Unlimited Project Works

Tampilkan postingan dengan label Psychopath Shimabara Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychopath Shimabara Series. Tampilkan semua postingan

19 Januari, 2019

Psychopath Shimabara Series 2

on  
In  

Sebatang Rokok dan Kehidupan Pengantin Baru

“Haaa, hah~, hei. Kau menjatuhkan ini. Rokok.”

Ketika aku berada di stasiun, aku perhatikan bahwa aku telah menjatuhkan sebungkus rokok. Aku membelinya di toserba pagi ini dan bahkan belum membukanya. Itu mungkin sepele, tapi aku masih kecewa. Namun, suasana hati depresiku berumur pendek.

Seorang pria berlari mendekat dan melempar bungkus rokok yang tidak sengaja kujatuhkan. Aku menangkapnya, dan pria itu tersenyum ketika melewati gerbang tiket. Lalu, aku memasuki ke kereta ekspres yang akan ditutup.

[Kereta berangkat. Tolong berdiri jauh-jauh.]

Aku mendengar pengumuman kondektur, dan di luar jendela ada seseorang dengan senyum pahit di wajahnya.

Apa, pria itu.

Dia sedang terburu-buru, tapi masih mengambilnya. Satu kotak tembakau hanya 420 yen. Kenapa dia repot-repot dengan sesuatu yang begitu murah?

Aku berbicara meskipun aku sendiri, dan kemudian aku menyadari aku tidak mengucapkan terima kasih. Kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.

“...Bodoh.”

Kotak kecil di saku jasku terasa sedikit lebih berat.

Lalu, setengah tahun kemudian. Aku tidak akan pernah bermimpi bertemu si bodoh itu lagi di pekerjaan baruku.

※※※※※※

Minggu lalu, aku dilamar oleh Shimabara di area merokok. Sekarang aku dengan barang-barangku di depan rumah baruku. Ini adalah tempat di mana...Shimabara dan aku akan tinggal bersama. Shimabara memanggil layanan pindahan untukku, tapi tidak banyak yang bisa dibawa. Paling-paling, aku hanya punya beberapa pakaian, komputer, dan beberapa buku. Shimabara pergi membeli peralatan kami. Mereka selesai bekerja dalam waktu yang sangat singkat, dan dengan cepat kembali ke truk mereka.

Ketika dia melamarku, Shimabara sudah menyelesaikan semua persiapan yang diperlukan untuk menikah. Dia tidak hanya memasok furnitur dan peralatan. Rumah ini juga. Itu adalah bangunan dua lantai baru yang terletak di area perumahan yang membuat perjalanan kerja menjadi nyaman. Dia mengatakan dia membeli rumah beberapa bulan yang lalu, itu tidak disiapkan untukku secara pribadi. Sejujurnya, aku bertanya-tanya apakah aku bisa menolak. Aku teringat wajah kemenangan Shimabara di area merokok, ketika aku menerima lamarannya sambil memegangi foto yang diambilnya.

Hanya beberapa hari sejak itu, tapi kehidupan pengantin baru kami dimulai dari hari ini. Semua berjalan sesuai rencana Shimabara.

“Hei Asama. Apa kau tidak datang?”

Bukan hanya karena kemauan. Tapi lingkungan telah berubah terlalu cepat, membuatku tertegun. Shimabara dalam good mood dan menggenggam lenganku untuk menarikku ke dalam rumah. Dia mengambil rokok yang kupegang di mulutku, dia tersenyum.

“Jangan mengambil barang orang lain.”

“Diam. Kau harus berhenti merokok.”

“Kenapa aku harus, ya ampun...”

“Karena. Hei, ini rumah yang bagus.”

“Yah...bukankah itu terlalu besar untuk hanya dua pria?”

“Kalau seorang bocah lahir, semakin besar semakin baik.”

Mengisap asap lezat, Shimabara menyemburkan benda bodoh ini. Darah mengalir deras ke kepalaku dan itu bukan hanya karena ciuman tidak langsung yang kumiliki dengan Shimabara, sama sekali tidak.

“Siapa yang melahirkan!”

Shimabara tertawa terbahak-bahak, tubuhku berkembang selama dua tahun dengan bantuan obat tidur. Tubuhku sudah bisa menerima Shimabara, sepertinya aku adalah peran wanita. Tapi, sekarang bukan saatnya. Sungguh, ketika aku biasa melakukan perjalanan bisnis dengan Shimabara, ketika aku bangun di pagi hari tubuhku terasa lemas, pinggulku sakit, dan aku merasa lapar. Kupikir itu karena aku kebanyakan minum, berusaha menghindari berada di ruangan yang sama dengan Shimabara. Aku tidak menyangka itu karena Shimabara...bahwa apa yang kurasakan adalah hasrat seksual.

Aku ditarik oleh Shimabara ke ruang tamu. Interiornya memberikan suasana yang tenang dan Shimabara berdiri di sana membuatnya tampak seperti potret. Furniturnya diimpor, sofa itu dari salah satu merek Italia yang aku tahu. Barang itu mahal.

“...Shimabara, berapa banyak yang harus aku bayar?”

“Ha? Buat apa.”

“Kau tahu, rumah.”

“Jangan bodoh. Kau tidak perlu cemas soal uang.”

Ngomong-ngomong, ada desas-desus bahwa Shimabara ini kaya, setelah mewarisi sejumlah besar uang dari kakeknya. Selain itu, gaji Shimabara juga bagus. Sebelum menjadi produsen untuk perusahaan medis besar, ia pernah bekerja di perusahaan farmasi. Dia adalah kepala seksi di sana, tapi tentu saja direktur eksekutif dengan sungguh-sungguh membujuknya. Gajinya pasti lebih baik. Dia adalah manajer departemen penjualan, tapi aku mendengar desas-desus bahwa dia akan dipromosikan menjadi kepala seksi. Shimabara sudah bilang bahwa inilah mengapa dia menggunakan kesempatan untuk melamar.

Sementara itu, aku seorang karyawan kelas menengah, perbedaan yang cukup besar dibandingkan dengan kepala departemen kontrol kualitas. Tapi sebagai seorang pria, aku tidak bisa memberi makan kebanggaan Shimabara.

“Aku akan membayar sewa.”

“Hei kau, di mana kau menemukan seorang suami yang akan membiarkan istri mereka membayar sewa.”

“Aku, aku bukan istrimu! Aku seorang pria...Selain itu, meskipun membutuhkan seribu langkah, jika istri dan suami bekerja sama-sama, mereka masih menghasilkan uang.”

“A–, diam saja. Kalau begitu, Asama. Simpan gajimu. Kita bisa melakukan perjalanan begitu tabungan kita sudah cukup.”

“Hmm.”

Bolehkah...Tapi, untuk melakukan perjalanan dengan Shimabara...itu menyenangkan ketika kami melakukan perjalanan bisnis bersama, hanya kami berdua bermalas-malasan selama waktu luang kami, itu sangat menyenangkan. Bagi kami berdua untuk bepergian di luar pekerjaan, itu pasti lebih menyenangkan.

“Kau terlihat sangat senang mengenai itu, kau benar-benar bodoh Asama.”

Tiba-tiba, dia membelai pipiku dengan ujung jari yang berbau rokok. Sudah cukup untuk membuat jantungku berdebar kencang. Aku tidak pernah berpikir akan ada hari aku akan menyentuh Shimabara seperti ini...Tidak, aku pasti banyak disentuh sewaktu aku sedang tidur. Aku ingat foto itu dan menjauhkan tubuhku dari tangan itu. Merusak suasana, wajah Shimabara berubah kecewa ketika aku berpisah darinya, dia duduk di sofa dengan bunyi gedebuk.

“…Sini. Asama, duduk.”

Membujukku untuk datang, aku secara naluriah mundur. Namun, Shimabara mendecakkan lidahnya dan untuk suatu alasan, aku dengan enggan duduk di sebelahnya, meninggalkan jarak pendek di antara kami.

Di depanku adalah TV besar yang dipasang di dinding. Mengambil remote dari dudukan di atas meja, Shimabara menyalakan televisi.

『Ah, a...wa, aah...』

Tiba-tiba, suara serak seorang pria menggema di seluruh ruangan. Aku tersentak dari sofa. Orang di layar adalah aku. Aku tertidur sambil kelopak mataku tertutup. Tapi, wajahku merah padam dan tampak meleleh karena kenikmatan, kakiku terbuka lebar, dan di pantatku...sebuah jari masuk. Tidak salah lagi, itu adalah favoritku, jari maskulin itu milik Shimabara.

“Apa! Apa ini, Shimabara!?”

“Video. Aku menunjukkannya padamu.”

“Ha!? Jangan-bercanda, ini–”

“Aku tidak bercanda. Lihat saja.”

Di layar, pantatku dimainkan dengan jari. Bendaku benar-benar ereksi. Akhirnya, dia menarik jarinya, dan tangan Shimabara menghilang dari layar. Setelah beberapa saat, vibe yang kulihat di foto muncul. Seolah-olah ingin memamerkan bahwa itu basah kuyup dalam lotion, itu bergerak lebih dekat ke kamera.

“Ja, ngan...berhenti, aku tidak mau melihatnya.”

Aku mencoba memalingkan wajahku, tapi Shimabara menggenggam daguku dan menahannya. Melirik Shimabara, sebatang rokok dipegang di bibirnya yang berubah, senyum sadis muncul di wajahnya. Jantungku berdegup pada ekspresi itu. Aku tidak yakin apakah itu karena ketakutan atau sesuatu yang lain.

Di layar, jemari Shimabara menyalakan vile itu.

Vu—it, getaran mekanis mengguncang gendang telingaku. Dan begitu perubahan terjadi.

『Ah, fwah~, haa.』

“Eh, um, ah...ah.”

Aku di sisi lain layar, dan aku dengan daguku digenggam oleh Shimabara di sofa. Kedua tubuh kami berkedut. Tiba-tiba, pinggangku, tidak, bagian dalamku mulai terasa mati rasa. Meskipun aku tidak menyadarinya sampai sekarang, tubuhku menjadi panas, itu terasa sakit.

“Karena aku menggunakan vibe ini sepanjang waktu, kau sudah terbiasa dengan suara ini. Apa namanya, anjing Pavlov?”

“...Ah, hiya...”

Aku sedang tidur, tapi jelas pinggulku melayang seperti yang mereka perkirakan. Vibe menyentuh lubang merah gelap. Dan kemudian itu berubah karena terjun ke dalam.

『Ngh, hiyaa!』

Menggeliat, mataku tertutup ketika cairan berawan menyembur keluar. Memasukkan saja sudah cukup bagiku. Tapi, tidak membiarkanku beristirahat setelah itu, tangan Shimabara tanpa henti menyodorkan vibe di dalam diriku berulang kali.

『Ah, ahh, ngh, wahh.』

『Apa rasanya enak? Asama. 』

『Ahn, fwah! Ah, Shi, maa, ah, Shima, bara, nn–』

Bereaksi terhadap suara Shimabara, ekspresiku menjadi lebih santai, bahkan senyum pun muncul. Aku memiliki wajah kenikmatan yang tak tertahankan, sementara vibe Shimabara melawanku. Meskipun aku diserang dalam tidurku, itu tampak seperti...aku berhubungan seks dengan pacarku.

『Shima, baaah, hyah, fas, nngh—!』

Dan kemudian, mencengkeram seprai dan menekuk tenggorokanku, tubuhku bergetar karena kejang-kejang. Dari alat kelaminku, tampaknya bocor dan menyentak, tapi mani tidak muncul. Seperti seorang wanita yang melewati gelombang, seluruh tubuhku gemetar karena klimaks.

『 Hah! Ah, ha, ha ngh, Shimabara, ah...Shima, baraa...ngh』

『...ku, haha. Benar-benar idiot...』

Berteriak karena kesenangan yang kuat, aku memanggil nama Shimabara berulang kali. Shimabara tidak dapat menahannya, akhirnya dengan suara yang memalukan, layar menjadi gelap.

Di ruangan yang sunyi, hanya napas kasarku yang bisa didengar. Panas, tubuhku panas. Ketika aku melihat gambar itu, aku merasa sangat jijik dan mual, sekarang pun aku ingat rasa takutnya. Namun terlepas dari itu, tubuhku terasa panas dan menggigil karena hasrat.

“…Ah ah…”

“Hei, sekarang kau tahu. Asama.”

Sebelum aku bisa bertanya apa, tubuhku didorong ke sofa. Shimabara naik ke tubuhku, menghirup asap perlahan, dia menekan rokok ke asbak dan memadamkan api. Badai nafsu dan hasrat duniawi di matanya, Shimabara memandang rendahku, dan menghembuskan asap rokok. Aku melihat lidah merah basah dari celah bibirnya, aku kaget.

“...J-jangan lakukan itu. Shimabara...”

“Itu tidak akan terasa buruk.”

Ketika aku berpikir tentang bagaimana aku akan dipeluk, rasa jijik dan kemarahan yang kuat meluap dalam diriku. Shimabara mengangkangiku, aku memegang pahanya yang keras dan tebal.

“Mengancamku dengan cara ini! Pernikahan, pengantin! Berhenti bercanda! Pikirkan aku! Shimabara, ada batasnya.”

“Ha? Mengancam? Kapan aku mengancammu?”

“Yah, Shimabara, kau tahu kapan kau mengancamku! Dengan foto dan video itu!”

“Hei kau, kau benar-benar bodoh.”

Dia mengatakannya dalam keadaan putus asa, saya sangat bingung. Shimabara bangkit dari perutku dan meninggalkan ruang tamu. Kembali ketika aku masih tertegun, dia meletakkan sebuah amplop manila di atas meja.

“Kau bisa menyingkirkannya.”

“Hah?”

“Ada apa dengan wajah bodoh itu. Kau tampaknya memiliki kesalahpahaman yang aneh. Pada saat itu, tidakkah kau mendengar apa yang kukatakan ketika aku menyebarkan foto? Salinan ini hanya untuk ditunjukkan padamu, aslinya adalah koleksiku.”

“Koleksi…”

“Meski itu hanya foto, aku tidak akan menunjukkan kulitmu kepada orang lain.”

Aku tidak mengerti. Kalau kau tidak berencana mengancamku, lalu mengapa menunjukkan foto-foto itu selama lamaran, rencana apa itu. Saat aku linglung, aku tidak tahan ketika Shimabara mulai menanggalkan pakaianku. Tidak, jika dia tidak berencana mengancam, maka tidak perlu melawan.

“Lagian, kau bodoh, lebih cepat mengajari tubuhmu.”

“Ah, jangan t-tunggu, Shimabara.”

“Jangan suruh aku berhenti. Patuhi saja dan kau akan merasa enakan.”

“Ngh.”

Bibir yang ditutupi dengan aroma rokok tumpang tindih milikku. Air liurnya menahan bau yang tidak asing, lidahnya mendorong masuk ke mulutku. Aku selalu ingin mencium Shimabara. Setiap kali di area merokok, aku berfantasi tentang bibir Shimabara ketika dia merokok. Sekarang menjadi kenyataan. Dengan gembira, aku menerima lidah Shimabara, menjalinnya dengan lidahku sendiri. Shimabara juga menyukai atap mulutku dan pipi di dalam. Hidungku dipenuhi aroma Shimabara, dan kemudian ciuman yang intens berakhir.

“Puha, haa, n.”

“Fu, haa, wow. Mengejutkan, Asama. “

“Ngh, mengejutkan, ya.”

“...Aku akhirnya bisa menciummu.”

Sambil membelai pipiku, Shimabara memandang jauh saat dia mengatakan ini. aku sangat senang. Shimabara juga merasakan hal yang sama.

“Ah, Shimabara...aku merasakan hal yang sama.”

“Kalau kau menembak lebih cepat, ini akan terjadi sebelumnya. Tapi tentu saja kau tidak pernah melakukannya.”

“Jangan salahkan aku, argh!”

“Itu salahmu. Tidak ingin melakukan sesuatu yang begitu sederhana.”

Pakaian dalamku dilepas, dan kakiku terbuka lebar. Karena video dan ciuman sebelumnya, bendaku berdiri sendiri, jelas memamerkan hasratku.

“Sekarang pun...kau menginginkannya. Asama.”

Tubuhku menjadi aneh mendengar suaranya yang berbisik manis. Pantatku mengepal, dan aku tanpa sadar mengguncang pinggangku. Aku menginginkannya. Setelah melakukan hal-hal seperti gambar itu selama dua tahun, tubuhku yang berubah selama waktu itu, tentu saja menginginkan Shimabara.

“Aku menginginkanmu, aku sudah menahannya begitu lama...cukup, aku ingin memelukmu.”

“U...Shimabara, tapi...aku”

“Katakan padaku kau menginginkanku, Asama. Kau tidak perlu mengatakan apapun.”

Shimabara yang biasanya tenang sudah tidak ada, sebelum dia santai. Benda ereksi Shimabara terlihat. Itu besar dan mengesankan, aku secara naluriah membeku. Tapi, melihatnya memecahkan satu misteri lagi.

(Begitu. Karena ini sangat besar, kau meluangkan waktu untuk membuatku terbiasa.)

Prosesnya benar-benar salah, itu adalah benda yang mengerikan yang lebih seperti kejahatan. Tapi bodohnya, entah bagaimana aku bahagia. Ketika dia sedang bermain denganku ketika aku tidur, ketika aku memikirkan tentang apa yang aku alami untuk menerima Shimabara, aku merasakan kegembiraan karena itu dilakukan oleh pria yang kucintai.

“...Shimabara, aku menyukainya. Tolong peluk aku.”

Tidak membahas artinya, Shimabara berbaring di atasku, dan memelukku. Terbungkus tubuh hangat Shimabara, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan.

“Jujur juga.”

Ketika Shimabara mengangkat tubuhnya dari milikku, sebelum aku menyadarinya, dia memegang sesuatu yang berbentuk silinder di tangannya. Itu sebotol lotion.

“Di mana kau mendapatkan itu.”

“Aku meletakkannya di bawah sofa.”

Dia menyiapkan segalanya. Menyemprot isi lotion di telapak tangannya, Shimabara mengoleskannya di alat kelaminnya. Cairan berlendir membuatnya terlihat sangat cabul. Shimabara membuka kakiku, meletakkan pinggangnya di antara, dan kemaluannya memukul pantatku.

“Tsu...”

Kemudian, itu benar-benar terkubur di dalam tubuhku dalam sekali jalan.

“Ah!? Hya!? Nahhh!?”

Batang yang keras dan membakar menembus tubuhku dalam sekejap. Bunga api menyebar di depan mataku. Tubuhku membungkuk ke belakang sendiri, kakiku terbuka lebih lebar dan jemari kakiku mengangkat. Seolah-olah aku menerima sengatan listrik.

“Ah, ah, gu~ah–!!”

Pinggulku memantul. Kenikmatan yang kuat yang belum pernah kualami sebelumnya menyerbu tubuhku. Cairan panas bocor ke perutku. Benar, aku bisa. Hanya dari penyisipan.

“Haa, fuu, ah, ah”

“Wah, kencang...kau terlalu kencang, Asama...”

“Hah, na~”

“Kecewa? Kau ingin melanjutkan.”

Aku berhasil menggelengkan kepala. Meraih bahu Shimabara, aku entah bagaimana bisa menahan guncangan, dan memasuki kondisi ringan. Karena ini, bagian dalam tubuhku berkontraksi dengan erat. Karena tidak bisa bergerak, aku membuka mata lebar-lebar dan kaku.

“A-apa, itu, kenapa”

“Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak bergerak. Mengerti? Lagian kau seperti wanita.”

Syukurlah, Shimabara perlahan-lahan menarik pinggangnya, benda besar Shimabara bergesekan dengan isi perutku saat itu terlepas dari diriku. Aku merasa pingsan dengan rangsangan itu sendirian.

“Ah, ah, haah.”

“Itu wajah yang bagus, Asama.”

“I-itu, kenapa melakukan itu, Shimabara.”

“Jadi, sekarang kau mengerti.”

“Aku tidak, aku tidak mengerti.”

“Kau orang yang keras kepala. Aku menunjukkan padamu gambarnya, aku bahkan menunjukkan padamu sebuah video, tubuhmu seperti ini...mengerti, bodoh.”

Juga, Shimabara terlihat sangat malu dengan pipinya memerah. Seolah dia mengaku. Tidak mungkin. Aku menggigil memikirkan hal itu.

“Kau melihat foto-foto itu...tidakkah kau mengerti betapa aku menyukaimu? Kau, tubuhmu tidak bisa lagi menjauh dariku, mengerti? Ya ampun, karena kau begitu bodoh...aku harus mengatakannya secara perlahan kepadamu.”

Aku terkejut bahwa prediksiku benar. Untuk cinta yang sederhana, untuk mengekspresikannya, kau tidak akan dapat melakukannya tanpa semua hal buruk. Tak ada cara bagiku untuk melihat dari foto itu bahwa dia sangat menyukaiku, aku bertanya-tanya apakah dia pikir aku akan senang dengan itu.

“Mengembangkanmu saat kau tidur adalah hukuman. Yakinlah. Mulai sekarang, aku akan mencintaimu saat kau bangun.”

“Itu aneh, Shimabara! Pertunjukan kasih sayang Shimabara sangat aneh!”

“Ha? Itu normal.”

“Itu tidak normal, ah! Agh, ng, berhenti, m-minggir.”

Poros yang ditarik didorong kembali. Dengan itu, bintik-bintik hitam muncul di depan mataku. Shimabara memulai ritme yang mantap, dan aku tidak bisa lagi berbicara dengan benar. Setiap kali Shimabara masuk, arus kenikmatan yang kuat membanjiriku.

“Ah, hai, hya, ya, yaa, ahh.”

“Kalau itu tidak normal. Entah itu normal atau tidak, tidak ada orang lain yang memutuskan. Kau harus mengerti. Kau adalah penerima. Itu alami.”

“Naaah, Shimaaaa! Aku, waaa!”

“Karena kau adalah istriku.”

Ketika Shimabara tampak seperti ini, aku merasakan kekalahan. Aku orang yang jatuh cinta dengan pria aneh ini.

“Ah, me-menerima untuk Shimabara, fuah! Aku, seperti ahhh!”

“Haa, idiot ini, bodoh.”

“Ah, keluar! Cukup, Shimabara, Shimabaraaah!”

“Ahh, tiba-tiba...ngh”

Ditusuk dalam-dalam, aku menempel pada tubuh Shimabara saat aku mencapai klimaks. Rasanya seperti otakku korsleting. Tubuhku berputar-putar seperti ikan, Shimabara memelukku kembali. Goyang beberapa kali. Aku berteriak dan menjerit karena kenikmatan luar biasa di dalam, lalu Shimabara melepaskan hasrat panasnya. Batang Shimabara berdenyut di dalam diriku, tubuhku menegang di sekitarnya. Aku tidak ejakulasi. Dari klimaks dalam yang belum kualami sebelumnya, tubuhku mati rasa. Sungguh, itu seperti perempuan.

“Tsa...wa–...haaa...”

“...Ku...haa...ahaha, akhirnya aku bisa memelukmu. Asama...melihat wajah cabulmu saat bangun, itu yang terbaik.”

“Ngh, Shima, baraa.”

Sambil memeluk, kami melahap bibir. Tangan Shimabara dengan lembut menyisir rambutku. Dan aku dengan lembut membelai punggung Shimabara. Melakukan ini, aku sangat bahagia. Dipeluk oleh orang yang membuatku memiliki cinta tak berbalas, aku dipenuhi dengan cinta dan sukacita.

Setelah berpelukan sebentar, Shimabara menarik keluar. Mengambil tisu dari meja, dia menyeka tubuh bagian bawahku. Lalu dia menyalakan sebatang rokok. Aku menyaksikan pria yang memelukku merokok. Seolah menyerupai seorang wanita. Namun, aku merasa ini baik-baik saja.

“Dokumen, belum ditulis.”

Shimabara meludahkan kata-kata itu bersama dengan asap. Omong-omong, aku belum menyerahkan pendaftaran. Karena itu pernikahan yang berjenis kelamin sama dan bukan pendaftaran pernikahan biasa, itu adalah dokumen berdasarkan hukum Kemitraan nasional.

“Kami benar-benar sudah menikah...”

“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu pergi seumur hidup ini. Selain itu, kau sudah menyadarinya kan? Kau tidak bisa hidup tanpaku.”

Itu memalukan, tapi benar. Aku memalingkan muka dari Shimabara dan mengangguk kecil. Shimabara tertawa senang.

“Setelah menikah, selanjutnya adalah seorang anak...”

“Hah!? A-anak, apa kau serius!?”

“Aku memikirkannya dengan serius. Jika tidak, mengapa aku membeli rumah sebesar ini? Mungkinkah kau tidak menyukai anak-anak?”

“B-bukan karena aku tidak suka anak-anak. Apa kita akan mengadopsi?”

Shimabara yang meniupkan asap tembakau, dengan senang menyipitkan matanya. Perlahan-lahan, aku menjadi takut pada senyum Shimabara.

“Meskipun mengadopsi akan baik-baik saja...ada prioritas untuk melahirkan anak laki-laki dengan menggunakan rahim buatan, itu sedang dikerjakan. Untungnya, aku memiliki koneksi dengan seorang dokter di perusahaan farmasiku sebelumnya. Orang itu bilang bahwa lima tahun kemudian kita akan dapat melakukannya di Jepang.”

Di tempat dia berada beberapa saat yang lalu...di perutku, jemari Shimabara merangkak di atasnya.

“Karena kau sudah bangun, kita bisa melakukannya dengan benar. Ayo lakukan yang terbaik untuk 『perawatan infertilitas』 ini bersama-sama...Asama.”

Di tempat di mana jemari Shimabara bersentuhan, jika suatu hari rahim ditanam, aku akan bisa membuat anak dengan Shimabara. Seiring dengan rasa takut dan cemas, ada kegembiraan yang meningkat. Ternyata, aku juga tidak terlalu normal. Shimabara telah mengubah tubuhku, aku bertanya-tanya apakah dia telah memutarbalikkan etikaku juga. Sementara mengalami perasaan yang mirip dengan penerimaan, aku mengangkat tubuh. Lalu, aku mengambil rokok yang dipegang Shimabara dan membawanya ke mulutku.

“Tentu, Shimabara...kalau itu maumu.”

Dengan mulutku dipenuhi asap, aku mencium Shimabara. Asap manis memenuhi paru-paru kami.

“...Duh, sepertinya kita diikat oleh rokok.”

Saat Shimabara mengatakan hal yang memalukan, aku memanaskan tubuhku. Perlahan didorong ke sofa, aku ditelan pusaran kenikmatan.

Aku ditahan berkali-kali ketika diselimuti oleh aroma asap dan cinta Shimabara, benar-benar menjadi istri Shimabara.
MARI KOMENTAR

Share:

Psychopath Shimabara Series 1

on  
In  
Sebatang Rokok dan Lamaran

Harga rokok meningkat dalam upaya untuk mencegah orang lain merokok di restoran atau perusahaan lain. Saat ini, perokok memiliki tempat yang sangat sedikit. Sedikit orang merokok di perusahaan, area yang ditunjuk biasanya kosong. Sejujurnya, kupikir lebih baik seperti ini. Aku melangkah ke dalam kotak kaca yang merupakan area merokok yang ditunjuk, hanya ada satu orang lagi di sana, dia membuka sebungkus rokok baru. Ini bagus. Hanya kita berdua hari ini.

“…Yo.”

“Ah.”

Seperti biasa, dia menyapa dengan singkat. Aku bersandar di dinding sambil menghadapnya, di antara kami ada unit pengisap asap besar dan asbak.

“Lama tidak bertemu, Shimabara. Bagaimana Amerika?”

“Ah. Lumayan, aku harus menjadi pemegang bagasi direktur eksekutif sialan.”

“Itu bagus. Aku ingin pergi ke Amerika juga.”

“Bagus atau tidak. Aku malah suka di sini... Hei, Asama. Bagaimana perjalanan bisnis ke Nagano bulan lalu?”

“Ah, itu menyenangkan. Aku punya waktu luang untuk pergi ke Ueda.”

Merusak ketenangan dalam percakapan, Shimabara mengetuk bagian bawah ranselnya dan mengeluarkan sebatang rokok. Dia memegangnya dengan jemarinya yang panjang. Kemudian membawanya ke mulutnya dan memegangnya di bibirnya yang tipis. Wajah Shimabara yang biasanya tabah memiliki sedikit bahaya, itu diperkuat oleh rokok. Dia tampak seperti seorang gangster.

“Benar juga, Asama. Aku sedang berpikir untuk menikah.”

Otakku membeku mendengar perkataannya. Mataku berkedut, dan napasku sepertinya berhenti. Aku akhirnya bisa berkata “He~h” dengan suara datar.

“Kau punya pacar. Aku tidak tahu. Kapan itu?”

“Belum ada waktu. Itu bodoh... Yah, aku belum melamar. Aku melakukannya setelah ini.”

“He~, aku mengerti. Apa yang akan kau katakan? Sudahkah kau memutuskan?”

Sejujurnya, aku tidak ingin mendengarnya. Tapi, saya harus bertanya. Menyedihkan, hal seperti ini: Aku tidak mau perasaan jahatku diketahui. Aku selalu... menyukai Shimabara. Sudah tiga tahun. Sejak Shimabara berganti pekerjaan dan mengambil alih sebagai kepala departemen penjualan. Awalnya, aku tidak merokok, aku hanya ingin alasan untuk berbicara dengan Shimabara, aku telah belajar cara merokok pada usia 30 tahun. Aku akan mengunjungi area merokok setiap hari untuk bertemu Shimabara, dan akhirnya menjadi kebiasaan. Aku menyukai rokok sekarang.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”

“Apa, apakah itu kejutan? Seperti flash mob atau semacamnya.”

“Jangan bodoh. Aku akan melakukan sesuatu... lebih sederhana.”

Dia memegang korek api di ujung rokoknya, ujungnya menyala, bau asap datang dari rokok Shimabara. Shimabara mengangkat rokok dari sudut mulutnya.

“Sebatang rokok, aku akan selesai memberitahumu sambil aku merokok.”

Ekspresiku jelas mencurigakan, jantungku berdebar kencang. Aku iri pada orang yang akan menerima lamarannya. Tapi, aku sengaja memasang wajah tidak puas.

“Jangan merokok selama cerita penting.”

“Orang itu suka kalau aku merokok.”

Aku juga menyukai penampilan Shimabara ketika dia merokok. Sikap ketika dia mengambil rokok di antara jemarinya dan menuju mulutnya, ekspresinya yang santai ketika dia mengisap asap, dan bentuk bibirnya ketika dia mengisapnya. Aku suka semuanya. Tapi... sepertinya ada seseorang yang lebih menyukainya daripada aku.

“He~ ...gadis itu. Apa aku mengenalnya?”

“Entah.”

“Hei, jangan begitu. Ini kekanak-kanakan, katakan padaku.”

“...tidak banyak yang bisa kukatakan padamu, selain itu mereka bodoh.”

“Bo... mengatakan sesuatu tentang itu padanya... serius? Tidak modis untuk menghina calon istrimu seperti itu.”

“Diam. Bagaimana lagi kau bisa mengucapkan bodoh.”

Tidak senang dengan pembalasanku, Shimabara menghembuskan awan asap di wajahku. Walau aku batuk, itu membuatku sedikit senang. Kami tetap seperti ini selama beberapa menit, mengisap rokok kami dan terlibat dalam obrolan kosong, kadang Shimabara akan mengejekku. Hubungan seperti ini lumayan. Tapi, jika dia akan menikah... aku tidak akan datang ke sini lagi. Itu akan membunuhku.

“Bagaimanapun juga. Mereka diam mengenai cinta denganku sangat lama.”

“He~h.”

Rokoknya sudah setengah jalan, cahaya merah menyala mendekati bibir Shimabara. Untuk pertama kalinya, aku berharap api akan cepat menyala. Aku tidak ingin mendengarnya. Aku tidak ingin mendengar tentang wanita yang mengambil Shimabara dariku.

“Orang itu akan menatapku dengan mata menyala setiap hari. Kupikir mereka akan menembak, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa.”

“Eh? Bukankah kalian pacaran?”

“Tidak.”

“Hah? Tapi kau akan menikah.”

“Ah, baiklah. Kami tidak perlu pacaran buat menikah.”

“Geh.”

Shi-Shimabara, apa yang kau katakan? Dia memiliki keyakinan mutlak bahwa pihak lain tidak akan menolaknya. Untuk menghilangkan periode yang ditunggu-tunggu, manis dan asam dari hubungan yang mekar, aku merasa sedikit kasihan padanya.

“Apa yang akan kau lakukan kalau kau ditolak?”

“...Ha, lucu.”

Penuh percaya diri, Shimabara merogoh saku jasnya. Dia mengeluarkan sebuah amplop manila. Apa...jika itu Shimabara, mungkinkah itu hasil penyelidikan yang dilakukan padanya. Ha, mana mungkin.

“Aku tidak mengerti mengapa mereka menolak. Mari kita menikah? Aku ingin menghabiskan seumur hidup bersamamu di sisiku. Kau harus membuat persiapan yang diperlukan.”

“...Tidak, biasanya bukankah kau pacaran dulu...”

“Aku bersedia pacaran dengan mereka, tapi mereka tidak menembakku. Itu juga bukan caraku melakukan sesuatu.”

“Hei! Pertama-tama, Shimabara, apa kau benar-benar menyukainya?!”

“Sudah jelas aku suka.”

Tidak, aku tidak merasakan cinta sama sekali. Aku benar-benar mulai mengasihani gadis itu. Aku penasaran kenapa...Shimabara melemparkan amplop itu. Beberapa lembar kertas jatuh ke lantai. Aku melihat ke bawah... dan membeku.

Itu adalah foto.

Dan itu.

“Cepat ambil. Bagaimana kalau orang lain masuk.”

Aku tidak bisa memahami situasinya. Menatap foto di dekat kakiku, aku tidak bisa memalingkan muka, atau membungkuk dan mengambilnya. Shimabara terkekeh melihat rupaku yang terpana.

“Kau sangat fotogenik. Yang itu dari Nagano.”

Ya, itu fotoku. Aku tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Itu diambil dekat kakiku, wajahku memerah dengan air mata di sudut mataku, air liur keluar dari mulutku. Di antara kakiku...itu. Aku tahu apa itu, tapi aku belum pernah melihat vibrator anal sungguhan sebelumnya. Lubangku memerah dan mulutku terbuka. Warna daging dinding ususku terlihat. Bendaku ereksi, dan perut bagian bawahku basah karena air liur dan pra-ejakulasi, rasanya aku sedang dihukum.

“...Shi....ma...bara.”

“Ah, itu sekitar dua tahun yang lalu. Setiap kali aku melakukan perjalanan bisnis denganmu, aku akan mencampur obat tidur di sakemu. Butuh beberapa saat untuk membinamu, tapi mungkin tidak ada salahnya kalau aku mengatakannya sekarang.”

“...Ap...eh...”

“Pada awalnya, sulit untuk memasukkan bahkan satu jari... sekarang cukup longgar untuk menerima vibe. Belakangan ini, kau bisa mengalami orgasme kering. Aku tidak sadar bahwa kau bisa begitu feminin. Bahkan menyebut namaku dalam tidurmu seperti wanita. Aku punya video yang bisa kutunjukkan nanti. Sejujurnya, aku tidak harus melakukannya dengan cara ini, kan? Tapi, kau terlalu keras kepala dan tidak akan pernah menembakku. Itu menyiksa. Tapi, aku mencapai batasku. Pada akhirnya, tanpa sadar aku mengikuti apa yang diinginkan hatiku. Dan yah, aku ingin memelukmu.”

Ini tidak nyata. Dalam keadaan bingung, aku mengambil amplop. Ada banyak foto di dalamnya. Semuanya aku. Shimabara tidak ada di salah satunya. Seperti yang dia katakan, dia sepertinya belum memasuki tubuhku sendiri. Hanya aku yang telanjang dengan mainan, maniku bocor ke ranjang. Aku mengumpulkan foto-foto di lantai dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.

“Ke-kenapa, seperti ini.”

“Yah... kau mengerti.”

Untuk suatu alasan, Shimabara tersipu dan terlihat agak gugup. Lalu dia mengeluarkan ujung sebatang rokok. Menggoyang ringan, kiri dan kanan, seolah-olah pamer.

“Ah, aku sudah selesai. Asama, ini lamaranku. Kau hanya perlu menjawab ya.”

Shimabara melemparkannya ke asbak dan apinya padam oleh air di dalamnya. Dengan aroma tembakau yang melekat, aku menatap ujung jari Shimabara. Tangan ini, tanpa sepengetahuanku, itu...

“Hei, Asama... apa kau memperhatikan? Kau lupa merokok.”

Aku mengangkat kepalaku mendengar suaranya yang humoris. Shimabara bersandar di dinding dengan lengan terlipat, seringai di wajahnya.

“Aku akan menunggu balasanmu saat kau selesai.”

Untuk menunda jawaban yang sudah jelas, aku mengambil sebatang rokok dengan tangan bergetar. Aku takut, marah, terkejut...dan bahagia, aku menghirup asap manis. Semuanya berjalan sesuai rencana Shimabara. Kehidupan pernikahanku dengan pria jahat ini, sepertinya tidak begitu manis.
MARI KOMENTAR

Share: