambaran Hajime duduk sendirian saat makan siang melintas di benak Aiko. Meskipun isolasinya mengkhawatirkan Aiko, Hajime sendiri sepertinya tidak terganggu sama sekali. Dia bahkan mengatakan kepada Aiko untuk tidak mengkhawatirkannya, jadi dia tidak yakin bagaimana mengatasinya. Namun, Shuu menepis kekhawatirannya dengan sembarangan.

“Baik aku dan istriku sadar akan kekurangan teman-temannya, Sensei. Dan tak satu pun dari kami yang peduli.”

“T-Tapi ...”

“Tidak apa-apa, Sensei. Anak kami mungkin sedikit pasif, tapi jika saatnya tiba ketika dia perlu melangkah, dia akan melakukannya. Aku dan suamiku sudah mendiskusikan hal ini sejak lama ... dan jika waktunya tiba bahwa putra kami harus melarikan diri, kami sudah menyiapkan beberapa pilihan untuknya!”

“U-Umm aku tidak yakin melarikan diri adalah ...” Aiko heran pada bagaimana orangtua Hajime yang tidak peduli dengan situasi sekolahnya, dan mereka bahkan bersedia membantunya melarikan diri jika Hajime menginginkannya.

Sumire mendadak berubah serius. Memikirkan komentarnya sebelumnya karena itu harusnya cuma bercanda, Aiko juga menjadi serius. Dia bersiap untuk ibu Hajime menanyakan apa yang dia lakukan sebagai guru untuk memperbaiki situasi, tapi apa yang Sumire minta benar-benar tidak terduga.

“Omong-omong, Hatayama-sensei, apa Anda sudah berpacaran sekarang?”

“... Datang lagi?” Aiko membuka matanya lebar-lebar, tanda tanya metafora mengambang di atas kepalanya. Sebuah tanda tanya mengambang di atas kepala Hajime.

“Aku bertanya apakah ada laki-laki yang Anda kencani.”

“T-Tidak, tidak ada, tapi ...”

“Lalu, apakah ada seorang perempuan yang Anda kencani?”

“Tentu saja tidak! Apa maksud Anda!?” Aiko berteriak ketakutan. Ekspresi Hajime mengalami transformasi yang cepat.

“Aku mengerti. Aku pernah mendengar bahwa mengajar adalah pekerjaan yang sangat menuntut. Apalagi, putraku berkata Anda bahkan menyerahkan banyak waktu luang untuk membantu para murid ... Terus terang saja, kami cemas soal prospek pernikahan Anda.”

“Te-Terima kasih atas perhatian Anda! Jadi, mengapa Anda melakukan ini?”

“Yah, aku hanya berpikir ... kenapa tidak menikahi putra kami?”

“Serius, apa maksud ANda!?” Aiko berseru.

“Apa-apaan! Bu, Yah!” Kekacauan menyelimuti ruang kelas. Shuu dan Sumire terus membingungkan Aiko lebih jauh, sementara Hajime mati-matian mencoba menghentikan kekacauan orangtuanya. Namun, hanya memburuk dari sana.

“Hah? Tapi bukankah Hatayama-sensei benar-benar tipemu?” Shuu bertanya.

Bingung, Aiko tidak bisa berkata lebih dari “Hawawa.”

Untuk itu, Sumire berkomentar, “Wow, akhirnya aku mendengar seseorang ‘hawawa’ dalam kehidupan nyata,” sambil mengangguk puas.

“U-Umm, itu semua yang ingin aku diskusikan ...” Aiko merosot lelah di atas meja yang dia duduki.

Beberapa saat kemudian, dia bangkit dan berjalan sempoyongan ke kantor guru. Berurusan dengan Shuu dan Sumire bersama-sama menguras banyak stamina mental. Hajime tengah memikirkan permintaan maaf yang tepat ketika Aiko tiba-tiba berhenti di tengah-tengah lorong dan berbalik ke arah mereka. Ada sedikit sipu samar menyebar di pipinya.

“N-Nagumo-kun! Aku gurumu, jadi kita tidak bisa menjalin hubungan, oke?” Dia kemudian berbalik dan menghilang ke kantor guru.

“Bu, Yah, bagaimana aku harus menghadapi guruku besok?”

Orangtua Hajime hanya memberinya acungan jempol.

“Dengan senyuman, kan?” Mereka berdua mengatakan itu secara bersamaan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hajime merasa ingin membunuh seseorang.
MARI KOMENTAR

Share:

Arifureta v2 Cerpen Bonus 5

on  
In  

HALLOWEEN?

“Umm, uhh ... bagaimana tampangku, Nagumo-kun?” Ruang kelas cukup berisik, kendati kelas telah berakhir untuk hari itu. Di salah satu sudut ruangan, Hajime menegang. Seolah-olah hantu imut baru saja melemparkan kutukan padanya.

“K-Kau terlihat sangat imut. Itu kostum nekomata, kan, Shirasaki-san? Siluman kucing itu?” Hajime entah bagaimana berhasil mendapatkan kembali ketenangannya untuk menjawab pertanyaan Kaori.

Kostum nekomata-nya terdiri dari yukata dan sepasang telinga kucing serta ekor kucing. Dia tersipu gembira mendengar kata-kata Hajime, membuat wajahnya yang sangat manis mencapai tingkat keimutan yang harus diklasifikasikan sebagai senjata pemusnah massal. Setengah cowok di kelas sudah mengeluarkan air mancur dari hidung mereka, sementara para cewek memandang dengan dingin.

Kaori tidak mengenakan ini karena itu adalah hobinya atau apa, tapi karena hari ini adalah Halloween. Usai banyak pertemuan, di mana orang-orang terus mendorong agenda mereka sehingga mereka bisa melihat Shizuku dan Kaori dengan kostum yang imut, OSIS telah memutuskan untuk mengadakan acara minum teh Halloween. Tak jauh dari sana, Shizuku memberikan sentuhan akhir pada kostum Dracula-nya. Banyak gadis datang untuk mengaguminya, dan Shizuku tertawa gembira dengan mereka soal kostum mereka.

Saat Kaori langsung menuju Hajime begitu dia selesai berganti pakaian, banyak cowok lain di kelas itu yang melotot marah padanya. Pakaian monster mereka dan tatapan mengerikan membuat Hajime bertanya-tanya apakah dia akan terjebak dalam mimpi buruk Halloween malam ini.

“Oh iya, Nagumo-kun. Shizuku-chan dan aku berpikir untuk berpesta di rumahnya setelah ini selesai, maukah kau datang juga?” Tatapan orang-orang semakin membesar. Tatapannya mengatakan itu semua. “Hanya Shizuku, Kaori, Ryutarou, dan Kouki yang akan berada di pesta itu. Bagaimana bisa kau pergi meskipun kau bukan teman masa kecilnya seperti mereka? Sebaiknya kau tidak mengatakan ya.”

Sepertinya pesta Halloween malam ini tidak akan berakhir dengan damai. Serta itu semua adalah kesalahan Kaori.

“Oh, maaf, tapi aku sudah punya rencana setelah ini.”

“Begitu ya. Sayang sekali, tapi kukira tidak ada yang bisa dilakukan kalau kau sibuk. Jadi, bisakah kita setidaknya duduk-duduk saja saat pesta? Halloween cuma datang setahun sekali.” Cara dia mengutarakan hal itu dengan santai sambil meletakkan tangannya bersama-sama seperti memohon memungkiri seberapa licik Kaori sebenarnya. Seandainya Hajime tidak merasakan ancaman langsung terhadap kehidupannya yang mengelilinginya dari semua pihak, dia akan langsung setuju.

“M-Maaf. Aku sudah membuat rencana...” Hajime mundur perlahan, memastikan jalur mundurnya jelas, sambil menolak dengan sopan. Kaori mengerutkan alisnya, tidak menyadari pasukan monster mendekati Hajime.

“Kau sudah punya rencana? Hei, Nagumo-kun, apakah rencana itu dengan seorang perempuan? Baik?”

“Hah? Tidak, tentu saja tidak. Ahaha ...” Hajime merasa menggigil di punggungnya dan dengan cepat membantah tuduhan itu. Kaori menghela napas lega, tetapi kemudian merendahkan bahunya pada saat berikutnya. Dia masih kecewa karena Hajime tidak pergi bersamanya. Salah satu orang di dekatnya berpakaian seperti serigala mengeluarkan geraman yang sangat mirip serigala. Sampai sini ia mungkin sudah berubah menjadi monster di dalam juga.

Kaori bangkit kembali dengan cepat. Bagaimana pun, bukannya dia harus tetap duduk. Tiba-tiba, matanya bersinar dan dia mengeluarkan smartphone miliknya.

“Kalau begitu setidaknya kita bisa berfoto, kan? Kau tahu, untuk memperingati kesempatan itu.”

“Ya, itu tak masalah.” Kenyataannya itu tidak baik sama sekali, tapi dia tidak bisa menolaknya lebih jauh. Kaori tersenyum bahagia.

“Baiklah kalau begitu, katakan cheese!” Dia meraih lengan Hajime dan meremas di sampingnya. Hajime mengerti itu perlu untuk berfoto, tapi ... dia menginjak es tipis, dan dia baru saja membuang pemanas ruang di atasnya.

“Shirasaki-san, aku minta maaf, tapi bisakah kita melakukan foto nanti!?”

“Hah? Apa? Nagumo-kun! Kemana kau pergi!?”

Hajime berlari keluar dari ruangan seperti hidupnya tergantung pada itu, yang mungkin cukup baik, karena gerombolan monster mengejarnya begitu dia meninggalkan ruang kelas.

“Aku tidak tahan lagi, si brengsek itu pikir dia siapa!?”

“Grrrrr”

“Nagumoooo! Ucapkan doamu!”

“Awooooooo”

Para cowok yang mengejarnya berteriak teriakan perang. Beberapa dari mereka bahkan tidak terdengar seperti manusia lagi.

“Menakutkan. Kenapa mata kalian terlihat sangat merah? Dan kenapa kalian berlari dengan posisi merangkak!?” Teriakan Hajime terus bergema di seluruh sekolah untuk waktu yang lama setelah itu.

“Jadi ya, itulah yang terjadi. Aku bersumpah, beberapa dari mereka mesti dirasuki atau semacamnya.” Hajime selesai menceritakan kisahnya kepada Shea dan Yue di antara semangkuk penuh labu tumbuk. Mereka makan malam di ruang rekreasi penginapan. Alasan mengapa cerita itu datang kembali kepadanya adalah karena labu yang telah dia layani telah diukir dalam gambar jack o lantern. Sepertinya tidak ada liburan yang sesuai di sini di Tortus. Penginapan khusus ini sepertinya memiliki cara yang aneh untuk menyiapkan makanan. Sebagian besar berasal dari hobi si pemilik penginapan.

“Oh, tanah airmu memiliki beberapa kebiasaan menarik, Hajime-san. Aku tidak bisa membayangkan ada orang di sini yang mau mengenakan kostum monster. Mereka mungkin akan dicap sesat oleh Gereja Kudus.”

“Ya ... sepertinya duniamu memiliki lebih banyak kebebasan daripada dunia kita. Tapi yang penting di sini adalah ... Hajime, kau menginginkan gadis lain.”

“Hah!? Oh ya, itu benar! Aku tidak percaya kau dirayu dengan mudah oleh telinga kucing, Hajime-san, itu menyedihkan! Selain itu, telinga kelinci adalah telinga binatang terhebat di dunia ini!”

Sepertinya dia membawa masalah yang tidak perlu pada dirinya sendiri dengan mengenang masa lalu. Sambil melamun di bawah tatapan tajam kedua gadis itu, Hajime dengan cepat mengubah topik pembicaraan.

“Dengan begitu, tradisi untuk anak-anak berdandan layaknya monster dan pergi berkeliling ke rumah orang-orang yang berteriak ‘Trick or Treat’. Idenya adalah orang dewasa harus memberi mereka permen atau mereka akan dikerjai, jadi anak-anak akan berakhir dengan gunung permen di akhir malam.”

“Jadi begitu.” Yue bergumam. Dia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Shea. Penasaran, Hajime mencoba menanyakan apa yang sedang mereka bahas, tapi mereka memotongnya dengan pertanyaan tentang jenis monster yang menghuni Bumi, dan begitu mereka selesai memojokkannya dengan pertanyaan, mereka berdua pergi entah kemana. Yang mereka katakan adalah mereka akan kembali lagi nanti dan Hajime harus pergi lebih dulu. Dengan enggan, dia menerima saran mereka dan kembali ke kamarnya. Dia mulai mempertahankan senjatanya sambil terus mencari kembalinya Yue dan Shea.

Beberapa saat kemudian, dia melihat mereka datang melalui lorong pintu yang terbuka.

“Baik. Trick or Treat, Hajime.”

“Awawa, pakaian ini sangat memalukan. T-Trick or Treat.”

“...Serius?”

Serius memang. Shea dan Yue keduanya terlihat agak memukau, dengan lebih dari satu hal. Yue mengenakan rok mini putih pendek dengan yukata yang serasi, memamerkan kaki yang lentur. Gaya itu beraksen oleh selempang dan sandal merah, yang menyoroti kulit putihnya. Meskipun rok pendeknya, lengan yukata-nya cukup panjang, dan hanya jemarinya yang mengintip saat dia berjalan ke depan dengan tangan terulur seperti zombie. Dilihat oleh kristal embun beku yang dia buat di sekitarnya, Yue mungkin bermaksud untuk menjadi wanita salju.

Di sebelahnya, Shea dibungkus dalam perban dan merintih dalam peniruan mumi yang agak meyakinkan. Pembungkus di sekitar ekornya agak longgar, dan karena dia tidak mengenakan apa-apa lagi, jadi pantatnya terbuka untuk dilihat dunia. Siapa pun yang membungkus area di sekitar dadanya jelas memiliki semacam dendam karena dadanya terikat erat sehingga terlihat menyakitkan.

Meskipun dia langsing, Shea memiliki kurva di semua tempat yang tepat, dan pakaian yang dibuat hanya dari perban disajikan untuk menekankan lekuk-lekuk itu. Hajime menenangkan detak jantungnya dan tersenyum canggung.

“Aku melihat ada dua monster menakutkan yang datang untuk mengambil permen dariku. Sayangnya, aku tidak punya untuk diberikan. Seandainya aku tahu, aku akan mendapatkannya, tapi ...”

Tepat di saat Hajime mengatakan “sayangnya,” Yue dan Shea dengan senang hati saling bertukar pandang dan sedikit tersipu. Lantas, mereka berdua menyeringai nakal. Entah mengapa, Hajime merasa menggigil di tulang belakangnya, dan terhenti. Yue menjilat bibirnya dengan sigap dan menanggapinya.

“Yah, entah kau memberikan atau tidak, kami selalu berencana untuk menjahilimu. Secara seksual, gitu.”

Senyum Hajime menegang. Dia mulai mencari rute pelarian, tapi Shea memukulnya dengan pukulan. Dengan penguatan tubuhnya sampai penuh, dia dengan cepat bergulat dengan Hajime. Untuk membebaskan dirinya, Hajime mulai mengumpulkan mana untuk menggunakan Lightning Field, tapi dia terlambat.

“Permen aman.”

“Bodoh! Itu bukan permen, itu — Aaah, hentikan, hentikan —”

Shea bangun keesokan paginya setelah dia dihajar oleh petir Hajime sampai menemukan dia menatap ke kejauhan dengan mata mati. Yue ada di sampingnya, terlihat agak puas. Kata-kata Hajime berikutnya terdengar agak jelas dalam kegelapan menjelang fajar.

“Halloween itu menakutkan ...”
MARI KOMENTAR

Share:

Arifureta v2 Cerpen Bonus 4

on  
In  

Bukan ... Kelinci Tak Begitu Berguna!?

“Baiklah, Hajime-san, Yue-san, makanan sudah siap.” Aroma selera makanan yang dimasak mencapai lubang hidung mereka saat Shea mengambil sepanci makanan dari api unggun dan memanggil Hajime dan Yue. Mereka membuat kemah sebentar, dan Shea baru saja selesai memasak.

“Jadi sepertinya kita memakan pot-au-feu hari ini.”

“Yeah. Kelihatan enak.”

Hajime dan Yue merangkak keluar dari tenda mereka. Rebusan penuh dengan sayuran yang tampak lezat, dan ada roti tawar yang baru dipanggang untuk dimakan bersama. Meskipun itu hidangan sederhana, rasa dan teksturnya luar biasa. Benar, itu tidak memoles makanan yang mungkin dimiliki oleh restoran bintang lima, tapi makanan itu memiliki kehangatan masakan rumahan. Masakan rumahan yang layak.

Makanan kemarin adalah steik hamburg, dan kemarin dulu sayuran goreng, serta sehari sebelum itu, bakso. Semua dimasak hingga mendekati kesempurnaan. Ketika Yue dan Hajime menyantap makanan mereka dengan sungguh-sungguh, Shea bersenandung lembut saat dia membersihkan piring. Lalu, dia menggunakan air sisa untuk mencuci pakaian. Dia mencuci pakaian mereka dengan sikat yang terbuat dari kulit kayu lunak yang ditemukan di lautan pepohonan. Dia bahkan membuat deterjen dari tanaman bubuk. Begitu selesai, dia meremas pakaian dan menggantungnya di dekat api untuk mengeringkannya. Pakaian yang terlalu robek untuk dipakai lagi dijahit menjadi kain debu, yang nantinya digunakannya untuk membersihkan bagian dalam tenda. Setelah itu, dia memperbaiki pakaian yang hanya sedikit robek atau berjumbai.

“Shea benar-benar pandai melakukan pekerjaan rumah tangga.” Hajime bergumam pelan sambil memeriksa senjatanya. Yue melompat dengan kaget. Dia ingin mengatakan bahwa dia bisa melakukannya juga, tapi dia menahan lidahnya. Sebenarnya, dia telah mencoba membantu dengan tugas-tugas sebelumnya, menggunakan sihir airnya untuk membersihkan pakaian atau sihir anginnya untuk menyapu tenda, tapi semua yang didapatkannya adalah omelan dari Shea, dari semua orang. Tentu saja, masakannya juga di bawah standar. Yue bisa menjahit, tapi tidak sebaik Shea. Menggigil berlari menuruni punggungnya.

“Tunggu ... bukankah itu berarti Shea lebih baik dariku dalam pekerjaan rumah tangga?”

“Hah? Yue-san, ada apa?” Tidak menyadari penderitaan Yue, Shea hanya memiringkan kepalanya dengan kebingungan. Tangannya terus menjahit sepanjang waktu, memperbaiki bekas-bekas pertempuran yang telah dialami oleh pakaian kelompok. Mana mungkin Yue bisa bersaing dengan itu. Selama beberapa jam setelahnya, Yue dapat ditemukan di salah satu sudut tenda mereka, memeluk lututnya dan menangis pelan sendiri ...
MARI KOMENTAR

Share:

Arifureta v2 Cerpen Bonus 3

on  
In  

Akademi Sihir Arifureta

Matahari terbenam yang menyala menyinari sinar oranyanya ke lorong. Cahaya matahari yang menipis membuat bayangan panjang di mana-mana disentuhnya. Dalam senja suram yang membawa perasaan sedih, keamanan, dan hanya sedikit misteri, bagian dalam sekolah itu sunyi, tanpa banyak orang. Hanya suara samar anggota klub olahraga yang berlatih di luar yang masih bisa didengar.

Semua pintu kelas yang melapisi lorong ditutup. Sekolah yang damai ini sebenarnya adalah akademi sihir, yang terletak di negara tertentu di dunia paralel tertentu. Tidak seperti kebanyakan, itu tidak terbatas pada hanya bangsawan, dan membuka pintunya untuk rakyat jelata dan hewan buas juga. Selama bisa lulus ujian masuk, mereka akan diterima. Dengan demikian, sekolah ini telah menjadi akademi sihir terbesar di dunia.

Di dalam apa yang seharusnya menjadi ruang kelas kosong di sekolah besar ini adalah dua sosok. Salah seorang adalah seorang cowok dengan rambut putih serta penutup mata. Dia mencengkeram penanya erat-erat sambil melihat ke meja, butir-butir keringat mengalir di dahinya. Dia tampak sangat gugup, seperti dia menghadap hewan buas dan mencoba menemukan celah untuk lari.

“H-Hei, Sensei. Aku sudah menyelesaikan tugas yang kau berikan padaku, jadi aku boleh pulang sekarang?” Murid berambut putih, Nagumo Hajime, menjelaskan sumber stresnya bahwa dia telah menyelesaikan pelajaran tambahannya.

“Hmm, nggak. Kau belum selesai.” Meskipun dia berbicara pelan, suara sang guru memiliki kekuatan yang mengejutkan. Dan meskipun dia adalah instrukturnya, dia terlihat cukup muda untuk menjadi seorang murid. Segala sesuatu tentang dirinya, dari penampilannya hingga tindakannya, memiliki lapisan halus yang menggoda.

Kenyataannya, dia adalah vampir berusia tiga ratus tahun yang lebih tua dari kebanyakan orang dewasa. Blusnya memiliki potongan yang sangat rendah, dan matanya tampak mengundangmu di balik kacamata tipis yang dia kenakan. Lebih parah lagi, cara dia menylangkan dan membuka kakinya yang ber-stoking terlalu memikat. Efeknya semakin berlipat ganda oleh sosoknya yang sempurna, rambut pirang keemasan, dan mata merah delima.

“Bentar, kenapa belum? Aku sudah menyelesaikan tugasku, meskipun itu tidak masuk akal, jadi cepatlah biarkan aku pulang.” Hajime mendorong kertas tugasnya yang sudah selesai di depan Yue. Setiap pertanyaan sudah diisi. Akan tetapi, pertanyaan itu sendiri yang agak dipertanyakan. Sebagai contoh:

1.) Tipemu cewek macam apa?

2.) Apa pendapatmu soal wanita yang lebih tua?

3.) Apa kau percaya cinta terlarang dapat berhasil?

Pertanyaan-pertanyaan terus berlanjut. Tak satu pun tampak terkait dengan kurikulum sihir. Sudah jelas guru ini hanya tertarik untuk merayu siswa malang yang duduk di hadapannya.

“Tidak. Aku perlu memeriksa jawabanmu lebih dulu.”

“Bukankah aku satu-satunya yang bisa mengetahui apakah jawaban itu benar atau tidak? Maksudku, bukannya aku berbohong soal jawabanku.”

“Aku hanya akan memastikan ... dengan memeriksa tubuhmu.”

“Whoa, whoa, whoa, tunggu sebentar. Kendalikan dirimu, guru yang kelaparan seks.”

Yue mengangkangi Hajime dan mulai menjilatinya. Nafsunya benar-benar tak terpuaskan. Dia mengangkat roknya sedikit, jadi Hajime bisa melihat sekilas apa yang ada di baliknya. Itu, dikombinasikan dengan sensasi lembut tubuhnya yang bertumpu pada lututnya, lengan rampingnya membelai lehernya, dan aroma manisnya ... semuanya mulai membanjiri rasionalitasnya.

Beberapa detik sebelum Hajime mengundurkan diri untuk memasuki hubungan terlarang dengan gurunya, mereka terputus.

“Pahlawan telah tiba! Berhenti di sana, Yue-sensei! Aku tidak akan membiarkanmu melanggar hukum anti monopoli Nagumo Hajime!” Dengan dentuman keras, Shea Haulia, siswi lain, membuka pintu kelas dengan kekuatan yang cukup untuk memecahkannya. Hajime hendak memprotes hukum yang belum pernah dia dengar, tapi Yue mendorong kepalanya ke dadanya dan menanggapi Shea sebagai gantinya.

“Hukum dibuat untuk dilanggar.” Lantas, protes Hajime tertahan di tenggorokannya. Malahan, dia hanya menikmati sensasi tertahan di antara payudara Yue.

“Nnngh, keras kepala seperti biasa, aku mengerti! Lantas kukira aku harus melakukan banyak hal dengan cara keras! Penguatan tubuh, tenaga penuh! Aku akan membawa Hajime kembali dengan kekerasan bila harus!”

“Hmph. Bocah-bocah nakal harus dihukum. Bersiaplah untuk dibuang ke alam konselor.”

“Enak saja! Aku akan membuatmu dipecat karena berani meletakkan tangan di salah seorang muridmu!”

Sesaat keheningan tegang terjadi di antara mereka. Murid beasiswa sekolah dan penguat tubuh terkuat di kampus akan berhadapan dengan guru sihir paling terkenal di seluruh akademi. Tekanan yang diberikan oleh mereka berdua sudah cukup untuk membuat ruang kelas yang damai terasa bak neraka.

Menyadari bahwa dia harus segera melakukan sesuatu atau akan ada pertumpahan darah, Hajime melepaskan dirinya dari payudara Yue. Namun, meski dengan usahanya, Yue hanya meremas pahanya di sekitarnya dan mendorong dadanya kembali ke wajah Hajime. Hajime merasa pikirannya kosong. Dia tidak berguna dalam keadaan ini. Yue mengulurkan satu tangan, sementara Shea berubah menjadi sikap bela diri. Sepertinya pergulatan antara keduanya tak terhindarkan. Namun, sebelum mereka mulai berkelahi—

Whoosh. Serangan menyilang yang tak terhitung jumlahnya yang terbuat dari cahaya menyerang mereka berdua. Yue dan Shea langsung mengalihkan fokus mereka, siap untuk mengalahkan serangan kejutan ini dengan sihir dan tinju, tapi saat mereka mengalihkan perhatian mereka, rantai cahaya melukai kaki Hajime serta Yue. Rantai itu memisahkan keduanya. Yue terlempar ke samping, sementara Hajime dengan hati-hati dibawa ke pintu kelas.

“Hajime-kun, apa kau baik-baik saja?” Terlepas dari pelukan menarik Yue, Hajime sekali lagi menemukan dirinya diselimuti sesuatu yang lembut saat dia dibebaskan dari rantai.

Aroma manis yang berbeda masuk ke lubang hidungnya, dan ketika dia menengadah, dia melihat seorang siswi yang familier tersenyum ramah padanya. Shirasaki Kaori. Hajime membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi sekali lagi dia terganggu.

“Aahn. H-Hajime-kun, itu geli.” Kaori tersipu dan mencoba menggeliat ke posisi yang lebih nyaman.

Kalau gitu lepaskan aku, pikir Hajime, tapi rantai cahaya melilit mereka berdua dan dia menyadari Kaori tidak berniat melepaskannya. Dia tidak datang ke sini untuk menyelamatkannya, hanya untuk mencurinya dari yang lain.

“Jadi begitu. Kau punya nyali juga, Kaori. Aku akan mengirimmu ke dunia konselor juga, jadi kau sebaiknya siap berteman dengan Shea.”

“Tidakkah kau pikir seorang guru yang akan menyerang muridnya sendiri membutuhkan lebih banyak konseling daripada kami?”

“Mari kita potong obrolan sia-sia ini. Aku akan mengalahkan kalian berdua, dan kemudian mengklaim hadiahku.”

Sejumlah besar mana mulai berputar di sekitar tiga gadis tercantik di sekolah sambil saling menatap. Pilar emas, safir, dan cahaya putih naik sangat tinggi sehingga melewati langit-langit sekolah dan naik ke langit.

lantas, dengan suara gemuruh, bagian dari gedung sekolah hancur. Suara peperangan terdengar di tanah. Beberapa murid masih di sekolah menghentikan apa yang mereka lakukan untuk sesaat, tapi ketika mereka melihat warna pilar cahaya itu mereka hanya berkata, “Lagi-lagi, ya?” dan melanjutkan aktivitas klub apa pun yang mereka lakukan.

Beberapa menit serta banyak ledakan, cowok itu berhasil menghentikan trio itu dari pertempuran. Ada percikan merah terang, dan gedung sekolah dipulihkan seperti sebelumnya. Mereka yang menghadiri akademi ini sudah terbiasa dengan hal ini terjadi. Di antara banyak akademi sihir yang ada di dunia ini, ini hanyalah hari biasa bagi salah satu dari mereka.
MARI KOMENTAR

Share:

07 Oktober, 2018

Arifureta v2 Cerpen Bonus 2

on  
In  

Legenda Jepang

Dulu, dulu sekali, ada seorang putri yang dikenal sebagai Putri Kaguya. Walau kepribadiannya mungkin dipertanyakan, dia adalah wanita cantik yang tak terbantahkan. Dia memukau, rambut biru pucat, dan mata safir yang memesona. Akan tetapi yang paling penting, dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Yakni, sepasang telinga kelinci berbulu halus yang tumbuh dari kepalanya.

Di ibukota kuno Kyoto, siapa pun yang ditemukan dengan pertumbuhan aneh begitu biasanya akan dianggap sebagai target eksekusi ... tapi karena ini adalah dunia paralel, pertimbangan semacam itu tidak menjadi perhatian.

Bagaimana pun, Putri Kaguya yang cantik, yang dicintai oleh semua orang, saat ini ...

“Haaah. Pernikahan terdengar menjengkelkan. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan makan camilan selamanya.” Bermalas-malasan, menjejali wajahnya penuh dengan roti daging, dan mengeluh soal pernikahan. Sulit untuk percaya, wanita cantik nomor satu ibukota selalu bertindak begini.

Hari ini adalah hari pangeran dari seluruh dunia telah datang untuk menikahinya. Tapi karena Putri Kaguya tidak tertarik untuk menikah, dia menugaskan masing-masing pangeran dengan tugas yang mustahil. Ketika pun mereka terkejut pada kesulitan dalam tugas yang ditetapkan di hadapan mereka, para pangeran kelahiran bangsawan ini terus berjuang demi kemurahan hati Putri Kaguya.

“Aku yang paling cocok menjadi suami Putri Kaguya!”

“Bukan, ini aku!”

“Tidak, aku!”

“A-Ayolah, teman-teman, berhenti memperebutkan aku. Selain itu, ini semua salahku karena terlalu cantik. Duh, menjadi populer memang sulit, Ehehe~”

Putri Kaguya agak menyombongkan dirinya sendiri. Lebih dari sekarang daripada sebelumnya. Sungguh memalukan wanita cantik seperti dia memiliki kepribadian yang tak berguna. Di tengah hiruk-pikuk ini, sebuah kerikil kecil berguling di seberang ruangan. Terus berguling sampai mencapai Putri Kaguya. Tiba-tiba, sebuah suara dingin terdengar di seberang ruangan. Itu milik satu-satunya pangeran yang tidak ikut dalam keributan tersebut. Seorang pria muda yang duduk di sudut ruangan sampai saat ini.

“Oi, kelinci payah. Aku akan memberimu harta berharga itu, jadi pilihlah aku.” Tidak hanya bertindak sombong, ia juga memiliki keberanian untuk memerintah Putri Kaguya. Selanjutnya, kerikil itu tampak tidak berharga. Ruangan itu terdiam sesaat sebelum penjaga menarik pedang mereka padanya karena kesombongannya.

“Hajime-dono, beraninya Anda berucap begitu dengan—” Ada dentuman keras, dan penjaga itu terdiam di tengah-tengah percekcokan. Atau lebih tepatnya, dia dibuat terdiam ketika dia kembali berputar-putar empat kali di udara, dengan kecepatan yang akan menjadikannya seperti seorang pesenam olimpik. Penjaga lainnya tampak tercengang melihat Hajime, serta melihat dia memegang senjata yang tidak dikenal dengan laras berasap.

“Diam sana. Aku membawa putri itu apa yang dia minta, jadi aku memenangkan kontes. Hanya itu saja.” Hajime menepuk bahunya dengan revolver-nya, lalu melotot mengancam pada seluruh penjaga. Dia lebih mirip yakuza ... atau bandit daripada pangeran.

“H-Huh? Aku tidak pernah meminta batu bodoh seperti itu! Maksudku, lihat, itu cuma batu tua bia—” Bang!

“Hei, kelinci payah. Jangan terlalu pelit. Itulah hartaku. Kalau kau mencoba maju sendiri, aku akan mengoyaknya.”

“Mengoyak apa?” Putri Kaguya gemetar ketakutan sambil melindungi telinga kelinci dengan paksa ke kepalanya.

“Ayolah, kerikil ini adalah harta yang kau cari, bukan?” ucap Hajime, melambaikan revolver-nya ke sekeliling dengan menakutkan. Putri Kaguya melihat sekeliling dengan putus asa, mencari bantuan, tapi ...

“Langitnya, lihat waktunya. aku sedang buru-buru. Permisi.”

“Astaga, kebetulan sekali. Aku juga memiliki masalah mendesak yang membutuhkan perhatianku segera.” Para pangeran mundur dengan tergesa-gesa. Mereka bersemangat tentang pekerjaan. Tentunya kenyataan ada senjata melambai di depan wajah mereka tidak ada hubungannya dengan keputusan mereka. Dengan air mata, Putri Kaguya melihat ke arah pasangan tua yang baik yang telah membesarkannya meminta keselamatan.

“Oh, kapan ini menjadi sangat terlambat? Istriku sayang, aku harus pergi untuk mengumpulkan kayu bakar sebelum hari gelap.”

“Astaga. Yah, aku juga harus pergi untuk mencuci pakaian sebelum terlambat.”

Orangtua Putri Kaguya memang rajin. Pada hari yang penting ini pun, mereka tidak lupa untuk melakukan tugas-tugas mereka. Biarpun anak perempuan mereka mengeluh, mereka menempatkan pekerjaan mereka terlebih dulu. Segera, ruangan itu bersih dari semua orang kecuali Putri Kaguya dan Hajime. Putri Kaguya terisak-isak karena betapa tidak populernya dia jadinya. Lantas dengan berlinang air mata, tapi dengan sedikit kegirangan, dia mengatakan hal berikut.

“A-Apakah kau amat sangat menginginkanku?” Tanggapan Hajime adalah ...

“Tidak juga!? Ketika aku memeriksa senjata ini, aku mengetahui ini berasal dari bulan. Yang kuminati adalah kampung halamanmu. Aku belum bisa masuk, tapi ini sempurna. Bila aku menjadi suamimu, maka aku bisa mendapatkan senjata mereka tanpa harus memaksakan kehendakku.”

Putri Kaguya jatuh ke dalam isakan tercekik ketika dia mendengar alasan absurd Hajime. Dia ditangkap oleh iblis. Tapi masih ada secercah harapan yang tersisa. Putri Kaguya sebenarnya berpikir untuk kembali ke rumah untuk sementara, dan dewasa ini menghubungi kampung halamannya. Bulan memiliki teknologi paling maju di dunia, jadi bila keluarganya datang, mereka pasti bisa menghadapi manusia kasar ini. Itulah mengapa bahkan ketika dia menghiburnya dengan kata-kata seperti “Maaf soal itu. Aku tidak akan mengancammu lagi, jadi tolong berhenti menangis,” hatinya tidak tergerak sama sekali. Putri Kaguya tidak semudah itu.

Beberapa hari kemudian. Seorang utusan dari bulan datang untuk membawa Putri Kaguya. Hajime mengharapkan mereka turun dari bulan menunggangi awan nimbus emas mengambang, tapi mereka turun dalam bentuk UFO berbentuk oval. Benar-benar pertemuan dekat jenis ketiga. Para warga menatap kagum, sementara mata Hajime berkilauan dengan cahaya lapar saat dia menatap teknologi bulan. Karena sesekali suka bertingkah, kelinci tidak berharga, Putri Kaguya, mulai berpikir “Orang ini mungkin tidak bisa menangani dirinya sendiri tanpa aku.” Perangkap klasik setiap pahlawan shoujo manga jatuh ke dalamnya.

Sebuah jalan yang membentang dari UFO, dan menurunkan jalanya dengan prosesi manusia kelinci tua ... Tampaknya mitos bahwa bulan dihuni oleh gadis-gadis muda yang cantik hanya itu, sebuah mitos. Tetapi pada akhir prosesi orang tua adalah seorang gadis muda. Dia memiliki rambut pirang keemasan yang indah dan mata merah yang menyihir. Pipinya hanya sedikit memerah dari mawar, serta bibir merah mudanya yang tipis memikat semua yang melihatnya. Dia tampak bagaikan boneka yang terpahat sempurna. Pakaiannya yang mengesankan membuatnya jelas bahwa dia adalah seseorang yang bereputasi tinggi. Dia, sebenarnya, seorang putri vampir yang baru saja menumpang dengan manusia kelinci karena dia ingin tahu seperti apa Bumi itu. Di tengah jalan, dia berhenti dan menatap tajam pada sesuatu tertentu.

Orang-orang mulai berbicara di antara mereka sendiri. Inkarnasi Venus sendiri telah turun ke Bumi, dan bukan cuma dia melihat salah satu orang yang berdiri di kerumunan.

“Tunggu, apakah dia melihatku?”

“Jangan bodoh, dia jelas memandangku.” Semua orang mulai berdebat. Satu pemuda mulai berjalan maju. Gaya berjalannya cepat dan percaya diri. Pemuda itu tidak lain adalah Hajime. Di belakangnya, Putri Kaguya memanggilnya.

“T-Tunggu, jangan pergi sendiri seperti itu. Aku masih perlu mempersiapkan mental ketika aku memperkenalkanmu kepada keluargaku.” Hajime mengabaikannya dan terus berjalan. Dia berhenti tepat di depan si cantik berambut pirang, bermata merah.

“Namaku Hajime, Hajime dari klan Nagumo. Bolehkah aku mendapat kehormatan mendengar nama Anda?” Di belakangnya, seseorang menggumamkan kata-kata kesal.

“Huh, dia tidak seperti itu ketika dia berbicara denganku ...” Akan tetapi, tak ada yang terlalu peduli. Sang putri vampir tersipu sedikit karena permintaannya yang sopan.

“Yue.” Itu satu-satunya kata yang dia ucapkan dengan gelisah.

“Yue? Dalam bahasa kita, itu berarti bulan. Nama yang sangat bagus. Sangat cocok untuk Anda.” Wajah Yue semakin merah. Para penonton menghembuskan napas desah secara bersamaan. Hanya Putri Kaguya yang keberatan.

“Maaf, ada apa dengan sikap itu? Jangan sampai kau lupa, kau adalah suamiKU.” Semua orang mengabaikannya. Hajime menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan jelas pemikirannya.

“Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Aku akan memberimu bahkan dunia bila kau memintanya, lantas tolong jadilah milikku.”

“Baik. Dengan senang hati.”

“Hah? Apa yang baru kudengar? Bukankah aku seharusnya menjadi heroine dalam cerita ini?”

Yue menerima pengakuannya yang agak tidak menyenangkan tanpa pertanyaan dan melompat ke pelukan Hajime. Lantas, bocah dari Bumi, Hajime, dan putri vampir, Yue, menikah. Mereka kemudian pergi untuk menaklukkan dunia, setelah itu mereka hidup bahagia selamanya. Entah kenapa, mereka juga ditemani oleh kelinci yang tidak berguna ke mana pun mereka pergi.
MARI KOMENTAR

Share:

Arifureta v2 Cerpen Bonus 1

on  
In  

Telinga Kucing Teror

Suatu sore, Hajime, Shea, dan Yue tengah berjalan-jalan di jalan utama kota, mencari persediaan untuk perjalanan mendatang mereka. Itu adalah momen istirahat yang langka di antara kunjungan labirin yang selalu menaklukkan mereka. Jalanan dipenuhi suara orang-orang yang tawar-menawar atas barang-barang, bau dari ratusan bumbu yang berbeda-beda berbaur bersama ketika pemilik warung mulai menyiapkan makanan, dan melihat seribu toko yang berbeda masing-masing dengan barang-barang unik mereka sendiri untuk dijual.

Ada yang bersemangat dalam atmosfer yang begitu hidup. Terutama Shea, yang tidak pernah melangkah ke luar desa kecilnya di lautan pepohonan sampai dewasa ini. Telinga kelincinya berkedut gembira saat dia melihat sekeliling, kegembiraan terlihat di wajahnya. Setiap beberapa detik dia kembali tersadar dan dengan cepat melihat sekeliling untuk memastikan dia tidak terpisah dari Hajime dan Yue. Usai memastikan mereka masih di sana, dia akan sekali lagi mulai melompat-lompat, memeriksa apa saja dan segala sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Shea terlihat seperti anak kecil.” Yue tertawa sembari melihat Shea berlari kesana kemari. Lalu dia berbalik untuk melihat Hajime, mencari pendapatnya. Biasanya, Hajime akan langsung bereaksi pada suara Yue, hampir seperti insting, tapi untuk sesaat dia hanya melamun, melihat lurus ke depan.

“... Hajime?”

“O-Oh, apa, Yue?” Hajime menjawab dengan sebuah gerak terkejut. Bingung pada tingkah lakunya yang tidak biasa, Yue mengerutkan alisnya. Menyadari bahwa dia pasti tidak mendengarnya, Yue hanya berkata “Bukan apa-apa,” lalu tetap terus mengawasinya setelah itu.

Dalam sekejap, dia menyadari tatapan Hajime terpaku pada seseorang tertentu. Ketika dia mengikuti pandangannya ke orang itu, dia merasakan gelombang cemburu membasuhnya. Tapi setelah diamati lebih teliti, ia melihat bahwa tatapannya tidak terpaku pada orang, melainkan bagian tertentu dari tubuh mereka.

“Aku mengerti,” dia merenung pada dirinya sendiri. Tampaknya Hajime memiliki titik lemah untuk “mereka.” Kecemburuannya lenyap, tapi dia masih meratapi kenyataan bahwa dia tidak memiliki “mereka.” Dan dia masih tak bisa memaafkan gadis lain karena mencuri perhatian Hajime, biarpun itu hanya satu bagian dari dirinya. Apalagi, kata-kata “menyerah” dan “mundur” tidak ada dalam kamusnya, sehingga menguatkan tekadnya, Yue menarik lengan baju Hajime.

“Hajime, ayo kita berpisah sebentar. Jaga Shea, oke?”

“Berpisah? Kalau ada sesuatu yang ingin kau cari atau suatu tempat yang ingin kau datangi, aku tidak keberatan mengambil jalan memutar. Kita bisa pergi bersama.”

“Tidak. Aku tak mau kau mengetahuinya.” Yue cemberut dan berbalik darinya. Hajime terkejut; ini adalah pertama kali dia mengambil sikap seperti itu dengannya. Tetapi, Yue hanya memberinya satu pandangan terakhir.

“Jangan ikuti aku. Aku bakal marah padamu kalau kau melakukannya.”

“O-Oke, tidak akan ...” Hajime mencoba menyembunyikan betapa terguncangnya dia, tapi gagal total. Lalu, tanpa melihat ke belakang, Yue berlari ke kerumunan.

“Ada apa dengannya?” Hajime hanya berdiri di sana, tercengang, tidak menyadari bahwa dia adalah penyebab sikap anehnya.

Malam itu, Hajime dan Shea telah kembali ke penginapan dan mulai mendiskusikan perilaku aneh Yue sebelumnya.

“Yue-san sangat terlambat.”

“Ya. Y-Yah, a-aku yakin dia cuma mau waktu sendirian.”

“Hajime-san, kau kelihatan sangat bingung ...”

“Apa katamu? Aku baik-baik saja. Lagipula, apa yang mungkin membuatku bingung? Lihat, tidak ada, eh, salah. Ya, tidak ada yang salah sama sekali.”

“Kau menjawab pertanyaanmu sendiri ... kedengarannya seperti masalah bagiku.” Shea mulai merasa terganggu oleh sikap Hajime. Dia belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya, dan sementara itu tampak jelas baginya bahwa Yue tidak akan pernah meninggalkannya, sepertinya Hajime tidak cukup mempercayai Yue bahkan untuk memastikannya. Dia kesal karena dia tidak bisa mempercayai Yue seperti yang dia yakini pada dirinya, dan ketidaksenangannya menyebar pada suaranya.

“Aku tidak percaya kau, Hajime-san. Yue takkan pernah meninggalkanmu, jadi mengapa kau bertindak sangat cemas? Tidak bisakah kau tenang saja?”

“Hah? Kau pasti salah paham. Aku tahu bahwa dia tidak akan meninggalkanku. Aku akan lebih bersedia mempercayaimu jika kau mengatakan padaku langit akan jatuh besok daripada jika kau mengatakan Yue akan meninggalkanku.”

Menyadari bahwa dia salah menilai apa yang membuat Hajime sangat bingung, dia melanjutkan dengan, “Terus?” Hajime memperhatikan telinga kelincinya saat mereka miring ke samping dalam kebingungan. Alhasil, dia berbicara dengan suara gemetar.

“Dengar, Yue biasanya tidak akan pernah meninggalkanku. Kalau sampai dia ingin berpisah, aku pasti telah melakukan sesuatu yang sangat buruk, sesuatu yang sangat tidak ia sukai.”

“O-Oke, dan?”

“Dan itu artinya dia akan menyerangku malam ini.” Jawaban Hajime hanya membuatnya semakin membingungkan Shea. Lalu dia mulai dengan gugup melirik ke sekeliling ruangan.

“Yue pasti akan datang ke tempat tidurku malam ini. Setiap kali dia tidak bahagia denganku, itulah yang selalu dia lakukan. Dia monster di malam hari, jadi aku bahkan tidak yakin aku akan fit untuk bepergian besok.”

“Jadi begitu.” Tatapan mencela Shea lebih intens dari sebelumnya. Itu wajar saja, Hajime baru saja memberitahunya bahwa dia akan berhubungan seks dengan Yue malam ini. Dari perspektif Shea, itu hanya kelihatan dia memuji permainan seksnya. Ketika bersaing untuk mendapatkan kasih sayang, lebih-lebih karena sejauh ini dia tidak berhasil, masuk akal bagi Shea untuk tidak bahagia dengannya. Bahkan telinga kelincinya bergerak-gerak dalam tuduhan.

Hajime gelisah dengan gugup dan menggerutu, “Itu hanya karena kau belum melihat apa yang dia suka di tempat tidur sampai kau bisa mengatakan itu.”

“Di sini, izinkan aku memberimu sebuah contoh. Suatu kali, aku bertanya pada Yue apakah dia benar-benar perawan.”

“Whoa, serius? Itu seperti hal nomor satu yang seharusnya tidak pernah kau lakukan.”

“Yeah, aku sudah tahu itu. Aku tak tahu apa yang merasukiku. Mungkin aku terlalu dekat dengan merusak semua serangan malam yang konstan. Yah, itu karena dia sangat baik sampai aku mulai meragukan apakah dia masih perawan atau tidak.”

“Yeah, aku yakin dia marah.”

“‘Marah’ adalah pernyataan yang meremehkan. Sejujurnya aku mengira dia akan membunuhku. Secara mental, bagaimanapun juga. Aku siap untuk berakhir sebagai budak seks Yue untuk hidup ... Itu hari-hari yang gelap. Sial, malahan aku berlutut dan memohon ampun. Bisakah kau percaya itu? Aku, memohon pengampunan?”

“K-Kau berlutut? Tidak mungkin ...” Shea bergidik ngeri. Biarpun Hajime menyebutnya sebagai serangan malam, dia berasumsi bahwa kenyataannya hanya karena mereka melakukan hubungan seks yang sedikit kasar. Dia akan menegur Hajime karena melebih-lebihkan, tapi ketika dia mendengar apa yang telah dia lakukan, dia mulai bertanya-tanya apa jenis kejenakaan gila yang mencampai Yue.

Keheningan yang canggung menyebar ke seluruh ruangan sementara Hajime melihat sekeliling dengan gugup, cemas kekasihnya mungkin menyerangnya setiap saat. Shea hanya menonton, tak tahu harus berkata apa. Dengan klik pelan, pintu ke kamar mereka terbuka. Shea dan Hajime keduanya mendongak sekaligus. Yue berdiri di ambang pintu, sepasang telinga kelinci di kepalanya.

“Aku pulang.” Ekspresinya tak beraturan seperti biasanya. Dia tampaknya tidak keberatan dengan fakta bahwa ada telinga kelinci yang tumbuh dari kepalanya. Mengabaikan kekagetan Hajime dan Shea, dia duduk di tempat tidur. Keduanya pun kembali tersadar, dan sebelum Hajime bisa mengatakan apa-apa, Shea berteriak.

“Aph-apha-apaan itu ituuuu!?”

“... Pertanyaan yang aneh. Tentu saja telinga kelinci.”

“Aku mengerti itu! Tapi kenapa kau memilikinya, Yue-san? Apa kau mencoba mencuri poin kuatku atau sesuatu!?” Shea menunjuk menuduh Yue, berteriak seolah-olah Yue baru saja menyalin sifatnya yang paling penting. Yue hanya berbalik dan menjawab dengan suara merajuk.

“Ini semua kesalahan Hajime dan telinga kelinci.”

“Ke-Kenapa sampai kau harus menyalin telingaku? Dan jika mereka salah, mengapa kau memakainya?” Shea menggelengkan kepalanya. Telinga kelinci beterbangan saat dia melakukannya. Hajime memandang dan Yue bergumam, “Aku kira pada akhirnya yang palsu hanya ...”

Kata-kata itu pun memberi petunjuk kepada Hajime soal apa yang tengah terjadi. Yue telah menemukan keinginan rahasia Hajime untuk menggosok telinga kelinci berbulu Shea. Maka, untuk bersaing, Yue menemukan sepasang telinga kelinci untuk dirinya. Kemungkinan besar di suatu toko itu.

“Y-Yah, kurasa aku bisa mengerti hasratmu yang membara untuk memiliki sepasang telinga kelincimu sendiri setelah melihat betapa hebatnya telinga kelinciku. Fufufu, tapi biarkan aku memberitahumu sesuatu. Di hadapan telinga kelinci asli, telinga kelinci palsumu hanyalah tiruan pucat!” Shea menatap mungkin sedikit terlalu kejam pada Yue dan melanjutkan.

“Yue-san, itu adalah kesalahan strategis untuk mencoba melawanku di kandangku! Ini kekalahanmu!” Shea tengah sedikit menyombongkan dirinya, tapi itu juga jelas terlihat bahwa telinga Yue palsu dan tidak selembut atau berbulu seperti aslinya.

Namun, Yue telah melakukan ini demi Hajime. Dia sudah menganggapnya imut di luar dugaan, tapi mengetahui bahwa dia bersedia sampai begitu hanya untuk menyenangkan Hajime, menjelaskan sepasangan telinga mana yang dianggapnya lebih penting. Tidak ada perbandingan antara gadis kelinci, yang sibuk menyombongkan dirinya sendiri, dan vampir yang telah melakukan semua yang dia bisa untuk memberinya keinginannya. Tentu saja, Yue tidak goyah dalam menghadapi provokasi Shea. Bahkan, dia melebihi semua harapan.

“Aku tidak pernah berpikir telinga kelinciku akan mampu mengalahkanmu. Ini baru permulaan. Pertarungan sebenarnya dimulai di sini!” Yue mencabut telinga kelinci dan menggantinya dengan yang lain. Sesuatu itu tampak seperti sepasang segitiga hitam berbulu yang terletak di atas kepalanya. Yang lebih menakjubkan, ketika dia menuangkan mana ke dalamnya, telinga itu bergerak seperti sepasang telinga asli.

“Ap-Apa-apaan ... itu?” Suatu sentakan listrik menembus tulang belakang Hajime. Rasa takjub yang tak tergambarkan melandanya. Tapi Yue belum selesai. Saat tangan Hajime yang gemetar menyentuh telinga kucing Yue, dia mengeluarkan teriakan kaget. Di depan mata mereka, Yue menarik benda panjang dan halus lainnya, dan entah bagaimana menempelkannya ke area tepat di atas pantatnya. Setelah menuangkan mana ke dalamnya, itu juga bergerak, seperti ekor asli. Hajime menelan ludah. Yue merangkak dan merangkak ke tempat Hajime berada. Dia tampak sangat imut. Ketika akhirnya dia mencapai Hajime, dia mengatakan satu kata.

“Meong.” Apa yang telah digantikan Yue dengan telinga kelincinya adalah puncak dari semua telinga binatang, telinga kucing. Dia bahkan membeli ekor kucing untuk dicocokkan. Dia melengkungkan punggungnya dan bermain-main dengan lucu pada Hajime. Dalam sekejap ini, Myue lahir.

“Yue, seberapa jauh kau akan menguji kontrol diriku?” Hajime membuai kepalanya dengan tangannya, berusaha mati-matian menahan dirinya. Naluri primitifnya sudah di ambang menaklukkan alasannya. Tetapi bahkan ketika dia berada di kaki terakhirnya, Yue tidak menunjukkan belas kasihan padanya.

“Meong.” Dia berguling ke punggungnya, bagai anjing yang menunjukkan kepatuhan kepada tuannya. Tatapan memelasnya bertemu dengan Hajime. Itu cukup untuk mendorong Hajime melewati batas. Cahaya di matanya digantikan oleh sinar liar. Tapi sebelum sesi sanggama terbesar dalam sejarah dimulai, Shea dengan berani menyela mereka.

“Sungguh licik! Yue-san, kau benar-benar wanita yang licik! Sudah jelas bahwa kau berpikir ke depan! Tetap saja ...! Jangan lupa bahwa telinga dan ekor itu palsu! Dan telinga dan ekorku asli tidak akan pernah kalah dengan yang palsu! Dengar, Hajime-san, ini sepasang telinga kelinci yang asli. Jangan ragu untuk menyentuh semua yang kau suka!” Taruhan jiwanya, Shea menantang Yue. Telinga dan ekornya berkedut penuh semangat saat dia bersandar pada Hajime. Tapi sepertinya Yue telah meramalkan perkembangan ini. Ketika datang untuk memperebutkan Hajime, Yue memastikan untuk mempersiapkan setiap kemungkinan.

“Dasar bodoh. Shea, apa yang membuatmu berpikir ... bahwa telingaku sama sekali palsu?”

“Apa katamu?”

“Aku tahu kau akan membahasnya, Shea. Itu sebabnya aku punya telinga kucing asli. Ini bukan replika. Itu sebabnya aku bisa menggerakkannya menggunakan mana. Mana juga membantu mencegah mereka membusuk.” Yue duduk, lalu menatap Shea dengan penuh kemenangan. Tulang belakang Hajime dan Shea bergidik, tapi untuk alasan yang berbeda kali ini. Mengingat kenyataan yang sangat keras, Hajime tiba-tiba mulai berkeringat. Shea mundur perlahan, seluruh tubuhnya gemetar. Yue memiringkan kepalanya dengan kebingungan, saat Hajime mengambil waktu untuk mengumpulkan akalnya sebelum mengajukan pertanyaan.

“Y-Yue, dari mana kau menemukan itu?”

“Hm? Dari toko barang umum di jalan utama.” Hajime dan Shea menarik napas lega. Sepertinya ini biasa dijual di area itu—

“... Tapi mereka tidak menjual yang asli.” Hajime dan Shea menegang lagi. Jadi itu berarti Yue hanya mendapatkan telinga kelinci tiruannya dari sana. Lalu dari mana telinga kucing dan ekor kucingnya yang asli? Mereka berdua melihat kembali Yue, yang membusungkan dadanya dengan bangga dan menjawab dengan santai.

“Aku merobeknya dari diriku sendiri.” Telinga kucing dan ekor kucing yang berkedut. Apakah mereka benar-benar bergerak karena mana yang Yue tuangkan, atau karena mereka masih begitu segar ...

Tiba-tiba, telinga kucing itu tidak terlihat lucu bagi Hajime. Shea meringkuk di sudut, telinganya menempel di kepalanya.

“Dia seorang psikopat, Yue-san seorang psikopat,” gumamnya. Air mata mengalir dari matanya dan seluruh tubuhnya menggigil.

Yue tiba-tiba mengalihkan tatapannya pada Shea. Shea melompat dengan terkejut ketika Yue menatap telinganya dengan mata dingin, tanpa emosi.

“Bisakah aku ... merobeknya juga?”

“Gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak, Yue-san, kau sudah gila!!! Kau monsterrrrrrrrrrrrrrr!!!” Shea melompat keluar dari kamar dengan kecepatan seekor kelinci yang melarikan diri. Meringis, Hajime memanggil Yue.

“Umm, Yue?”

“Ya? Maaf, itu cuma lelucon. Aku merasa kasihan pada Shea, tapi aku ingin menghabiskan waktu bersamamu saja ... Apalagi, ini adalah telinga palsu yang dibuat dengan bulu monster asli, itu saja, jadi kau bisa membelainya sebanyak yang kau mau, baik?”

“J-Jadi begitu. Umm, yah, kau benar-benar imut, Yue. Tapi uhh, itu bukan karena telinga kucing, itu hanya karena kau adalah kau, kau tahu itu, kan?”

“Ya. Makasih.” Yue tersenyum hangat. Hajime dengan hati-hati menyingkirkan telinga dan ekor kucing dari Yue dan memeluknya erat-erat. Yue mempercayakan dirinya pada Hajime dan membiarkan kekuatan mengalir keluar dari anggota tubuhnya. Mengagumi betapa cantiknya dirinya, Hajime mulai mengelus rambutnya.

... Dia memutuskan untuk tidak bertanya mengapa telinga dan ekor yang diambilnya dari Yue menjadi hangat.
MARI KOMENTAR

Share: